Wednesday, January 23, 2013

DIBALIK KABUT MALAM

Kulihat langit masih cerah dengan cahayanya. Bintang-bintang masih setia menebar pesonanya mengelilingi wajah rembulan yang sudah tampak tua itu. Gemerisik angin menari-nari menggoyangkan pohon cemara depan rumah kontrakan. Seolah mereka menyambut kedatangan tamu istimewa. Entah… ratu setan, atau mungkin malaikat. Sentuhan halusnya yang menggerayangi sekujur tubuhku membuat bulu kudukku semakin lama semakin merinding. Sejenak kutengok jarum jam yang berdetak tak kenal lelah sudah menunjukkan pukul 2.00 dini hari. Bergegas aku melangkahkan kaki kedalam rumah. Satu persatu kuperhatikan teman-teman yang tidur tercecer-cecer laksana deretan ikan tongkol yang sedang dijemur. Meskipun terlihat seperti kumpulan proletar yang berserakan dipinggiran kota, aku melihat senyum kebahagiaan menyelimuti raut wajah mereka.
Dari dengkurannya yang berirama, mungkin mereka sedang menikmati mimpi-mimpi indahnya pagi ini. Renungan-renungan sufistik tentang cinta akhir-akhir ini bisa jadi menjelma menjadi bunga-bunga  yang bermekaran ditaman impian mereka. Ah… aku agak geli juga teringat argumentasi Irfan al-din. Luapan asmara pria berkacamata ini pada gadis Gunung Kidul itu sungguh mempengaruhi seluruh aktivitas dan cara berpikirnya akhir-akhir ini. Tiap hari ia hanya merenung, menulis dan entah berapa puluh lagu yang telah ia ciptakan.
 “Biarlah aku menghadirkan sesuatu yang tidak dikenal dengan apa yang sudah dikenal mas Wira..”
Aku hanya tersenyum saja mendengar setiap apa yang dituturkannya. Cinta memang sesuatu yang tak mungkin aku lawan dengan rentetan argumentasi ilmiah. Ia hadir, merasuk kedalam sel-sel darah, kemudian merasuk dalam gelombang otak hingga akhirnya menjalankan system kerja tubuh kita. Mungkin hanya itu yang bisa aku definisikan tentang apa yang dirasakannya. He.he.. kayak kerasukan setan aja..
“yach… aku memang sedang kerasukan! Dan sebagaimana saran mas Wira, aku sedang, dan akan selalu menikmatinya”
Itulah sanggahan ataupun jawaban Irfan ketika sesekali aku mengejek perilakunya itu. Sebenarnya aku tak bermaksud meremehkan apa yang menjadi kegalauannya itu. Aku hanya tak punya jawaban yang pasti. Seringkali memang, teman-teman curhat ke aku tentang berbagai permasalahan kehidupannya. Aku selalu menawarkan solusi-solusi taktis dan deretan argumentasi yang masuk akal. Tapi untuk kasusnya, aku tak bisa berbuat banyak. Pada suatu ketika, akhirnya ia menyadari bahwa sesungguhnya dirinya mencintai salah seorang sekretarisnya di organisasi. Kebetulan Maya, nama si gadis itu dulu adalah  teman sekelompok ku ketika KKN. Menurutku, ia memang baik. Cocoklah untuk berpasangan dengan Irfan. Ia orang lapangan yang cekatan mengerjakan hal-hal taktis, sedangakan Irfan adalah pemikir ulung. Ia ceria dan banyak bicara, sedangkan Irfan seorang pendiam. Sungguh, mungkin mereka bisa mejadi pasangan yang serasi. Tapi seringkali, nasib itu tak bisa se-serasi keinginan seseorang. Sebagaimana cinta, ia tak semudah ide-ideku yang kutuliskan dalam cerita ini. Ia abstrak! Bahkan lebih abstrak daripada gugusan mimpi-mimpi yang mungkin saat ini dibangun Irfan dalam tidurnya. Dan kemudian pecah berantakan sebelum ia membentuk sebuah materi. Seperti embun yang menguap terkena sinar mentari. Begitu pula seperti Irfan, ia harus segera menyadari kenyataan cintanya bersamaan ia menguap besok pagi.
“Dengar-dengar.. Maya sudah punya calon mas..”
“Ohya? Sejak kapan kamu tahu hal ini? Memang beberapa waktu lalu aku juga mendengar gosip ini. Tapi aku nggak enak menanyakannya padamu”
“Sudah lama juga sih sebenarnya, tapi lama-lama aku juga nggak bisa tahan dengan perasaan ku yang semakin menggumpal!”
“Lha trus….”
“Ya sebagaimana sering mas bilang: aku akan menikmatinya. Aku ingin melihat sejauh mana ia akan bertingkah dalam jiwaku. Aku akan meng amat amatinya. He.he.he.”
“Yei… masak Cuma sebatas itu? Jika cinta itu boleh dikatakan teori, kau harus mempraktekkannya dalam realita. Itu baru bisa dikatakan Klop! Itu baru bisa dikatakan bahwa ide dan realita bisa disatukan, selanjutnya… perubahan akan bisa dilakukan. Kalau Cuma seperti yang kamu lakukan: merenung, gelisah…. Kapan aksi bisa digelar?”
“Ah… Mboh lah mas, aku lagi nggak mood diskusi tentang Revolusi! Aku lagi ingin bercengkrama dengan perasaanku. Satu hal yang tak boleh terdengar ditelingaku hari-hari ini adalah: organisasi, aksi dan revolusi. Dari siapapun! Termasuk Mas Wira! Titik..!”
 “Yei… PD..! siapa juga yang ngajak diskusi revolusi! Aku tu sedang ngomongin cintamu itu Lho.. perasaanmu itu yang perlu direvolusi. Cintamu itu harus di praksis-kan. Agar kamu bisa menimati anggur manisnya”
“Bukankah apa yang kulakukan; menulis, menuangkan gagasan-gagasanku serta menulis kumpulan puisi dan bikin lagu ini adalah rangkaian praksis mas? Tidak-kah itu cukup mewakili arti kata praksis itu mas? Bukankah karya-karya manusia itu hakekatnya adalah manifestasi cinta? Bukankah mas sendiri yang bilang, bahwa kata Karl Marx: ‘…apa yang menjadi esensi dari seluruh aktivitas dan pekerjaanku tiada lain semata-mata untuk memenuhi kebutuhanmu, dan sebagai imbalannya, aku akan mendapatkan pikiran dan perasaanmu..’ yang kemudian itu menjadi doktrin dalam sistem sosialisme secara tidak langsung?“
“Hmmm… bukan itu maksudku.. itu beda konteksnya. Maksudku, kalau kamu itu bener-bener mencintai Maya, ya udah: di tembung aja. Kalau nggak mau, kejar terus… masih nggak mau juga, tergantung kamu mau pake cara apa: pake analisis Materialisme-Dialektika-Historis atau pake itu… kamu bisa ambil 2 buku besar warna biru dan hitam itu. Itu kitab saktiku. Disana ada ratusan kumpulan japa mantra, pelet atau santet sekalipun. Komplit pokoknya. Dijamin Tok cer! Sederhana sekali to?”
“He.he. mas..mas… kamu itu nggak konsisten dengan nasehatmu kemarin. Sebagaimana kata Karl Marx tadi itu Lho, cinta itu memberi. Bukan meminta. Termasuk bukan memintanya untuk menjadi kekasihku. Aku sudah cukup bahagia bisa mencintainya. Dan aku akan memproyeksikannya keseluruh penjuru jagad raya ini. Dengan tulisanku, dengan puisiku, maupun dengan lagu-laguku. Ataupun bahkan dengan semangat cinta itu aku akan bisa antusias mengerjakan segala sesuatu. Bukankah konsep cinta yang ‘memancar’ seperti itu yang diajarkan agama? Bukankah ‘Amal’ itu adalah manifestasi cinta pada Tuhan? Suatu tindakan yang lahir karena Khouf dan Roja’ pada Tuhan. Aktivitas yang muncul karena landasan ‘Takut’ dan ‘harap’ atas kasih sayang Tuhan.”
Aku terdiam. Aku termenung sejenak. Diam-diam aku bergumam ‘dahsyat juga pemahaman Irfan ini..’ Aku seperti tersadar bahwa cara berpikirku yang Materialis ini rupanya telah tersesat jauh. aku rupanya telah terperosok dalam pemahaman “materialis’ seperti yang dimaknai banyak orang. Bukan lagi berpikir berdasarkan ‘kenyataan’, tapi sudah menjelma menjadi bagaimana mendapatkan ‘materi’. Berpikir bagaimana mendapatkan sesuatu yang aku inginkan. Apapun caranya! Aku diam-diam telah terjebur dalam ide ‘menghalalkan segala cara’ ─ meskipun aku belum pernah melakukannya. ‘Astagfirulloh…!’. Aku rupanya aku telah mengkhianati seruan-seruanku dalam forum-forum diskusi dengan kawan-kawan organisasi.
“yang harus kalian cam-kan sejak dini adalah bagaimana kalian bisa menghargai, menikmati dan menyetubuhi proses dialektika kalian bergelut dengan realitas. Jangan sekali-kali kalian memburu hasil! Karena itu hanyalah dilakukan oleh seorang pecundang yang naïf! Proses, dengan sendirinya akan menentukan sejauh mana sebuah hasil bisa diraih. Kalau proses kalian berkualitas, kalian pasti akan mendapatkan hasil yang berkualitas pula. Dari situlah kalian akan menemukan jiwa-jiwa yang memancar. Kalian akan menjadi nilai itu sendiri. Kemudian tindakan-tindakan kalian akan memberi manfaat pada orang lain, pada alam dan seluruh umat manusia. Hasil, memang seringkali tidak seperti yang kita inginkan sebelumnya. Karena ia memang bukan buah dari pikiran kita. Ia hadir sebagai Kristal dari materi-materi yang kita negasikan. Dan yang pasti, ia akan memberi manfaat bukan hanya pada dirimu sendiri. Bu kan hanya pada rakusnya kepentinganmu. Ia akan memancar menjadi rangkaian karya.”
Huff… ya Alloh.. aku menekan kepalaku dengan kedua tanganku. Sambil bersandar pada gawang pintu kamar aku berselonjor lunglai. Aku seakan tak mampu menatap sekelilingku. Sampah-sampah makanan dan buku-buku yang berserakan seolah-olah berkumpul membentuk barisan demonstran yang berteriak-teriak mengutukiku. Aku menyadari bahwa semenjak kehidupanku yang kacau akhir-akhir ini, aku telah kehilangan kendali. Aku seringkali berpikir mekanis. Aku sering tergiur keinginan-keinginan sesaat. Bahkan beberapa kali terbersit rencana-rencana culas. Aku tiba-tiba merasa menjadi orang yang sama sekali tak berguna. ‘Sial! Masalah cinta saja aku nggak ngerti..bagaimana akau akan membangun sebuah peradaban?” aku bergumam lirih. Cicak-cicak di dinding yang berkejar-kejaran dengan pasangannya seolah ngece aku. Mereka seolah memamerkan indahnya sebuah kemesraan. Mereka seolah menunjukkan padaku arti berbagi. Mereka seolah membelalakkan mataku bahwa dengan cinta waktu bisa ditundukkan. Siang maupun malam adalah sama. Tak ada saat istirahat untuk melayani ‘sang cinta’. Pergumulan kemesraan untuk selalu melayani seolah membuat hidup selalu bergairah.
Aku berjalan menuju pintu depan. Dengan perlahan, kubuka pintu kontrakan yang sudah agak rapuh itu. Kuambil wadah tembakau dari plastik kresek hitam yang sejak tadi tergeletak mengganjal pintu.  Perlahan rokok Lintingan telah terselip dijemariku. Kepulan asapnya yang kadang kuhembus keras, memecah keheningan dini hari. Seiring anganku yang terus menerawang kegelapan malam. Segelap gambaran hidup dan cita-cintaku dimasa depan.
®®


No comments: