Dua hal untuk membuat revolusi; massa yang tidak puas
dan suatu elit yang berkepala batu
(Chalmers Johnson)
Aku tak percaya kalian bisa meruntuhkan kekuasaan yang busuk. Bahkan aku tidak yakin kalian punya nyali untuk membangkang terhadap setiap kebijakan yang menindas. Hampir semua modal kalian habis direbus oleh rasa takut dan cemas. Takut akan kelaparan membuat kalian jadi manusia yang menumpuk-numpuk laba. Tanah rakyat mana lagi yang akan mereka sita untuk membangun pusat perbelanjaan, hotel, lapangan golf, perumahan mewah atau tempat hiburan. Apa yang sudah kamu lakukan terhadap penggusuran yang tiada henti, kecuali hanya melakukan demonstrasi! Cemas akan kemiskinan membuat kalian begitu pongah untuk menaikkan harga apapun dan menjual semurah-murahnya kekayaan alam yang kalian miliki. Tunjuk kepada kami mana kekayaan alam yang masih dimiliki oleh rakyat: hutan, batu bara, minyak, gas alam hingga udara sekalipun mereka juali. Menjijikkan melihat mereka bisa berjabat tangan dan sempat-sempatnya untuk tersenyum ketika meminta tambahan hutang luar negeri. Apa yang bisa kalian lakukan, wahai saudaraku yang mengaku aktivis dan rakyat merdeka?
Aku hampir tak percaya ketika kalian hanya diam menyaksikan para anggota parlemen yang dengan pongahnya menaikkan gaji. Aku hampir sulit menerka dibuat dari ‘bahan’ apa perasaan dan jiwa kalian: ketika ada antri BBM mereka hanya bilang, beli karcis bioskop aja antri apalagi BBM; ketika ada kenaikan gas elpiji cukup katakan, kalau ndak kuat beli ya ndak usah beli. Apa yang kalian lakukan mendengar pembicaraan yang ‘kotor dan dusta’ ini? Seorang anak muda dari partai yang mengaku kumpulan orang-orang bersih, ketika BBM diubah harganya dan partainya setuju, anak muda ini dengan gampang berkomentar: ini politik bung! Hebat sekali anak muda ini mendefinisikan politik! Politik baginya: mana keputusan penguasa yang menguntungkan partai kita dukung walau itu merugikan rakyat. Anak muda yang tampaknya tak pernah baca sekalipun risalah politik yang ditulis oleh Imam Khomeini hingga Nicollo Machiavelli. Saya duga ia pun tidak kenal dengan dua nama itu. Saya yakin ia susah membedakan mana rakyat dan mana konstituen partai. Mengapa kebodohan dan sikap naif begitu cepat menyebar di pundak para politisi muda yang lebih suka memakai dasi itu? Dan anak muda itu begitu cepat menjadi tua dan bodoh dalam memahami realitas politik. Apa yang bisa kalian lakukan melihat politisi tolol semacam ini?
Makanya aku tak percaya anak-anak muda disini bisa melawan. Otot-otot kekar itu hanya bisa digunakan untuk menjadi tenaga keamanan. Mengamankan perusahaan atau mengamankan yang membayar. Kalian bisa sadis memukuli sesama teman yang dituduh komunis atau menjadi pengikut aliran sesat. Mulut kalian begitu gampang mencaci tiap orang yang tidak tertib atau menganggu keindahan. Mulut yang mahir berdebat itu hanya bisa digunakan untuk kampanye dan berbohong. Otak kalian yang berisi banyak teori itu kemampuanya sekedar meng- analisis dan menebar angket. Orang miskin dan rakyat kecil kalian jumlahkan, lalu dibuat grafik kemudian jadilah kesimpulan. Ketampanan dan kecantikan yang kalian miliki hanya berharga ketika meng-iklankan produk sabun, sikat gigi, shampo, odol, minuman penyegar, obat sakit perut dan pengharum bau badan. Jiwa-jiwa muda yang harusnya berani, kreatif dan berpihak telah layu menjadi makhluk yang gampang di-apakan apa saja: asalkan dibayar! Pesan apalagi yang bisa kami teriakkan pada kalian, kaum muda yang telah patah nyalinya dan bebal empatinya. Wasiat apalagi yang bisa dituliskan pada anak-anak muda yang bisanya hanya berpikir: ada-tidakkah ketombe di rambutku?
Jika kau tanya apa revolusi bisa ditegakkan dengan teori? Maka jawabku teori-pun kamu tidak miliki. Ilmuwan yang sibuk seminar dan pangkatnya sebagai staf ahli hanya bisa menjadi budak penguasa. Alibi mereka macam-macam: saatnya masuk ke gelanggang, waktunya kebijakan kita yang pegang, ini sekedar taktik untuk memenangkan kepentingan kita. Itu hanya dalih saudaraku! Pada dasarnya kebutuhan mereka hanya satu: mendapat jabatan, uang dan kekayaan. Sisa yang lain kemudian hanya mempraktekkan demokrasi dalam pentas: pelatihan, worskhop, training atau proyek pengorganisiran. Coba bayangkan: jutaan penduduk negeri ini yang bisa mengenyam pendidikan tinggi tapi tak satupun karya intelektual besar lahir dari sana. Bayangkan, berapa banyak LSM yang dialiri dana hingga milliaran rupiah tapi tak satupun yang bisa membawa perubahan besar. Kutanya kalian orang yang mengaku sebagai kaum cendekiawan: teori perubahan sosial apa yang kalian bisa tawarkan kepada jutaan rakyat yang kini jatuh miskin. Kutanya kalian aktivis LSM: berapa banyak uang yang sudah kamu dapatkan dan apa yang mampu kamu bisa ubah dari realitas sosial yang kian membusuk ini? Hanya dengan bilang bahwa demokrasi perlu ditegakkan itu sama halnya dengan memberi khutbah buat orang yang lapar. Hanya dengan bilang pendidikan itu harus diubah methodologi sama halnya dengan menggarami air laut. Masalahnya ada di dalam diri kalian, yang malas dan begitu memuja kekayaan, kelompok dan popularitas. Masalahnya ada dalam organisasi kalian yang selalu bergerak kalau ada aliran uang. Masalahnya ada dalam proses kaderisasi yang tidak disiplin dan saling mencaci. Masalahnya ada dalam struktur gerakan kalian yang gemuk dan tanpa imajinasi! Masalahnya mungkin, kalian terlalu lama bersekolah dan lupa bahwa tugas pendidikan itu membebaskan rakyat, bukan membebaskan diri kalian sendiri!
Kau bilang kita punya sistem yang demokratis saat ini dan itu merupakan modal besar untuk perubahan. Saudaraku jangan sesekali kalian dikelabui oleh slogan dan kata-kata bijak. Ingatlah saudaraku antara khutbah dan tipuan kini batasnya tipis sekali! Kemaren kalian ramai-ramai ikut Pemilu dan foto para penguasa itu kalian puja-puja. Kini orang yang fotonya kalian usung itu telah memberikan apa untuk kehidupan sehari-hari? Orang yang kalian dulu bela habis-habisan dan kaos yang bergambar dirinya kalian pakai itu telah menyumbangkan apa bagi pendidikan anak-anak kalian? Memang Demokrasi tidak bisa memuaskan semua orang, tapi tak bisakah demokrasi melepaskan kalian dari belenggu derita yang sudah melekat puluhan tahun? Tak mampukah demokrasi itu memberikan lapangan pekerjaan, pendidikan dan kesehatan yang berkualitas untuk kalian. Hidup memang butuh kesabaran, tapi jangan sampai kalian tidak bisa membedakan, antara sabar dan rasa takut! Kemenangan-kemenangan kecil kebebasan memang patut disyukuri tapi jangan sampai kalian melupakan pertanyaan-pertanyaan dasar yang menyangkut hidup kalian saat ini. Bagaimana pendidikan anak-anakku di masa depan? Pekerjaan apa yang layak untuk mereka di masa mendatang? Kalau anak istriku sakit bagaimana aku yakin dapat perawatan tanpa terkena beban biaya yang mahal?
Saudaraku jangan mudah terpesona oleh gemerlap kata-kata yang menyuruhmu bersabar. Kini ada banyak orang yang tidak sekedar menjual barang tapi juga memperdagangkan firman-firman Tuhan. Mereka pintar sekali menggunakan ayat-ayat Tuhan untuk menentramkan hati panas kalian. Cerdik sekali mereka pilah-pilah firman Tuhan: mana ayat yang tepat untuk mengutuk para pemberontak dan mana firman yang memuja kebijakan yang culas. Revolusi sesungguhnya bisa meletup kalau rohaniawanya mempunyai nyali. Berbuat baik saja tidak cukup tapi harus dilandasi oleh keberanian. Agama tegak bukan hanya oleh kata-kata dan isak tangis, melainkan juga pengorbanan dan kerelaan untuk melawan. Tidak ada utusan Tuhan yang tidak berkeringat darah. Sejak Ibrahim hingga Muhammad agama itu besar karena para pengikutnya tidak hanya mempraktekkan kesederhanaan hidup tapi juga berani memberontak melawan kezaliman. Partai yang mengaku isinya orang baik di tengah sistem politik yang cacat sama halnya dengan partai yang berisi komplotan bandit. Jangan lupa, korupsi haji membuat kita kemudian disadarkan dengan kesimpulan dasar: bahwa orang baik di tengah timbunan uang yang tanpa kontrol bisa terjerembab jadi orang jahat yang penuh alibi!
Saudaraku yang kini sedang susah. Tempaan kenyatan apalagi yang bisa kamu terima dengan tabah: setelah harga bensin melonjak naik, setelah harga makanan ikut terangkat, setelah kekayaan alam dikuras habis, setelah gaji para penguasa naik berlipat-lipat. Sedang kalian melihat betapa koruptor yang disidang di pengadilan itu duduk tanpa malu, bahkan ada pula yang membelanya dengan antusias; melihat di televisi acara dipenuhi oleh ajakan untuk terus tertawa terbahak-bahak; melihat media menyiarkan tulisan para ilmuwan yang begitu dingin dan tidak berpihak. Dan betapa memalukannya kalian: berdesak-desakan untuk mendapat uang Rp 300 ribu, membunuh dan memukuli sesamanya yang hanya mencuri ayam, berduyun-duyun menjadi kumpulan massa yang berteriak setuju dan bertepuk tangan. Kalian seperti kumpulan makhluk yang sudah hilang harga dan kehormatanya. Saudaraku! Itu bukan rakyat yang dulu hendak dimerdekakan oleh Soekarno, oleh Hatta, oleh Haji Agus Salim, oleh Tan Malaka atau oleh Sjahrir.
Tidak bacakah kalian sejarah yang berkisah tentang para pejuang itu? Lupakah kalian bahwa mereka dulu menentang kolonialisme, bukan saja karena kolonialisme itu membawa perbudakan melainkan kolonialisme itu meng-abadikan diskriminasi. Hanya yang punya uang dan jabatan dihargai oleh kolonialisme. Hanya yang punya kedekatan dengan para penguasa kolonial yang mendapat hak-hak istimewa. Soekarno menentang itu dengan meluapkan banyak pidato pembebasan. Hatta menolak itu dengan mengajari rakyat melalui tulisan-tulisan pembebasan. Haji Agus Salim memutuskan untuk menggerakkan organisasi Sarekat Islam. Sedang Tan Malaka mendirikan pendidikan untuk rakyat. Sjahrir berperan dalam menghidupkan pandangan tentang kemanusiaan. Pesanku sederhana: Warisilah keberanian mereka untuk merintis perubahan dan meledakkan revolusi. Warisilah prinsip-prinsip dasar yang akan menuntun kalian untuk menjadi bangsa yang bermartabat. Itu kalau kalian masih percaya bahwa diri kalian rakyat merdeka bukan budak!! Ingat-ingatlah kata seorang pejuang kemerdekaan kita yang masih belia, Mas Marco Kartodikromo: Sungguh mati, selama kamu, rakyat Hindia, tidak punya keberanian, kamu pasti akan selalu diinjak dan disebut sebagai seperempat manusia! Saudaraku: Revolusi bermula dari nyali! Perubahan berangkat dari keberanian!
Salam