Sampai aku menulis ini, berita seputar kecaman terhadap Malaysia masih menyesakkan halaman-halaman Koran. Komentar-komentar di dunia maya pun tak kalah riang memeriahkan. Laksana pawai 17an, demo-demo pun digelar. Bendera Malaysia dibakar dimana-mana. Para pejabat banyak memberi sambutan. Ada walikota yang ikut geram. Ada anggota DPR ─yang entah karena motivasi apa ─ juga ikut mengecam. Yang menarik, ulah aktivis LSM yang melempari kantor kedutaan besar negri jiran tersebut dengan kotoran. Tingkah ini kemudian membuat gerah penguasa negeri tetangga tersebut. Mereka membuat fatwa melarang warganya untuk berkunjung ke Indonesia. Dan dengan ekspresi yang, entah takut atau penuh penghormatan sedalam-dalamnya, presiden kita: yang terhormat, Susilo Bambang Yudoyono hanya mampu mengucapkan “kita akan melakukan tindakan yang bijaksana”.
Sebenarnya, konflik ─bulan ini─ dengan Malaysia yang diawali kejadian 13 agustus lalu bukanlah barang baru lagi. Bukan hal aneh pula jika kemudian muncul tanggapan yang beraneka ragam dari banyak pihak. Biasanya juga seperti itu. Dan, kita sebagai orang kecil sudah bisa menebak ending nya nanti kayak apa; menguap seperti kentut! Setelah masalah klaim berbagai produk budaya yang menggemparkan beberapa waktu sebelumnya, memang bagiku penangkapan anggota DKP Indonesia oleh polisi Malaysia itu cukup menggelikan. Bayangkan aja; polisi nangkap maling, eh.. polisinya malah ditangkap. Lha ini yang maling yang mana? Lucu memang. Tapi, ya inilah negeri kita ditangan Bapak presiden SBY yang terhormat.
Kembali ke masalah demonstrasi diatas, saya jadi teringat kasus 47 tahun yang lalu. Dimana para mahasiswa Malaysia melakukan demonstrasi Anti-Indonesia dan menyerbu kantor kedubes RI di Kuala Lumpur. Mereka membakar bendera Indonesia, merobek-robek foto presiden Sukarno dan menginjak-injak lambang Negara; garuda pancasila. Jika kita bayangkan, kejadian waktu itu mungkin sama dengan yang sering kita lihat dalam demo-demo masyarakat Indonesia terhadap Malaysia selama ini. Yang berbeda mungkin cuma tanggapan pemerintah kita saja. Atau lebih tepatnya, sikap sang tuan presiden kita. Saya yakin, dari orang-orang tua kita sampai balita di negri ini ─ terutama balita yang tumbuh di masa pemerintahan pak SBY ini, pasti mengenal jargon “Ganyang Malaysia” dan slogan “Go To Hell”. Karena dua kalimat itu selalu menjadi mantra setiap aksi kecaman terhadap Malaysia. Apalagi kalimat yang terakhir: “Go To Hell”, pasti menyertai setiap demonstrasi apapun. Baik kepada Malaysia, Israel bahkan kepada presiden SBY sendiri yang kebijakannya sangat ‘pijaksana-pijaksini’.
Aku tadi agak gemeteran ketika mendapatkan naskah pidato Bung Karno pada 12 april 1963 tersebut. Sekali membaca, daya ‘magisnya’ langsung merasuk kedalam ubun-ubunku. Bulu kudukku tiba-tiba berdiri; merinding. Maklum, selama ini yang aku tahu, pidato presiden itu bikin ngantuk dan menyebalkan; nggak ada chemistry nya sama sekali. Apalagi bagi kaum muda, mendingan nonton sinetron atau ditinggal tidur. Tapi yang ini beda, taste nya terasa banget. Aku yakin, kalian pun tak kan menyangka kalau mantra ‘Ganyang Malaysia’ itu lengkapnya kayak gini:
Kalau kita lapar, itu biasa
Kalau kita malu, itu juga biasa
Namun, kalau kita lapar atau malu itu karena Malaysia, Kurang ajar!
Kerahkan pasukan ke Kalimantan, hajar cecunguk Malayan itu!
Pukul dan sikat, jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysia keparat itu!
Doakan aku, aku akan berangkat ke medan juang sebagai patriot bangsa, sebagai martir bangsa dan juga sebagai peluru bangsa yang tak mau diinjak-injak harga dirinya.
Serukan, serukan keseluruh pelosok negeri bahwa kita akan bersatu melawan kehinaan ini. kita akan membalas perlakuan ini dan kita tunjukkan bahwa kita masih memiliki gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki martabat!
Yoo.. ayo.. kita… Ganyang..
Ganyang… Malaysia..
Ganyang… Malaysia..
Bulatkan tekad
Semangat kita baja
Peluru kita banyak
Nyawa kita banyak
Bila perlu, satu lawan satu!
Sungguh! Aku yakin tak ada pidato presiden didunia ini ─ setidaknya, selama aku hidup ini ─ yang dahsyatnya seperti itu. Memang, Sukarno ahli pidato. Sukarno adalah orator ulung. Tapi kalau kita perhatikan kalimat-kalimat diatas, itu pasti murni dari pikiran seorang manusia biasa. itu pasti keluar dari mulut seorang anak bangsa. Artinya, sebagai manusia, pasti kita punya perasaan. Sebagai anak bangsa kita pasti memiliki martabat kebangsaan. Karena hal itulah yang membedakan kita dengan binatang ataupun flora dan fauna diberbagai penjuru negeri ini yang sekarang sudah banyak yang punah akibat disikat orang-orang asing. Hanya manusia-lah yang merasa terusik jika harga dirinya diinjak-injak. Hanya anak bangsa-lah yang marah jika kedaulatan bangsanya dilecehkan. Se-pengecut apapun seseorang, kalau ia disakiti pasti akan marah. Apalagi seorang negarawan seperti Sukarno, ia pun pasti akan marah besar jika kedaulatan Negara disikat oleh orang-orang asing. Itulah Sukarno! Sayang, presiden kita sekarang bukan Sukarno. Presiden kita adalah Susilo Bambang Yudoyono. Mungkin ia punya tafsir lain tentang harkat dan martabat kemanusiaan ataupun kedaulatan suatu bangsa. Mungkin ia punya definisi lebih cerdas dari orang awam seperti saya yang mencoba mentafsir-tafsirkan sikap Sukarno diatas.
Tapi apapun tafsir presiden SBY tentang makna ‘Harkat dan Martabat kemanusiaan serta kedaulatan negara’, setidaknya seorang presiden pasti tahu kenapa ia dipilih rakyat. Seorang presiden harusnya tahu kepada siapa ia bekerja. Untuk itu, Soekarno pun mengerti kalau sebuah kekuasaan tak bisa dibangun lewat penindasan. Baik penindasan suatu bangsa terhadap bangsa lain, maupun penindasan penguasa kepada rakyatnya sendiri. Dan ia juga tahu kalau bangsa tak boleh bersimpuh di hadapan kapitalisme. Karena itulah, diberbagai pidatonya ia mengecam keras keberingasan imperialisme dan kapitalisme yang dilakukan oleh Amerika dan Inggris. Alih-alih menolak bantuan dari gerombolan kapitalis tersebut, dengan gagah ia berucap “Go to Hell Amerika dan Inggris..!” sebuah ucapan yang gemanya masih terdengar sampai saat ini. sebuah mantra yang sering kita dengar dari para demonstran. Bahkan sekarang ucapan ‘Go to Hell’ itu ditujukan buat sang penguasa negri ; Buat Bapak presiden Susilo Bambang Yudoyono yang terhormat. ironis!
Bagi Sukarno, ungkapan ‘Go to Hell’ itu bukan sebatas arogansi seorang penguasa negri yang saat itu memang punya pamor kuat dimata dunia. Tapi ucapan itu terlontar karena ia tahu betul bahwa pihak kapitalis hanya pura-pura saja memberikan dana bantuan, dan hakekatnya mereka ingin menggerus kedaulatan negri ini. mereka ingin menancapkan kuku-kuku berdarahnya atas nama modal dan investasi. Maka tak heran, jika ucapan ‘Go to hell’ itu oleh Sukarno juga ditujukan kepada Malaysia yang mendukung kepentingan kapitalis tersebut. Sayang, presidenku bukan sukarno; presidenku SBY. Dan aku mungkin terlalu awam untuk berpikir rumit seperti SBY yang harus memerlukan waktu cukup lama untuk melakukan sesuatu. Tapi setidaknya dengan mudah aku bisa memahami arti kedaulatan bangsa dengan mempelajari sepak terjang Sukarno dan para pejuang semasanya. Ah, mungkin presidenku, bapak SBY yang terhormat pasti terlalu repot untuk sekedar membaca ulang gagasan-gagasan bersejarah tersebut. Proyek-proyek terorisme mungkin dianggap lebih menguntungkan daripada perampokan-perampokan korporasi asing atas sumber daya alam negri sekeping syurga ini. Penangkapan Abu Bakar Ba’asyir mungkin merupakan tindakan yang lebih aman daripada ngurusi makar dan gerilya OPM ataupun RMS. Apalagi sekedar pelecehan yang dilakukan oleh Malaysia. Apalagi sekedar klaim tentang Reog yang selama ini memang tidak pernah di support eksistensinya di negri sendiri. Atau juga produksi Batik yang justru dengan sengaja dicarikan pesaing tekstil Cina.
Memang, Sukarno tidak didampingi oleh wakil presiden yang pintar bergaul dengan para pemodal asing. Ia bersama Hatta, yang tidak pernah memimpin Bank Indonesia. Tapi sebagai orang yang mengerti tentang ekonomi, Hatta ternyata juga paham arti sebuah Kedaulatan. Bahkan rumusannya tentang kedaulatan sebuah bangsa ─ saya kira─ tak lekang jika diterapkan zaman sekarang ini. Baginya: “Kedaulatan itu, tak dapat diubah dan dibagi, karena ia adalah persatuan bagi rakyat….karena itu kedaulatan kita harus bersendi pada sifat keumuman yang menjadi tiang persekutuan…sehingga tak ada negeri yang boleh jadi besar dan makmur, kalau rakyatnya tiada mengetahui dirinya sendiri atau tiada merasa kedaulatanya”. Mungkin atas dasar prinsip kedaulatan itulah Hatta kemudian membuat gagasan ekonomi koperasi. Sebuah sistem perekonomian yang mengharamkan penghisapan satu orang atas lainnya. Sayang, konsep koperasi-nya Hatta ini pun juga telah dimakan rayap layaknya buku-buku SD saya dulu yang memuat tentangnya. Saat ini, koperasi memang banyak menjamur di desa-desa dan pasar-pasar, tapi bukan koperasinya Hatta. Berdasar beberapa keluhan tetangga-tetangga saya “…koperasi itu tak ubahnya bank plecit di pasar-pasar. Bahkan lebih parah lagi”.
Wajar.. nasib Kedaulatan Bangsa yang mereka gagas saja sudah tergadaikan entah kemana, apalagi sistem ekonominya? Pastinya bapak SBY lebih percaya kepada nasehat-nasehat IMF dan Bank Dunia daripada gagasan-gagasan para pendahulu bangsa tersebut. Meskipun semua orang disemua Negara mengecam kebohongan mantra-mantra Globalisasi yang mereka gulirkan, tampaknya presiden kita lebih suka ‘mengambil posisi aman’ dalam mensikapi hal tersebut. Jangankan menolak dan mengkritisi, ibaratnya negri ini diminta aja ia akan memberikannya. Dengan menghela napas panjang sambil menyeka keringat yang bercucuran, mungkin dalam hati ia akan berucap “yowes lah.. sabar..”. Sebagaimana ia begitu ketakutan dan gemeteran ketika George W Bush yang datang ke Indonesia. Presiden amerika yang dinegrinya sendiri aja nggak pernah di hormati itu. Sekali lagi, sayang; Presiden kita SBY...
Kadang, saya memimpikan untuk tinggal di negeri yang punya pemimpin pemberani seperti Iran. Ahmadinejad, seolah ia mengingatkan kembali keberanian Sukarno melawan Amerika. Ia seolah membelalakkan mata dunia bahwa kedaulatan Negara harus dipertahankan dengan nyali. Mungkin postur tubuhnya memang tidak ‘Gantheng Gedhe dhuwur’ seperti presiden SBY. Tapi ia tahu bahwa mengurus negri bukan dari ‘Tinggi-Gedhe’ nya badan, melainkan seberapa besar nyali yang dimiliki. Atau juga di negri yang di pimpin oleh Hugo Chaves maupun Evo Morales itu. Venezuela dan Bolivia seolah-olah mengerti apa yang menjadi ajaran Bung Hatta dulu. Konsep-konsep koperasi yang di negri penggagasnya sudah dicampakkan ke tong sampah, ternyata disana tumbuh subur menyuburkan kesejahteraan rakyat. Memang Chaves dan Morales bukan mantan Gubernur Bank seperti wakil presiden kita yang sopan itu. Tapi ia tahu bahwa mensejahterakan rakyat tidak cukup dengan ‘mesam-mesem’ didepan rakyat dan patuh kepada asing. Tapi hidup sederhana dan bikin kebijakan yang pro-rakyat kecil. Sekali lagi sayang, negeri-negeri itu jauh dari sini. Jangankan untuk cari suaka disana, untuk makan tiap hari aja aku kesulitan, karena yang bisa dilakukan oleh presidenku hanyalah menaikkan harga apapun; kecuali harga diri dan kedaulatan bangsa.
Sering aku tu bertanya-tanya, sebenarnya mikir nggak sih Presiden kita itu? nasib rakyat seolah dicincang-cincang begini... Hidup didalam negri tiada arti. Kerja mati-matian nggak bisa mencukupi anak istri, lari menjadi TKI diluar negri pun banyak yang tidak digaji, bahkan tak jarang yang mati. sialnya lagi, pemerintah seolah tidak pernah mau mengerti. Aku membayangkan, sebenarnya, jika presiden kita itu mau berbuat sesuatu yang agak berarti, ia memiliki segalanya: bayangkan aja, kita tentu masih ingat betapa dukungan rakyat tertumpah ruah kepadanya saat ia terpilih kedua kalinya pada pemilu yang lalu, dukungan birokrasinya kuat; partai-partai yang ada selalu merapat padanya, senjata militer semakin canggih; detasemen yang cukup terlatih, belum lagi militer sipil yang ia bentuk dimana-mana. Aku yakin bin percaya, jika ia menggelontorkan suatu kebijakan, orang-orang di sekelilingnya pasti mengiyakan apapun yang ia putuskan. Aku pernah lihat di TV, bagaimana juru bicaranya membelanya mati-matian ketika banyak kritik datang menyerbunya; mirip sekali dengan nabi yang membela Tuhannya. Ia memberikan data, memberitahu tentang kemajuan nasib rakyatnya dan seolah-olah yang dilakukan tuan presiden telah mencukupi, dan kita patut berterima kasih kepadanya. Nggak salah sih, cuma keterlaluan aja!
Aku memang nggak ngerti tentang bagaimana mengurus negeri. Aku bukan ilmuwan atau politisi. Aku hanya seorang anak negeri. Jika kau Tanya solusi, jelas hal ini bukan bidangku. Tapi setidaknya, dari bekal baca buku, nonton TV ataupun dengar-dengar cerita teman-teman yang anak kuliahan, dari tokoh-tokoh diatas bisa disimpulkan bahwa menegakkan kedaulatan sebuah negri hanya membutuhkan ‘Nyali dan konsekuensi’. Sebagaimana kata Tan Malaka “Senjata yang paling utama yang dimiliki para pejuang adalah keyakinan dan konsekuensi!”. Tapi sayang, presiden kita bukan tan Malaka, presiden kita bukan pejuang; presiden kita adalah SBY!
Sebenarnya, konflik ─bulan ini─ dengan Malaysia yang diawali kejadian 13 agustus lalu bukanlah barang baru lagi. Bukan hal aneh pula jika kemudian muncul tanggapan yang beraneka ragam dari banyak pihak. Biasanya juga seperti itu. Dan, kita sebagai orang kecil sudah bisa menebak ending nya nanti kayak apa; menguap seperti kentut! Setelah masalah klaim berbagai produk budaya yang menggemparkan beberapa waktu sebelumnya, memang bagiku penangkapan anggota DKP Indonesia oleh polisi Malaysia itu cukup menggelikan. Bayangkan aja; polisi nangkap maling, eh.. polisinya malah ditangkap. Lha ini yang maling yang mana? Lucu memang. Tapi, ya inilah negeri kita ditangan Bapak presiden SBY yang terhormat.
Kembali ke masalah demonstrasi diatas, saya jadi teringat kasus 47 tahun yang lalu. Dimana para mahasiswa Malaysia melakukan demonstrasi Anti-Indonesia dan menyerbu kantor kedubes RI di Kuala Lumpur. Mereka membakar bendera Indonesia, merobek-robek foto presiden Sukarno dan menginjak-injak lambang Negara; garuda pancasila. Jika kita bayangkan, kejadian waktu itu mungkin sama dengan yang sering kita lihat dalam demo-demo masyarakat Indonesia terhadap Malaysia selama ini. Yang berbeda mungkin cuma tanggapan pemerintah kita saja. Atau lebih tepatnya, sikap sang tuan presiden kita. Saya yakin, dari orang-orang tua kita sampai balita di negri ini ─ terutama balita yang tumbuh di masa pemerintahan pak SBY ini, pasti mengenal jargon “Ganyang Malaysia” dan slogan “Go To Hell”. Karena dua kalimat itu selalu menjadi mantra setiap aksi kecaman terhadap Malaysia. Apalagi kalimat yang terakhir: “Go To Hell”, pasti menyertai setiap demonstrasi apapun. Baik kepada Malaysia, Israel bahkan kepada presiden SBY sendiri yang kebijakannya sangat ‘pijaksana-pijaksini’.
Aku tadi agak gemeteran ketika mendapatkan naskah pidato Bung Karno pada 12 april 1963 tersebut. Sekali membaca, daya ‘magisnya’ langsung merasuk kedalam ubun-ubunku. Bulu kudukku tiba-tiba berdiri; merinding. Maklum, selama ini yang aku tahu, pidato presiden itu bikin ngantuk dan menyebalkan; nggak ada chemistry nya sama sekali. Apalagi bagi kaum muda, mendingan nonton sinetron atau ditinggal tidur. Tapi yang ini beda, taste nya terasa banget. Aku yakin, kalian pun tak kan menyangka kalau mantra ‘Ganyang Malaysia’ itu lengkapnya kayak gini:
Kalau kita lapar, itu biasa
Kalau kita malu, itu juga biasa
Namun, kalau kita lapar atau malu itu karena Malaysia, Kurang ajar!
Kerahkan pasukan ke Kalimantan, hajar cecunguk Malayan itu!
Pukul dan sikat, jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysia keparat itu!
Doakan aku, aku akan berangkat ke medan juang sebagai patriot bangsa, sebagai martir bangsa dan juga sebagai peluru bangsa yang tak mau diinjak-injak harga dirinya.
Serukan, serukan keseluruh pelosok negeri bahwa kita akan bersatu melawan kehinaan ini. kita akan membalas perlakuan ini dan kita tunjukkan bahwa kita masih memiliki gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki martabat!
Yoo.. ayo.. kita… Ganyang..
Ganyang… Malaysia..
Ganyang… Malaysia..
Bulatkan tekad
Semangat kita baja
Peluru kita banyak
Nyawa kita banyak
Bila perlu, satu lawan satu!
Sungguh! Aku yakin tak ada pidato presiden didunia ini ─ setidaknya, selama aku hidup ini ─ yang dahsyatnya seperti itu. Memang, Sukarno ahli pidato. Sukarno adalah orator ulung. Tapi kalau kita perhatikan kalimat-kalimat diatas, itu pasti murni dari pikiran seorang manusia biasa. itu pasti keluar dari mulut seorang anak bangsa. Artinya, sebagai manusia, pasti kita punya perasaan. Sebagai anak bangsa kita pasti memiliki martabat kebangsaan. Karena hal itulah yang membedakan kita dengan binatang ataupun flora dan fauna diberbagai penjuru negeri ini yang sekarang sudah banyak yang punah akibat disikat orang-orang asing. Hanya manusia-lah yang merasa terusik jika harga dirinya diinjak-injak. Hanya anak bangsa-lah yang marah jika kedaulatan bangsanya dilecehkan. Se-pengecut apapun seseorang, kalau ia disakiti pasti akan marah. Apalagi seorang negarawan seperti Sukarno, ia pun pasti akan marah besar jika kedaulatan Negara disikat oleh orang-orang asing. Itulah Sukarno! Sayang, presiden kita sekarang bukan Sukarno. Presiden kita adalah Susilo Bambang Yudoyono. Mungkin ia punya tafsir lain tentang harkat dan martabat kemanusiaan ataupun kedaulatan suatu bangsa. Mungkin ia punya definisi lebih cerdas dari orang awam seperti saya yang mencoba mentafsir-tafsirkan sikap Sukarno diatas.
Tapi apapun tafsir presiden SBY tentang makna ‘Harkat dan Martabat kemanusiaan serta kedaulatan negara’, setidaknya seorang presiden pasti tahu kenapa ia dipilih rakyat. Seorang presiden harusnya tahu kepada siapa ia bekerja. Untuk itu, Soekarno pun mengerti kalau sebuah kekuasaan tak bisa dibangun lewat penindasan. Baik penindasan suatu bangsa terhadap bangsa lain, maupun penindasan penguasa kepada rakyatnya sendiri. Dan ia juga tahu kalau bangsa tak boleh bersimpuh di hadapan kapitalisme. Karena itulah, diberbagai pidatonya ia mengecam keras keberingasan imperialisme dan kapitalisme yang dilakukan oleh Amerika dan Inggris. Alih-alih menolak bantuan dari gerombolan kapitalis tersebut, dengan gagah ia berucap “Go to Hell Amerika dan Inggris..!” sebuah ucapan yang gemanya masih terdengar sampai saat ini. sebuah mantra yang sering kita dengar dari para demonstran. Bahkan sekarang ucapan ‘Go to Hell’ itu ditujukan buat sang penguasa negri ; Buat Bapak presiden Susilo Bambang Yudoyono yang terhormat. ironis!
Bagi Sukarno, ungkapan ‘Go to Hell’ itu bukan sebatas arogansi seorang penguasa negri yang saat itu memang punya pamor kuat dimata dunia. Tapi ucapan itu terlontar karena ia tahu betul bahwa pihak kapitalis hanya pura-pura saja memberikan dana bantuan, dan hakekatnya mereka ingin menggerus kedaulatan negri ini. mereka ingin menancapkan kuku-kuku berdarahnya atas nama modal dan investasi. Maka tak heran, jika ucapan ‘Go to hell’ itu oleh Sukarno juga ditujukan kepada Malaysia yang mendukung kepentingan kapitalis tersebut. Sayang, presidenku bukan sukarno; presidenku SBY. Dan aku mungkin terlalu awam untuk berpikir rumit seperti SBY yang harus memerlukan waktu cukup lama untuk melakukan sesuatu. Tapi setidaknya dengan mudah aku bisa memahami arti kedaulatan bangsa dengan mempelajari sepak terjang Sukarno dan para pejuang semasanya. Ah, mungkin presidenku, bapak SBY yang terhormat pasti terlalu repot untuk sekedar membaca ulang gagasan-gagasan bersejarah tersebut. Proyek-proyek terorisme mungkin dianggap lebih menguntungkan daripada perampokan-perampokan korporasi asing atas sumber daya alam negri sekeping syurga ini. Penangkapan Abu Bakar Ba’asyir mungkin merupakan tindakan yang lebih aman daripada ngurusi makar dan gerilya OPM ataupun RMS. Apalagi sekedar pelecehan yang dilakukan oleh Malaysia. Apalagi sekedar klaim tentang Reog yang selama ini memang tidak pernah di support eksistensinya di negri sendiri. Atau juga produksi Batik yang justru dengan sengaja dicarikan pesaing tekstil Cina.
Memang, Sukarno tidak didampingi oleh wakil presiden yang pintar bergaul dengan para pemodal asing. Ia bersama Hatta, yang tidak pernah memimpin Bank Indonesia. Tapi sebagai orang yang mengerti tentang ekonomi, Hatta ternyata juga paham arti sebuah Kedaulatan. Bahkan rumusannya tentang kedaulatan sebuah bangsa ─ saya kira─ tak lekang jika diterapkan zaman sekarang ini. Baginya: “Kedaulatan itu, tak dapat diubah dan dibagi, karena ia adalah persatuan bagi rakyat….karena itu kedaulatan kita harus bersendi pada sifat keumuman yang menjadi tiang persekutuan…sehingga tak ada negeri yang boleh jadi besar dan makmur, kalau rakyatnya tiada mengetahui dirinya sendiri atau tiada merasa kedaulatanya”. Mungkin atas dasar prinsip kedaulatan itulah Hatta kemudian membuat gagasan ekonomi koperasi. Sebuah sistem perekonomian yang mengharamkan penghisapan satu orang atas lainnya. Sayang, konsep koperasi-nya Hatta ini pun juga telah dimakan rayap layaknya buku-buku SD saya dulu yang memuat tentangnya. Saat ini, koperasi memang banyak menjamur di desa-desa dan pasar-pasar, tapi bukan koperasinya Hatta. Berdasar beberapa keluhan tetangga-tetangga saya “…koperasi itu tak ubahnya bank plecit di pasar-pasar. Bahkan lebih parah lagi”.
Wajar.. nasib Kedaulatan Bangsa yang mereka gagas saja sudah tergadaikan entah kemana, apalagi sistem ekonominya? Pastinya bapak SBY lebih percaya kepada nasehat-nasehat IMF dan Bank Dunia daripada gagasan-gagasan para pendahulu bangsa tersebut. Meskipun semua orang disemua Negara mengecam kebohongan mantra-mantra Globalisasi yang mereka gulirkan, tampaknya presiden kita lebih suka ‘mengambil posisi aman’ dalam mensikapi hal tersebut. Jangankan menolak dan mengkritisi, ibaratnya negri ini diminta aja ia akan memberikannya. Dengan menghela napas panjang sambil menyeka keringat yang bercucuran, mungkin dalam hati ia akan berucap “yowes lah.. sabar..”. Sebagaimana ia begitu ketakutan dan gemeteran ketika George W Bush yang datang ke Indonesia. Presiden amerika yang dinegrinya sendiri aja nggak pernah di hormati itu. Sekali lagi, sayang; Presiden kita SBY...
Kadang, saya memimpikan untuk tinggal di negeri yang punya pemimpin pemberani seperti Iran. Ahmadinejad, seolah ia mengingatkan kembali keberanian Sukarno melawan Amerika. Ia seolah membelalakkan mata dunia bahwa kedaulatan Negara harus dipertahankan dengan nyali. Mungkin postur tubuhnya memang tidak ‘Gantheng Gedhe dhuwur’ seperti presiden SBY. Tapi ia tahu bahwa mengurus negri bukan dari ‘Tinggi-Gedhe’ nya badan, melainkan seberapa besar nyali yang dimiliki. Atau juga di negri yang di pimpin oleh Hugo Chaves maupun Evo Morales itu. Venezuela dan Bolivia seolah-olah mengerti apa yang menjadi ajaran Bung Hatta dulu. Konsep-konsep koperasi yang di negri penggagasnya sudah dicampakkan ke tong sampah, ternyata disana tumbuh subur menyuburkan kesejahteraan rakyat. Memang Chaves dan Morales bukan mantan Gubernur Bank seperti wakil presiden kita yang sopan itu. Tapi ia tahu bahwa mensejahterakan rakyat tidak cukup dengan ‘mesam-mesem’ didepan rakyat dan patuh kepada asing. Tapi hidup sederhana dan bikin kebijakan yang pro-rakyat kecil. Sekali lagi sayang, negeri-negeri itu jauh dari sini. Jangankan untuk cari suaka disana, untuk makan tiap hari aja aku kesulitan, karena yang bisa dilakukan oleh presidenku hanyalah menaikkan harga apapun; kecuali harga diri dan kedaulatan bangsa.
Sering aku tu bertanya-tanya, sebenarnya mikir nggak sih Presiden kita itu? nasib rakyat seolah dicincang-cincang begini... Hidup didalam negri tiada arti. Kerja mati-matian nggak bisa mencukupi anak istri, lari menjadi TKI diluar negri pun banyak yang tidak digaji, bahkan tak jarang yang mati. sialnya lagi, pemerintah seolah tidak pernah mau mengerti. Aku membayangkan, sebenarnya, jika presiden kita itu mau berbuat sesuatu yang agak berarti, ia memiliki segalanya: bayangkan aja, kita tentu masih ingat betapa dukungan rakyat tertumpah ruah kepadanya saat ia terpilih kedua kalinya pada pemilu yang lalu, dukungan birokrasinya kuat; partai-partai yang ada selalu merapat padanya, senjata militer semakin canggih; detasemen yang cukup terlatih, belum lagi militer sipil yang ia bentuk dimana-mana. Aku yakin bin percaya, jika ia menggelontorkan suatu kebijakan, orang-orang di sekelilingnya pasti mengiyakan apapun yang ia putuskan. Aku pernah lihat di TV, bagaimana juru bicaranya membelanya mati-matian ketika banyak kritik datang menyerbunya; mirip sekali dengan nabi yang membela Tuhannya. Ia memberikan data, memberitahu tentang kemajuan nasib rakyatnya dan seolah-olah yang dilakukan tuan presiden telah mencukupi, dan kita patut berterima kasih kepadanya. Nggak salah sih, cuma keterlaluan aja!
Aku memang nggak ngerti tentang bagaimana mengurus negeri. Aku bukan ilmuwan atau politisi. Aku hanya seorang anak negeri. Jika kau Tanya solusi, jelas hal ini bukan bidangku. Tapi setidaknya, dari bekal baca buku, nonton TV ataupun dengar-dengar cerita teman-teman yang anak kuliahan, dari tokoh-tokoh diatas bisa disimpulkan bahwa menegakkan kedaulatan sebuah negri hanya membutuhkan ‘Nyali dan konsekuensi’. Sebagaimana kata Tan Malaka “Senjata yang paling utama yang dimiliki para pejuang adalah keyakinan dan konsekuensi!”. Tapi sayang, presiden kita bukan tan Malaka, presiden kita bukan pejuang; presiden kita adalah SBY!
No comments:
Post a Comment