Siang itu seorang anak remaja memutuskan untuk keluar dari sekolah. Keputusan menarik itu diumumkanya di hadapan teman-temanya. Mirip dengan seorang pejabat yang mau menaikkkan harga bensin. Diundang semua kawan-kawanya di kantin untuk mendengarkan peryataanya. Sengaja hari itu ia memakai seragam lengkap dengan topi yang biasa dipakai upacara. Wajahnya berseri mirip seorang pengantin remaja.
Dalam kata-kata yang kemudian dikutip oleh banyak teman-temanya ia bilang kalau: ”saatnya saya memutuskan untuk keluar dari sekolah ini. Sebab sekolah telah banyak merampas hak bermain dan hak kebebasan saya. Sejak saya sekolah yang ada hanya peraturan, keputusan, ketetapan yang tak pernah melibatkan saya. Mulai dari jam berapa masuk hingga berapa besar uang SPP semuanya yang menentukan sekolah. Saya tak mau hidup saya terbuang untuk kegiatan bodoh ini. Hari ini saya putuskan untuk keluar dari sekolah dan saya umumkan ini dihadapan teman-teman. Karena yang berharga di sekolah ini bukan buku, pelajaran apalagi kepala sekolah. Yang berharga hanyalah pertemanan kita selama ini. Selamat jalan teman-teman dan mari kita jemput masa depan dengan cara kita sendiri-sendiri!”
Spontan tepuk tangan bergemuruh saat pidato itu berakhir. Ia tidak membuka sessi tanya jawab. Ia bilang tak punya waktu lagi untuk mendialogkan keputusan itu. Bulat sudah keinginanya untuk keluar dari sekolah. Tetap sudah keputusan untuk keluar dari sekolah. Sendirian ia keluar dari kantin dengan iring-iringan teman-temannya. Ia mirip pemenang lomba lari karung. Dielu-elukan dan diantar hingga pintu gerbang. Siang itu ia merasa bangga bisa menjadi dirinya sendiri. Yang tidak takut, cemas atau kuatir akan masa depan. Tepat di dekat gerbang ia mengepalkan tangan dan bersorak gembira. Dibuangnya topi kecil yang warnanya lucu ke halaman dan ia berlari meninggalkan pelataran sekolah dengan teriakan yang membahana. “aku bebas..!” kira-kira begitulah suara yang terdengar. Hari itu teman-temanya akan selalu mengenang namanya. Dewantara, yang akrab dipanggil dengan sebutan: Dewa!
Kejadian itu tentu menggemparkan para guru dan terutama kepala sekolah. Sikap Dewa dinilai sebagai penghinaan atas institusi pendidikan. Kepala Sekolah bersikukuh untuk memanggil Polisi dan mau menangkap Dewa. Disebutnya tindakan itu sebagai pencemaran nama baik. Istilah yang selalu dipakai oleh politisi dan para pengacara. Digelar rapat untuk memutuskan sikap apa yang layak diberikan untuk remaja yang betul-betul gila ini. Ini lagi-lagi sebutan kepala sekolah yang selalu mengharuskan agar siswa itu jadi remaja yang pendiam, rapi dan pintar. Buat kepala Sekolah yang bernama Noeh ini semua sekolah itu punya tujuan mulia. Tak boleh ada anak yang menghina sekolah apalagi kepala sekolah. Baginya tindakan Dewa seperti melempari mukanya dengan kotoran. Ia betul-betul merasa terhina dengan cara Dewa memutuskan keluar dari sekolah. Tindakan Dewa seperti menabuh genderang perang pada jabatanya, bahkan pribadinya.
Dalam kata-kata yang penuh emosi sang kepala sekolah mengutuk tindakan Dewa di hadapan guru dan teman-teman Dewa: “saya berulang-ulang mengatakan bahwa sekolah ini menentang semua tindakan pemberontakan apalagi penghinaan. Cara Dewa memutuskan keluar dari sekolah ini benar-benar patut disesalkan. Seolah-olah semua masalah itu tidak bisa didialogkan, didiskusikan dan dimusyawarahkan. Saya prihatin kalau anda-anda sebagai temanya tidak berusaha mengingatkan bahwa tindakan Dewa tidak arif bahkan mengancam masa depanya sendiri. Juga untuk para guru harusnya sejak dini tahu apa kemauan anak itu dan berusaha untuk meredam emosinya. Saya tegaskan sekali lagi bahwa tindakan Dewa ini adalah akibat tidak adanya kedisplinan, akibat kuranya pendidikan tentang etika dan terlalu longgarnya sekolah ini. Saya dengan ini memutuskan untuk tetap meminta pertanggung jawaban Dewa karena tindaknya menganggu stabilitas dan persatuan di sekolah ini”
Begitulah sang kepala sekolah itu bertitah. Semua berkas kesiswaan Dewa dikumpulkan dan dilaporkan ke kepolisian. Dalam laporan yang ditumpuk dalam map yang begitu tebal dinyatakan bahwa Dewa tersangka pencemaran nama baik sekolah. Laporan yang dengan antusias langsung direspon secara cepat oleh Kepolisian. Lembaga penegak hukum yang kini begitu akrab dengan sekolah. Maklum Noeh sang kepala sekolah sering sekali minta bantuan Polisi untuk semua kegiatan. Sewaktu Ujian Nasional Polisi diminta untuk mengawal, mengawasi dan menangkap guru yang mungkin diindikasikan sebagai pembocor soal ujian. Pekerjaan yang berhasil menangkap guru dan juga berhasil menuai kritik. Polisi bahkan juga dimintai untuk membantu mengoreksi soal ujian. Sebuah ide yang membuat pak Noeh begitu gampang untuk mencari SIM dan mendapatkan pinjaman motor. Malahan Noeh pernah melontarkan ide kalau Polisi mungkin juga bisa membantu membuatkan soal ujian. Buat Noeh si kepala sekolah; Polisi adalah aparat yang bisa memenuhi keperluan sekolah dan kebutuhan dirinya sendiri. Hampir mirip dengan penerbit buku pelajaran.
Dewa ternyata dengan mudah ditangkap oleh satuan kepolisian yang biasa memburu teroris. Penangkapan yang dramatis karena Dewa waktu itu sedang menyewa komik Naruto. Ia penggemar berat komik Manga. Polisi dengan timnya yang bertopeng segera menangkap Dewa dan mengacak-acak tempat persewaan itu. Tangan Dewa diborgol dan diangkut oleh kendaraan lapis baja yang sudah disiapkan. Tempat persewaan komik itu sendiri kelak akan dikenai tuduhan sebagai markas yang memasok semua ide-ide subversif Dewa. Sebuah tuduhan yang menghina kecerdasan dan akal sehat. Komik bukan petunjuk membuat bom tapi juklak untuk menghidupkan ide-ide gila. Semua orang terkejut dan media memberikan porsi berita yang begitu besar atas penangkapan yang dianggap tak senonoh, gila dan tak masuk akal ini. Noeh sang kepala sekolah tampaknya tak menduga keputusanya bisa berakibat pada perlawanan opini publik yang besar-besaran. Ia berusaha berkilah kalau Polisi yang berminat sendiri menangkap Dewa. Polisi sebaliknya dengan kesal mengatakan bahwa tindakanya sesuai permintaan kepala sekolah. Tak ada yang tahu mana yang benar tapi yang jelas publik mulai paham kalau Polisi dan Noeh si kepala sekolah sudah benar-benar gila.
Tapi kontroversi itu tak menghentikan proses hukum untuk tetap mengadili Dewa. Noeh si kepala sekolah dengan keras tetap menuntut hukuman atas Dewa yang disebut-sebut sebagai pembuat onar dari sistem pendidikan yang sudah tersusun rapi. Dalam kesaksianya Noeh menunjukkan bagaimana sikap Dewa selama ini yang selalu mengkritik keras sistem sekolah yang ia kelola: “Bapak hakim yang terhormat. Bagaimanapun kita harus menghukum anak bernama Dewantara ini. Banyak tindakanya yang menghina kewibawaan saya sebagai kepala sekolah. Dibilang soal ujian nasional itu sebagai proyek yang hanya akan menggemukkan pundi-pundi harta saya pribadi. Itu fitnah, tak berdasar dan komentar semaunya sendiri. Juga yang tidak sopanya mengatakan kalau saya bukan pendidik tapi pedagang karena sering meminta siswa untuk membeli buku-buku dari penerbit. Padahal tak ada larangan guru menganjurkan untuk membeli. Itu bukan korupsi dan bukan tindakan subversif. Bahkan pernah Dewantara ini membuat saya marah karena mengajak teman-temanya untuk mogok tak mengikuti bimbingan belajar yang diselenggarakan oleh sekolah dengan lembaga setempat. Saya betul-betul dipermalukan didepan lembaga bimbingan belajar ini. Padahal semua yang saya lakukan ini untuk tujuan kecerdasan dirinya dan teman-temanya. Apa jadinya kalau anak seperti Dewantara ini dibiarkan untuk mempengaruhi teman-temanya yang lain. Saya minta keadilan bapak hakim”
Kening kepala sekolah yang berambut tipis itu berkeringat. Ia menyekanya berulang-ulang. Beberapa staf tampaknya sibuk melayani permintaanya. Ada yang membelikan es teh, ada yang memberinya bundelan hasil rapat dan beberapa diantara yang lain membawa setumpuk amplop. Ia tampak begitu sibuk dikelilingi oleh stafnya yang selalu saja meminta ini-itu. Dari mulai tanda tangan hingga membaca sekeping surat. Maklum selain kepala sekolah ia juga sibuk sebagai tim sukses pemilihan bupati. Jadi urusanya rangkap, panjang dan sibuk sekali. Sebuah bukti bahwa tenaga, karya dan kemampuanya dibutuhkan tak hanya untuk pendidikan. Urusan politik-pun jadi bagian wewenangnya. Konon istrinya menjabat sebagai ketua yayasan sebuah perguruan tinggi. Dua pasangan yang bergerak dibidang pendidikan dengan semangat konservatif yang serupa. Dua pasangan yang membuat pendidikan menjadi ladang penghidupan dan bisnis. Sebuah bisnis yang diam-diam menghasilkan laba besar dan keuntungan yang tak habis-habis untuknya.
Dewa duduk di kursi depan hakim dan kini bersiap untuk meluncurkan pembelaan yang rasa-rasanya sudah lama ia tunggu. Baju yang dikenakanya bertuliskan slogan yang begitu lantang: buat apa sekolah kalau ditindas! Baju kebesaran yang tampaknya menjadi simbol ide besarnya. Ia bawa lembaran makalah sederhana yang diklip dengan rapi. Sederet kertas yang dijepit tali tipis dan dibukanya perlahan-lahan. Ia mulai berusaha untuk menyebut beberapa pertimbangan penting yang mau dikatakan.
Seakan-akan ia hendak menyatakan pikiran yang sudah lama diredamnya: “Bapak hakim yang mulia. Saya Dewantara tanpa Ki Hajar. Tapi saya adalah pengaggum beliau dan selalu membaca karya-karyanya. Disini saya berdiri untuk menyatakan sesuatu yang sudah saya pendam lama. Soal sekolah yang pernah saya huni dan kebetulan kepala sekolahnya adalah bapak Noeh. Telah lama saya cemas dengan perkembangan sekolah saya terutama sejak dipimpin oleh pak Noeh. Pertama-tama kecemasan saya tertuju pada beban pelajaran yang sudah tak masuk diakal. Ada belasan mata pelajaran yang dijejalkan dan puluhan les tambahan yang katanya untuk menunjang kualitas. Itu semua di luar kebutuhan saya pribadi. Saya tidak boleh memilih dan harus mengikuti semua ketentuan ini. Sekolah saya yang pertama-tama adalah melanggar hak saya sebagai manusia yang bebas. Kedua saya tak mau ikut ujian nasional dan malas untuk mengkuti semua kegiatan persiapan itu. Ujian nasional itu menghina dan meragukan kecerdasan kami. Untuk apa sekolah capek-capek kalau ujung-ujungnya hanya beberapa mata pelajaran itu saja yang dites-kan. Lagipula sudah banyak protes mengenai itu dan pak Noeh sebagai kepala sekolah selalu menghardik semua kritik kami. Ia jenis kepala sekolah yang tak mau disanggah dan dipertanyakan keputusanya. Dan terakhir adalah untuk bayaran ini-itu sekolah kami yang tak pernah terbuka. Untuk apa, digunakan apa dan bagaimana pertanggung-jawabanya. Sekolah kami mirip dengan kerajaan. Dan pak Noeh sebagai rajanya. Saya tak mau menjadi bodoh, tolol dan naif dengan sistem yang gila ini. Jadi saya mohon bapak hakim mempertimbangkan pandangan saya ini.”
Kebanggaan nampak membayang di wajah orang tua Dewa. Keduanya tak menyangka akan memiliki anak yang setangguh itu rasa percaya dirinya. Semula mereka terkejut dengan putusan Dewa keluar dari sekolah. Tapi penjelasan Dewa bukan sekedar keluar dari sekolah melainkan juga memutuskan untuk mendirikan sistem pendidikan alternatif. Ia gunakan halaman rumahnya untuk mengumpulkan anak-anak kecil desa sebelah. Mereka diajari bagaimana mencintai buku, menggunakan bahasa yang baik, melantunkan lagu dan puisi serta yang tak kalah pentingnya; belajar berorganisasi! Dewa berulang-ulang menyatakan bahwa pengetahuan tentang kebudayaan itu penting dan menjadi dasar bagi pembentukan sikap dan pencarian pengetahuan. Baginya semangat itu yang membuat pendidikan akan selalu mengajarkan harapan, mendidik akan rasa cinta kemanusiaan dan mengutamakan kebersamaan. Dewa selalu meyakinkan hal itu berulang-ulang pada kedua orang tuanya mengenai etos pendidikan adalah seperti itu.
Dewa mengatakan: “Ibu, Pendidikan hanya dikatakan berhasil kalau itu berarti memuliakan semangat persaudaraan. Untuk apa pendidikan unggul jika hanya melontarkan seorang anak menjadi manusia tercerdas sedang yang lain hanya menjadi barisan massa yang dungu. Pendidikan mustinya mengemban tanggung jawab seperti itu. Dan itu dapat diterapkan jikalau pendidikan melatih rasa cinta akan kemanusiaan, membudayakan organisasi dan mengajarkan anak akar kebudayaan. Ibu, aku ingin mendirikan sekolah yang bisa membawa anak-anak itu dalam kebersamaan yang bersahaja, yang membawa mereka dalam petualangan pengetahuan tanpa rasa takut, kuatir dan selalu cemas. Anak-anak adalah tunas yang berharga untuk dipatahkan hanya oleh nilai, kelulusan dan prestasi. Mereka adalah masa depan yang harusnya disiram tidak dengan kedisplinan tapi tanggung jawab. Yang tidak diajari mematuhi aturan melainkan bagaimana mengemban tanggung jawab kebebasan. Hanya untuk itu saya harus memutuskan untuk keluar dari sekolah. Harus ada martir ibu untuk menjadi petanda bahwa ada yang keliru dari sistem pendidikan yang kita jalani sekarang ini”
Alasan itulah yang kemudian membuat Dewa memutuskan keluar dari sekolah. Waktunya ingin dihabiskan untuk membina sekolah alternatif yang semboyanya 'Belajar bersikap dan berani berpihak pada yang lemah!'. Kata-kata itu bahkan dipasang di spanduk muka rumah. Sekolah itu yang menghabiskan hari-harinya. Beberapa belas anak kemudian terlibat aktif di sekolah itu dengan pengajar sejumlah mahasiswa yang sebagian diantaranya adalah yang tinggal di dekat tempat tinggal Dewa. Walau sekolah itu tidak mendapat ijin dari Depdiknas, tapi pendidikan itu tetap saja berjalan dengan ketentuan yang dibuat bersama-sama siswa. Noeh sang kepala sekolah memang sudah mendengar ide Dewa yang radikal itu tapi ia tetap bertahan bahwa pendidikan haruslah sesuai dengan ketentuan yang digariskan oleh perundang-undangan. Noeh tak mau tahu kalau undang-undang itu disusun oleh beberapa anak yang tak lulus sekolah juga. Ia tak tahu kalau undang-undang hanyalah perpanjangan kepentingan para penguasa, pengusaha pendidikan dan segelintir siswa mapan. Jenis golongan yang selalu merasa pendidikan hanya urusan duit,duit,duit melulu.
Sidang itu berjalan tidak terlampau lama. Hakim seorang yang terkenal akan kewibawaan dan prinsip kejujuranya mulai membacakan putusan dengan berbagai pertimbangan. Sang Hakim yang dikenal kerabat dekat dan konon keturunan Tjipto Mangunkusumo itu mulai memberikan pertimbangan. Ia mengemukakan sebuah penjelasan yang jarang sekali terdengar di persidangan: “Saya tak ingin sebenarnya mengadili kasus yang sudah begitu benderang ini. Saudara Noeh mestinya anda bangga punya siswa yang cerdas seperti Dewa ini. Harusnya anda malu diingatkan tentang tugas pendidikan yang sebenarnya. Jabatan anda sebagai kepala sekolah harusnya menjadi pelindung bagi setiap ide kreatif yang muncul dari anak didiknya. Ide kreatif yang mengalir darinya mengingatkan saya kembali tentang apa sebenarnya arti pendidikan. Kalau saudara Noeh mengartikan pendidikan hanya meneruskan apa bunyi undang-undang dan melakukanya secara kaku tanpa tahu semangat yang mendasarinya maka anda benar-benar bebal. Aku hakim yang tahu bagaimana undang-undang itu diterapkan. Anda itu diberi tanggung jawab sebagai pemangku pendidikan: tahukah anda apa makna pendidikan itu? Pendidikan berbeda dengan sekolah, saudara! Sekolah hanya salah satu alat untuk menghidupkan pendidikan dalam sebuah kenyataan. Kalau sekolah seperti yang saudara pimpin hanya menegakkan kepatuhan, kedispilinan dan tata krama yang feodal itu sama halnya dengan membuat sangkar. Itu hanya untuk burung yang tidak ingin hidup bebas. Bagaimana jiwa-jiwa remaja yang bebas, berani dan memiliki kemauan baja bisa tinggal jika pendidikanya kacau seperti yang anda dirikan ini. Saya malu berdiri disini untuk mengadili orang tua pandir seperti anda. Tapi saya bangga karena kita masih menemukan jiwa pemberontak seperti Dewa. Teruskan nak cita-citamu, kalau aku muda pasti aku akan mengikuti jejakmu dan aku setuju atas pilihanmu meninggalkan sekolah yang dikepalai oleh saudara Noeh ini. Terimakasih!”
Ketukan palu hakim yang bergema keras itu menghantam meja dan diikuti dengan sorak bergembira banyak orang. Diam-diam mereka mendukung ide brillian Dewa. Dewantara telah memenangkan pertarungan yang menyakitkan dengan kepala sekolah. Nampak wajah kepala sekolah yang pucat dan memendam marah. Ia buru-buru keluar persidangan diikuti oleh banyak stafnya. Mungkin ia banding atau bisa jadi ia menyerah pada putusan hakim. Tak tahu apakah perkataan hakim itu mengejeknya, menghinanya atau mempermalukanya. Pak Noeh tampaknya sudah kebal dengan sikap-sikap seperti itu. Ia bukan sekali dua kali mendapat teguran seperti itu. Ia kepala sekolah yang tahan sekaligus tuli terhadap kritikan. Beberapa polisi tampaknya membiarkan tepuk gembira anak-anak remaja. Mereka melompat gembira merayakan menangnya kebebasan melawan kedisplinan yang beku. Mereka begitu antusias merayakan kemenangan keberanian melawan ketakutan akan pembaruan.
Dewantara berdiri diatas tangga peradilan dan menyampaikan sebuah risalah yang menjadi gambaran tentang mimpi pendidikan masa mendatang. “Hari ini terbukti sudah pendidikan yang merayakan akal sehat memenangkan pertarungan. Pendidikan macam inilah yang harusnya hadir di tengah sekolah kita. Aku kini dirikan sebuah sekolah yang ingin mengatakan kepada anak didikku agar mereka berani melakukan tindakan, melahirkan inisiatif dan berani hidup dalam gerakan. Waktunya kita untuk keluar dari sekolah yang hanya mengajarkan pengetahuan palsu dan mengabaikan realitas sebagai sumber pengetahuan. Waktunya juga kita keluar dari lembaga pendidikan yang tak melatih keberpihakan kepada mereka yang lemah. Pendidikan macam itu telah terbukti hanya melahirkan orang pandir tapi memegang kekuasaan. Pendidikan macam itu hanya meluluskan orang pintar yang begitu egois. Malah pendidikan itulah yang membuat negeri ini dipadati oleh para bandit dan kaum koruptor. Pendidikan yang tidak melatih siswanya untuk belajar berorganisasi dan lebih mengajak mereka untuk sekedar menjadi barisan rapi yang pandir dan malas bergerak. Saya sekali lagi tak mau hanya mendirikan sekolah ala kadarnya; yang bisanya hanya meluluskan anak dan memberinya ijazah. Kita harus memperjuangkan pendidikan seperti itu dan membela setiap gagasan yang menuju kesana”
Barisan massa bergerak meninggalkan pengadilan. Ide Dewa menancapkan kembali gagasan tentang sekolah liar. Kata 'liar' istilah yang dulu pernah dipakai oleh orang-orang Belanda ketika memberi cap pada sekolah yang didirikan oleh Soewardi Soerjaningrat. Juga untuk sekolah yang didirikan oleh para nasionalis. Kini sekolah liar itu berdiri di banyak tempat: ada yang berdiri dengan dukungan para petani, ada yang didukung oleh anak-anak jalanan dan ada pula yang muncul karena inisiatif beberapa orang. Kurikulum merekapun bermacam-macam: ada yang lebih banyak memuat pelajaran tari, ada yang menitik-beratkan pada puisi dan ada yang lebih heboh lagi, pelajaran pergerakan. Tak tanggung-tanggung mereka keluar dari orbit kurikulum resmi. Malahan sekolah semacam itu kini menyebar di berbagai pelosok. Ada di Ponorogo, Klaten, Yogyakarta, Wonosobo, Purwokerto, Salatiga, Jakarta, Makasar dan Semarang dll. Jauh lebih menyenangkan berdiri banyak sekolah seperti ini ketimbang partai politik. Sekolah mengantarkan tidak saja kecerdasan kolektif melainkan juga mengusung harapan baru atas masa depan. Partai hanya mengekalkan politisi pandir dan mengantarkan pejabat yang berwatak memalukan. Dewantara kini bukan pribadi yang langka karena banyak orang kini mengambil keputusan seperti dia. Mendirikan sekolah murah, berkualitas dan menyenangkan.
Biarkan saja pemerintah tidak memberi ijin karena memang bukan itu yang dibutuhkan. Yang dipusatkan dalam pendidikan ini adalah anak. Merekalah yang menjadi subyek dan pusat utama pendidikan. Mereka mendapatkan pendidikan yang akan membuat mereka punya 'kenangan dan impian' tentang masa depan yang mereka pilih sendiri. Karena itu pendidikan, sebaiknya, memberi hak pada anak sebesar-besarnya dan memberikan ruang kebebasan sepenuhnya pada mereka. Ringkasnya pendidikan sebaiknya melayani jiwa petualangan dan keingin-tahuan peserta didik. Karena memang begitulah sebenarnya tujuan mulia pendidikan. Kita membutuhkan Dewantara-Dewantara muda yang jauh lebih berani mengambil inisiatif dan punya kegilaan dalam mewujudkanya dalam praktek. Mereka yang mampu mengembalikan pendidikan pada jiwa yang sesungguhnya.
Dalam kata-kata yang kemudian dikutip oleh banyak teman-temanya ia bilang kalau: ”saatnya saya memutuskan untuk keluar dari sekolah ini. Sebab sekolah telah banyak merampas hak bermain dan hak kebebasan saya. Sejak saya sekolah yang ada hanya peraturan, keputusan, ketetapan yang tak pernah melibatkan saya. Mulai dari jam berapa masuk hingga berapa besar uang SPP semuanya yang menentukan sekolah. Saya tak mau hidup saya terbuang untuk kegiatan bodoh ini. Hari ini saya putuskan untuk keluar dari sekolah dan saya umumkan ini dihadapan teman-teman. Karena yang berharga di sekolah ini bukan buku, pelajaran apalagi kepala sekolah. Yang berharga hanyalah pertemanan kita selama ini. Selamat jalan teman-teman dan mari kita jemput masa depan dengan cara kita sendiri-sendiri!”
Spontan tepuk tangan bergemuruh saat pidato itu berakhir. Ia tidak membuka sessi tanya jawab. Ia bilang tak punya waktu lagi untuk mendialogkan keputusan itu. Bulat sudah keinginanya untuk keluar dari sekolah. Tetap sudah keputusan untuk keluar dari sekolah. Sendirian ia keluar dari kantin dengan iring-iringan teman-temannya. Ia mirip pemenang lomba lari karung. Dielu-elukan dan diantar hingga pintu gerbang. Siang itu ia merasa bangga bisa menjadi dirinya sendiri. Yang tidak takut, cemas atau kuatir akan masa depan. Tepat di dekat gerbang ia mengepalkan tangan dan bersorak gembira. Dibuangnya topi kecil yang warnanya lucu ke halaman dan ia berlari meninggalkan pelataran sekolah dengan teriakan yang membahana. “aku bebas..!” kira-kira begitulah suara yang terdengar. Hari itu teman-temanya akan selalu mengenang namanya. Dewantara, yang akrab dipanggil dengan sebutan: Dewa!
Kejadian itu tentu menggemparkan para guru dan terutama kepala sekolah. Sikap Dewa dinilai sebagai penghinaan atas institusi pendidikan. Kepala Sekolah bersikukuh untuk memanggil Polisi dan mau menangkap Dewa. Disebutnya tindakan itu sebagai pencemaran nama baik. Istilah yang selalu dipakai oleh politisi dan para pengacara. Digelar rapat untuk memutuskan sikap apa yang layak diberikan untuk remaja yang betul-betul gila ini. Ini lagi-lagi sebutan kepala sekolah yang selalu mengharuskan agar siswa itu jadi remaja yang pendiam, rapi dan pintar. Buat kepala Sekolah yang bernama Noeh ini semua sekolah itu punya tujuan mulia. Tak boleh ada anak yang menghina sekolah apalagi kepala sekolah. Baginya tindakan Dewa seperti melempari mukanya dengan kotoran. Ia betul-betul merasa terhina dengan cara Dewa memutuskan keluar dari sekolah. Tindakan Dewa seperti menabuh genderang perang pada jabatanya, bahkan pribadinya.
Dalam kata-kata yang penuh emosi sang kepala sekolah mengutuk tindakan Dewa di hadapan guru dan teman-teman Dewa: “saya berulang-ulang mengatakan bahwa sekolah ini menentang semua tindakan pemberontakan apalagi penghinaan. Cara Dewa memutuskan keluar dari sekolah ini benar-benar patut disesalkan. Seolah-olah semua masalah itu tidak bisa didialogkan, didiskusikan dan dimusyawarahkan. Saya prihatin kalau anda-anda sebagai temanya tidak berusaha mengingatkan bahwa tindakan Dewa tidak arif bahkan mengancam masa depanya sendiri. Juga untuk para guru harusnya sejak dini tahu apa kemauan anak itu dan berusaha untuk meredam emosinya. Saya tegaskan sekali lagi bahwa tindakan Dewa ini adalah akibat tidak adanya kedisplinan, akibat kuranya pendidikan tentang etika dan terlalu longgarnya sekolah ini. Saya dengan ini memutuskan untuk tetap meminta pertanggung jawaban Dewa karena tindaknya menganggu stabilitas dan persatuan di sekolah ini”
Begitulah sang kepala sekolah itu bertitah. Semua berkas kesiswaan Dewa dikumpulkan dan dilaporkan ke kepolisian. Dalam laporan yang ditumpuk dalam map yang begitu tebal dinyatakan bahwa Dewa tersangka pencemaran nama baik sekolah. Laporan yang dengan antusias langsung direspon secara cepat oleh Kepolisian. Lembaga penegak hukum yang kini begitu akrab dengan sekolah. Maklum Noeh sang kepala sekolah sering sekali minta bantuan Polisi untuk semua kegiatan. Sewaktu Ujian Nasional Polisi diminta untuk mengawal, mengawasi dan menangkap guru yang mungkin diindikasikan sebagai pembocor soal ujian. Pekerjaan yang berhasil menangkap guru dan juga berhasil menuai kritik. Polisi bahkan juga dimintai untuk membantu mengoreksi soal ujian. Sebuah ide yang membuat pak Noeh begitu gampang untuk mencari SIM dan mendapatkan pinjaman motor. Malahan Noeh pernah melontarkan ide kalau Polisi mungkin juga bisa membantu membuatkan soal ujian. Buat Noeh si kepala sekolah; Polisi adalah aparat yang bisa memenuhi keperluan sekolah dan kebutuhan dirinya sendiri. Hampir mirip dengan penerbit buku pelajaran.
Dewa ternyata dengan mudah ditangkap oleh satuan kepolisian yang biasa memburu teroris. Penangkapan yang dramatis karena Dewa waktu itu sedang menyewa komik Naruto. Ia penggemar berat komik Manga. Polisi dengan timnya yang bertopeng segera menangkap Dewa dan mengacak-acak tempat persewaan itu. Tangan Dewa diborgol dan diangkut oleh kendaraan lapis baja yang sudah disiapkan. Tempat persewaan komik itu sendiri kelak akan dikenai tuduhan sebagai markas yang memasok semua ide-ide subversif Dewa. Sebuah tuduhan yang menghina kecerdasan dan akal sehat. Komik bukan petunjuk membuat bom tapi juklak untuk menghidupkan ide-ide gila. Semua orang terkejut dan media memberikan porsi berita yang begitu besar atas penangkapan yang dianggap tak senonoh, gila dan tak masuk akal ini. Noeh sang kepala sekolah tampaknya tak menduga keputusanya bisa berakibat pada perlawanan opini publik yang besar-besaran. Ia berusaha berkilah kalau Polisi yang berminat sendiri menangkap Dewa. Polisi sebaliknya dengan kesal mengatakan bahwa tindakanya sesuai permintaan kepala sekolah. Tak ada yang tahu mana yang benar tapi yang jelas publik mulai paham kalau Polisi dan Noeh si kepala sekolah sudah benar-benar gila.
Tapi kontroversi itu tak menghentikan proses hukum untuk tetap mengadili Dewa. Noeh si kepala sekolah dengan keras tetap menuntut hukuman atas Dewa yang disebut-sebut sebagai pembuat onar dari sistem pendidikan yang sudah tersusun rapi. Dalam kesaksianya Noeh menunjukkan bagaimana sikap Dewa selama ini yang selalu mengkritik keras sistem sekolah yang ia kelola: “Bapak hakim yang terhormat. Bagaimanapun kita harus menghukum anak bernama Dewantara ini. Banyak tindakanya yang menghina kewibawaan saya sebagai kepala sekolah. Dibilang soal ujian nasional itu sebagai proyek yang hanya akan menggemukkan pundi-pundi harta saya pribadi. Itu fitnah, tak berdasar dan komentar semaunya sendiri. Juga yang tidak sopanya mengatakan kalau saya bukan pendidik tapi pedagang karena sering meminta siswa untuk membeli buku-buku dari penerbit. Padahal tak ada larangan guru menganjurkan untuk membeli. Itu bukan korupsi dan bukan tindakan subversif. Bahkan pernah Dewantara ini membuat saya marah karena mengajak teman-temanya untuk mogok tak mengikuti bimbingan belajar yang diselenggarakan oleh sekolah dengan lembaga setempat. Saya betul-betul dipermalukan didepan lembaga bimbingan belajar ini. Padahal semua yang saya lakukan ini untuk tujuan kecerdasan dirinya dan teman-temanya. Apa jadinya kalau anak seperti Dewantara ini dibiarkan untuk mempengaruhi teman-temanya yang lain. Saya minta keadilan bapak hakim”
Kening kepala sekolah yang berambut tipis itu berkeringat. Ia menyekanya berulang-ulang. Beberapa staf tampaknya sibuk melayani permintaanya. Ada yang membelikan es teh, ada yang memberinya bundelan hasil rapat dan beberapa diantara yang lain membawa setumpuk amplop. Ia tampak begitu sibuk dikelilingi oleh stafnya yang selalu saja meminta ini-itu. Dari mulai tanda tangan hingga membaca sekeping surat. Maklum selain kepala sekolah ia juga sibuk sebagai tim sukses pemilihan bupati. Jadi urusanya rangkap, panjang dan sibuk sekali. Sebuah bukti bahwa tenaga, karya dan kemampuanya dibutuhkan tak hanya untuk pendidikan. Urusan politik-pun jadi bagian wewenangnya. Konon istrinya menjabat sebagai ketua yayasan sebuah perguruan tinggi. Dua pasangan yang bergerak dibidang pendidikan dengan semangat konservatif yang serupa. Dua pasangan yang membuat pendidikan menjadi ladang penghidupan dan bisnis. Sebuah bisnis yang diam-diam menghasilkan laba besar dan keuntungan yang tak habis-habis untuknya.
Dewa duduk di kursi depan hakim dan kini bersiap untuk meluncurkan pembelaan yang rasa-rasanya sudah lama ia tunggu. Baju yang dikenakanya bertuliskan slogan yang begitu lantang: buat apa sekolah kalau ditindas! Baju kebesaran yang tampaknya menjadi simbol ide besarnya. Ia bawa lembaran makalah sederhana yang diklip dengan rapi. Sederet kertas yang dijepit tali tipis dan dibukanya perlahan-lahan. Ia mulai berusaha untuk menyebut beberapa pertimbangan penting yang mau dikatakan.
Seakan-akan ia hendak menyatakan pikiran yang sudah lama diredamnya: “Bapak hakim yang mulia. Saya Dewantara tanpa Ki Hajar. Tapi saya adalah pengaggum beliau dan selalu membaca karya-karyanya. Disini saya berdiri untuk menyatakan sesuatu yang sudah saya pendam lama. Soal sekolah yang pernah saya huni dan kebetulan kepala sekolahnya adalah bapak Noeh. Telah lama saya cemas dengan perkembangan sekolah saya terutama sejak dipimpin oleh pak Noeh. Pertama-tama kecemasan saya tertuju pada beban pelajaran yang sudah tak masuk diakal. Ada belasan mata pelajaran yang dijejalkan dan puluhan les tambahan yang katanya untuk menunjang kualitas. Itu semua di luar kebutuhan saya pribadi. Saya tidak boleh memilih dan harus mengikuti semua ketentuan ini. Sekolah saya yang pertama-tama adalah melanggar hak saya sebagai manusia yang bebas. Kedua saya tak mau ikut ujian nasional dan malas untuk mengkuti semua kegiatan persiapan itu. Ujian nasional itu menghina dan meragukan kecerdasan kami. Untuk apa sekolah capek-capek kalau ujung-ujungnya hanya beberapa mata pelajaran itu saja yang dites-kan. Lagipula sudah banyak protes mengenai itu dan pak Noeh sebagai kepala sekolah selalu menghardik semua kritik kami. Ia jenis kepala sekolah yang tak mau disanggah dan dipertanyakan keputusanya. Dan terakhir adalah untuk bayaran ini-itu sekolah kami yang tak pernah terbuka. Untuk apa, digunakan apa dan bagaimana pertanggung-jawabanya. Sekolah kami mirip dengan kerajaan. Dan pak Noeh sebagai rajanya. Saya tak mau menjadi bodoh, tolol dan naif dengan sistem yang gila ini. Jadi saya mohon bapak hakim mempertimbangkan pandangan saya ini.”
Kebanggaan nampak membayang di wajah orang tua Dewa. Keduanya tak menyangka akan memiliki anak yang setangguh itu rasa percaya dirinya. Semula mereka terkejut dengan putusan Dewa keluar dari sekolah. Tapi penjelasan Dewa bukan sekedar keluar dari sekolah melainkan juga memutuskan untuk mendirikan sistem pendidikan alternatif. Ia gunakan halaman rumahnya untuk mengumpulkan anak-anak kecil desa sebelah. Mereka diajari bagaimana mencintai buku, menggunakan bahasa yang baik, melantunkan lagu dan puisi serta yang tak kalah pentingnya; belajar berorganisasi! Dewa berulang-ulang menyatakan bahwa pengetahuan tentang kebudayaan itu penting dan menjadi dasar bagi pembentukan sikap dan pencarian pengetahuan. Baginya semangat itu yang membuat pendidikan akan selalu mengajarkan harapan, mendidik akan rasa cinta kemanusiaan dan mengutamakan kebersamaan. Dewa selalu meyakinkan hal itu berulang-ulang pada kedua orang tuanya mengenai etos pendidikan adalah seperti itu.
Dewa mengatakan: “Ibu, Pendidikan hanya dikatakan berhasil kalau itu berarti memuliakan semangat persaudaraan. Untuk apa pendidikan unggul jika hanya melontarkan seorang anak menjadi manusia tercerdas sedang yang lain hanya menjadi barisan massa yang dungu. Pendidikan mustinya mengemban tanggung jawab seperti itu. Dan itu dapat diterapkan jikalau pendidikan melatih rasa cinta akan kemanusiaan, membudayakan organisasi dan mengajarkan anak akar kebudayaan. Ibu, aku ingin mendirikan sekolah yang bisa membawa anak-anak itu dalam kebersamaan yang bersahaja, yang membawa mereka dalam petualangan pengetahuan tanpa rasa takut, kuatir dan selalu cemas. Anak-anak adalah tunas yang berharga untuk dipatahkan hanya oleh nilai, kelulusan dan prestasi. Mereka adalah masa depan yang harusnya disiram tidak dengan kedisplinan tapi tanggung jawab. Yang tidak diajari mematuhi aturan melainkan bagaimana mengemban tanggung jawab kebebasan. Hanya untuk itu saya harus memutuskan untuk keluar dari sekolah. Harus ada martir ibu untuk menjadi petanda bahwa ada yang keliru dari sistem pendidikan yang kita jalani sekarang ini”
Alasan itulah yang kemudian membuat Dewa memutuskan keluar dari sekolah. Waktunya ingin dihabiskan untuk membina sekolah alternatif yang semboyanya 'Belajar bersikap dan berani berpihak pada yang lemah!'. Kata-kata itu bahkan dipasang di spanduk muka rumah. Sekolah itu yang menghabiskan hari-harinya. Beberapa belas anak kemudian terlibat aktif di sekolah itu dengan pengajar sejumlah mahasiswa yang sebagian diantaranya adalah yang tinggal di dekat tempat tinggal Dewa. Walau sekolah itu tidak mendapat ijin dari Depdiknas, tapi pendidikan itu tetap saja berjalan dengan ketentuan yang dibuat bersama-sama siswa. Noeh sang kepala sekolah memang sudah mendengar ide Dewa yang radikal itu tapi ia tetap bertahan bahwa pendidikan haruslah sesuai dengan ketentuan yang digariskan oleh perundang-undangan. Noeh tak mau tahu kalau undang-undang itu disusun oleh beberapa anak yang tak lulus sekolah juga. Ia tak tahu kalau undang-undang hanyalah perpanjangan kepentingan para penguasa, pengusaha pendidikan dan segelintir siswa mapan. Jenis golongan yang selalu merasa pendidikan hanya urusan duit,duit,duit melulu.
Sidang itu berjalan tidak terlampau lama. Hakim seorang yang terkenal akan kewibawaan dan prinsip kejujuranya mulai membacakan putusan dengan berbagai pertimbangan. Sang Hakim yang dikenal kerabat dekat dan konon keturunan Tjipto Mangunkusumo itu mulai memberikan pertimbangan. Ia mengemukakan sebuah penjelasan yang jarang sekali terdengar di persidangan: “Saya tak ingin sebenarnya mengadili kasus yang sudah begitu benderang ini. Saudara Noeh mestinya anda bangga punya siswa yang cerdas seperti Dewa ini. Harusnya anda malu diingatkan tentang tugas pendidikan yang sebenarnya. Jabatan anda sebagai kepala sekolah harusnya menjadi pelindung bagi setiap ide kreatif yang muncul dari anak didiknya. Ide kreatif yang mengalir darinya mengingatkan saya kembali tentang apa sebenarnya arti pendidikan. Kalau saudara Noeh mengartikan pendidikan hanya meneruskan apa bunyi undang-undang dan melakukanya secara kaku tanpa tahu semangat yang mendasarinya maka anda benar-benar bebal. Aku hakim yang tahu bagaimana undang-undang itu diterapkan. Anda itu diberi tanggung jawab sebagai pemangku pendidikan: tahukah anda apa makna pendidikan itu? Pendidikan berbeda dengan sekolah, saudara! Sekolah hanya salah satu alat untuk menghidupkan pendidikan dalam sebuah kenyataan. Kalau sekolah seperti yang saudara pimpin hanya menegakkan kepatuhan, kedispilinan dan tata krama yang feodal itu sama halnya dengan membuat sangkar. Itu hanya untuk burung yang tidak ingin hidup bebas. Bagaimana jiwa-jiwa remaja yang bebas, berani dan memiliki kemauan baja bisa tinggal jika pendidikanya kacau seperti yang anda dirikan ini. Saya malu berdiri disini untuk mengadili orang tua pandir seperti anda. Tapi saya bangga karena kita masih menemukan jiwa pemberontak seperti Dewa. Teruskan nak cita-citamu, kalau aku muda pasti aku akan mengikuti jejakmu dan aku setuju atas pilihanmu meninggalkan sekolah yang dikepalai oleh saudara Noeh ini. Terimakasih!”
Ketukan palu hakim yang bergema keras itu menghantam meja dan diikuti dengan sorak bergembira banyak orang. Diam-diam mereka mendukung ide brillian Dewa. Dewantara telah memenangkan pertarungan yang menyakitkan dengan kepala sekolah. Nampak wajah kepala sekolah yang pucat dan memendam marah. Ia buru-buru keluar persidangan diikuti oleh banyak stafnya. Mungkin ia banding atau bisa jadi ia menyerah pada putusan hakim. Tak tahu apakah perkataan hakim itu mengejeknya, menghinanya atau mempermalukanya. Pak Noeh tampaknya sudah kebal dengan sikap-sikap seperti itu. Ia bukan sekali dua kali mendapat teguran seperti itu. Ia kepala sekolah yang tahan sekaligus tuli terhadap kritikan. Beberapa polisi tampaknya membiarkan tepuk gembira anak-anak remaja. Mereka melompat gembira merayakan menangnya kebebasan melawan kedisplinan yang beku. Mereka begitu antusias merayakan kemenangan keberanian melawan ketakutan akan pembaruan.
Dewantara berdiri diatas tangga peradilan dan menyampaikan sebuah risalah yang menjadi gambaran tentang mimpi pendidikan masa mendatang. “Hari ini terbukti sudah pendidikan yang merayakan akal sehat memenangkan pertarungan. Pendidikan macam inilah yang harusnya hadir di tengah sekolah kita. Aku kini dirikan sebuah sekolah yang ingin mengatakan kepada anak didikku agar mereka berani melakukan tindakan, melahirkan inisiatif dan berani hidup dalam gerakan. Waktunya kita untuk keluar dari sekolah yang hanya mengajarkan pengetahuan palsu dan mengabaikan realitas sebagai sumber pengetahuan. Waktunya juga kita keluar dari lembaga pendidikan yang tak melatih keberpihakan kepada mereka yang lemah. Pendidikan macam itu telah terbukti hanya melahirkan orang pandir tapi memegang kekuasaan. Pendidikan macam itu hanya meluluskan orang pintar yang begitu egois. Malah pendidikan itulah yang membuat negeri ini dipadati oleh para bandit dan kaum koruptor. Pendidikan yang tidak melatih siswanya untuk belajar berorganisasi dan lebih mengajak mereka untuk sekedar menjadi barisan rapi yang pandir dan malas bergerak. Saya sekali lagi tak mau hanya mendirikan sekolah ala kadarnya; yang bisanya hanya meluluskan anak dan memberinya ijazah. Kita harus memperjuangkan pendidikan seperti itu dan membela setiap gagasan yang menuju kesana”
Barisan massa bergerak meninggalkan pengadilan. Ide Dewa menancapkan kembali gagasan tentang sekolah liar. Kata 'liar' istilah yang dulu pernah dipakai oleh orang-orang Belanda ketika memberi cap pada sekolah yang didirikan oleh Soewardi Soerjaningrat. Juga untuk sekolah yang didirikan oleh para nasionalis. Kini sekolah liar itu berdiri di banyak tempat: ada yang berdiri dengan dukungan para petani, ada yang didukung oleh anak-anak jalanan dan ada pula yang muncul karena inisiatif beberapa orang. Kurikulum merekapun bermacam-macam: ada yang lebih banyak memuat pelajaran tari, ada yang menitik-beratkan pada puisi dan ada yang lebih heboh lagi, pelajaran pergerakan. Tak tanggung-tanggung mereka keluar dari orbit kurikulum resmi. Malahan sekolah semacam itu kini menyebar di berbagai pelosok. Ada di Ponorogo, Klaten, Yogyakarta, Wonosobo, Purwokerto, Salatiga, Jakarta, Makasar dan Semarang dll. Jauh lebih menyenangkan berdiri banyak sekolah seperti ini ketimbang partai politik. Sekolah mengantarkan tidak saja kecerdasan kolektif melainkan juga mengusung harapan baru atas masa depan. Partai hanya mengekalkan politisi pandir dan mengantarkan pejabat yang berwatak memalukan. Dewantara kini bukan pribadi yang langka karena banyak orang kini mengambil keputusan seperti dia. Mendirikan sekolah murah, berkualitas dan menyenangkan.
Biarkan saja pemerintah tidak memberi ijin karena memang bukan itu yang dibutuhkan. Yang dipusatkan dalam pendidikan ini adalah anak. Merekalah yang menjadi subyek dan pusat utama pendidikan. Mereka mendapatkan pendidikan yang akan membuat mereka punya 'kenangan dan impian' tentang masa depan yang mereka pilih sendiri. Karena itu pendidikan, sebaiknya, memberi hak pada anak sebesar-besarnya dan memberikan ruang kebebasan sepenuhnya pada mereka. Ringkasnya pendidikan sebaiknya melayani jiwa petualangan dan keingin-tahuan peserta didik. Karena memang begitulah sebenarnya tujuan mulia pendidikan. Kita membutuhkan Dewantara-Dewantara muda yang jauh lebih berani mengambil inisiatif dan punya kegilaan dalam mewujudkanya dalam praktek. Mereka yang mampu mengembalikan pendidikan pada jiwa yang sesungguhnya.






No comments:
Post a Comment