Suatu ketika, saya diajak teman mendatangi sebuah sekolah yang oleh masyarakat sekitar disebut sebagai Rumah Belajar. Sebagaimana namanya, sekolah itu memang sebuah rumah. Rumah yang dihuni oleh seorang Ibu dan dua orang anak perempuannya. Bagi saya yang lama tinggal dikota, memasuki jalan desa yang dijaga akar-akar kuat pohon jati adalah sebuah perjalanan yang menakjubkan! Begitu saya sampai disana, pekarangan yang tak begitu lebar segera menyambut. Pepohonan yang rindang tampak berdiri gagah dikanan-kiri. Sebuah lukisan pemandangan yang sudah sukar diperoleh. Dedaunan kering berserak di pinggir halaman. Rumah bercat putih seperti kantor yang sunyi dari kegiatan. Saya mengetok pintu yang terbuka separo. Sosok perempuan muda menyambut dengan raut wajah sumringah.
‘ada yang bisa saya bantu mas?’ pertanyaan yang tampak tulus dan bersahabat.
‘ya, saya pengin tanya-tanya soal sekolah disini’ kata saya agak ragu.
Maklum saya selalu mendatangi sekolah yang padat dengan siswa. Halamanya berjubel pedagang, anak atau orang tua yang sibuk menjemput. Guru-guru yang saya temui-pun tampak bergegas dan sibuk. Baru kali ini saya temukan sekolah yang sunyi dengan lingkungan yang sejuk. Sambutan hangat membuat saya agak sangsi; betulkah saya sedang berada di sebuah sekolah? Tempat yang biasanya identik dengan kegaduhan. Atau jangan-jangan sekolah ini sedang menikmati liburan panjang? Dugaan itu kemudian runtuh setelah perempuan muda ini tahu apa yang saya agak gelisahkan. Ia menceritakan bahwa anak-anak sedang studi ke luar. Mereka sedang belajar tentang pasar dan meneliti lebih jauh apa saja yang ada disana. Mereka sedang mempraktekkan pola pembelajaran yang mendekatkan siswa dengan perubahan dan sistem sosial.
Aku tersenyum agak malu. Betul jika teman-temanku bilang ini adalah sekolah alternatif yang berbeda dengan sekolah pada umumnya. Jika sekolah lain pembelajaran dikelasnya hanya berorientasi pada informasi dan hafalan, sekolah ini mengawalinya dengan penghayatan dan pengalaman. Sebuah praktek pembelajaran yang pasti sangat menyenangkan dan menggairahkan siswa! Kulihat di ruangan ada gambar Soewardi Soerjaningrat yang lebih dikenal dengan Ki Hadjar Dewantara. Seorang yang telah berjasa banyak dalam merumuskan identitas pendidikan Indonesia. Seorang yang telah membikin pola pendidikan pribumi berbeda dengan pendidikan kolonial. Namun gambar itu kerlihatan buram; seburam cita-citanya yang kini banyak ditanggalkan.
Setelah beberapa saat tertegun, aku mulai menghamburkan rasa penasaranku. ‘mengapa sekolah ini menjalankan kurikulum 'aneh' seperti ini?
Wanita muda itu menerangkan bahwa sistem pembelajaran dikelas yang seperti itu semata-mata dilakukan karena sekolah ini percaya bahwa pendidikan bukan sekedar memberi kepintaran, melainkan juga harus mendorong kematangan anak. Seorang anak dianggap tumbuh dengan bakat serta kemampuan yang berbeda-beda. Adalah tugas sekolah untuk memahami keunikan setiap orang. Sekolah ini juga beranggapan, bahwa pendidikan selayaknya memanggul tiga fungsi dasar, yang disebut sebagai sendi keberanian, yakni: melatih keberanian untuk bersikap, berfikir dan berfihak. Alur pendidikan dikelas didesain sedemikian rupa untuk bisa mencapai target yang dikonsepkan tersebut. Pendidikan dianggap tak ada gunanya jika hanya membuat pintar tapi menghilangkan kata tanggung jawab. Saya jadi teringat Ki hadjar dewantara yang juga pernah menegaskan bahwa pembentukan karakter adalah tugas utama dalam pembelajaran.
Aku seperti tak sedang mendengar ceramah, tapi lebih tepatnya sebuah keyakinan! Kupandang perempuan yang duduk dihadapanku tersebut dengan penuh kekaguman. Ia adalah teman diskusi yang handal. Prinsip yang dikatakanya tadi telah menanamkan akar pemikiran yang telah lama dicabut dari dunia pendidikan yang kini makin terpuruk; kian rapuh dan tidak pernah mendapat perhatian yang serius. Pendidikan semakin lama makin brengsek karena kehilangan cita-cita. Orientasi yang akan membentuk anak rasanya makin kabur. Berbagai kurikulum dibolak-balik dan hanya memboroskan biaya. Karena itulah aku sering bosan mengeluhkan problematika pendidikan ini, karena sebenarnya pendidikan sejak lama berkubang pada soal-soal yang terus saja sama. Kini aku seperti menemukan surga pendidikan yang sebenarnya.
Belum lama ini aku menemui juga sekolah yang dikatakan unggulan. Tempatnya megah dan penuh dengan fasilitas. Di sekolah ada kolam renang, lapangan basket hingga laboratrium komputer yang sempurna. Aku tanya apa keunggulan sekolah yang letaknya jauh dari kepadatan ini. Sebuah jawaban yang menyembur bikin kepalaku pening mendengarnya.
‘kami ingin didik anak pintar dan bertakwa. Sekolah ini tak ingin ada kemalasan, sikap masa bodoh dan tidak peduli. Tiap pagi kami selalu menempatkan seorang penjaga di pintu gerbang, untuk menghukum mereka yang terlambat. Kenalkan anak dengan disiplin maka sampai kapanpun mereka akan mengerti arti kedisiplinan. Buat kami kedisplinan itu lebih penting ketimbang segalanya. Tak ada pembelajaran tanpa disiplin. Bahkan kami selalu memberi buku evaluasi ibadah pada tiap siswa yang pulang sekolah, agar mereka tetap dalam pengawasan kami hingga di rumah. Terbukti sekolah ini selalu meluluskan anak-anak pintar yang berhasil mendapat sekolah favorit. Kami tak main-main dengan guru yang kami gaji berlebih agar mereka dapat memberi pengajaran yang berkualitas. Pengajaran berkualitas itu ditunjukkan melalui hasil yang tinggi, semangat yang gigih dan kemauan yang besar. Maka sekolah ini sengaja sampai sore agar anak tak menyia-nyiakan waktu selama di luar sekolah’
Bayangan ceramah pendek tapi mengerikan itu yang kerapkali aku dapatkan ketika aku bertanya tentang konsep pembelajaran disekolah-sekolah lainnya. Kadang aku tak tahu bagaimana para pengelola sekolah memandang arti sebuah pendidikan. Aku kuatir pendidikan dengan pendisiplinan adalah kata yang sepadan. Sekolah unggulan yang pelataranya dipenuhi oleh mobil seperti yang pernah kudatangi itu sangat mengaggumi prestasi-prestasi besar. Sering kulihat disekolah-sekolah seperti itu, ada foto beberapa anak yang memenangkan olimpiade. Jadwal pelajaranya padat dengan himbauan untuk terus berdisiplin sampai di manapun. Kalau aku bertanya: bagaimana sistem pembelajaran yang diberlakukan dikelas? pasti akan selalu ada jawaban soal disiplin. Kata yang tak dapat ditinggalkan ketika bicara apa saja. Bahkan ada kelas yang isinya semua anak pandai dengan tingkat disiplin yang menakjubkan. Kutengok sekolah itu yang berisi anak-anak yang kehilangan jiwa: sangat serius dan memandang curiga pada setiap orang baru. Aku kuatir sekolah ini tak mencetak siswa unggul tapi sesosok monster. Sosok yang tak pernah percaya pada hakekat kemanusiaan dan selalu ingin unggul diatas siapapun. Mungkin karena itu aku kurang percaya kalau sekolah beginian dinamai dengan pendidikan.
Berbeda dengan sekolah yang ditunggui wanita muda ini. Ia tampak seperti rumah biasa. Tak ada gedung, tak ada alat-alat peraga yang hebat dan mahal, bahkan yang menemuiku juga bukan seorang yang tampak berpenampilan seperti petugas. Kemejanya sederhana dan tak berseragam. Aku sejak dulu memang tak terlalu percaya pada seragam, karena hal itu lebih tampak sebagai pemaksaan ketimbang tampilan kecerdasan. Sesaat saja aku menemukan keteduhan di lingkungan yang sama sekali tak mirip kantor ini.
‘petugas lain kemana saja kok sepi? Begitu tanyaku sekenanya
Aku sangat tercengang ketika mengetahui bahwa di sekolah ini hanya ada guru dan siswa. Petugas kebersihan tidak ada dan petugas keamanan-pun tidak di perlukan. Ibu pemilik rumah sebagai penanggung jawab sekaligus penasehat, yang menemui saya sebagai kepala sekolah, dan adiknya yg masih kelas satu SMA merangkap guru dan petugas administrasi. Selain itu, aktivis-aktivis dari berbagai gerakan mahasiswa juga tampak terdaftar sebagai tenaga pengajar. Menurut perngelola sekolah ini, semua dilakukan oleh siswa sendiri. Membersihkan sekolah, menertibkan kelas dan membagi makanan yang mereka bawa sendiri dari rumah. Organisasi siswa yang punya kegiatan mengelola lingkungan diatur menurut keinginan anak sendiri. Cara seperti itu diharapkan agar membentuk siswa merasa memiliki lingkunganya, dan melatih agar mereka tidak menjadi ‘majikan’ bagi orang lain.
Aku hanya mampu tertegun mendengar keterangan itu. Sebuah sekolah yang merangkap kelas. Kelas merangkap alam dan guru-gurunya juga merangkap berbagai macam tugas-tugas administratif. Memang mungkin sekolah macam ini tak akan bisa diakui secara layak oleh Dinas pendidikan. Aku teringat, waktu aku bersama teman-teman aktivis mahasiswa dan beberapa tokoh LSM mencoba menggagas sekolah semacam ini namun ingin mendapat predikat formal dari Dinas. Ternyata susahnya minta ampun! Ketika kami bertandang ke Dinas, sebuah pertanyaan yang kecut langsung menjadi salam pembuka bagi kedatangan kami. “Kamu punya duit berapa, mau mendirikan sekolah? Sudah punya gedung? Sudah punya infra struktur yang lengkap?” pertanyaan apapun dari kami selalu disambut dengan jawaban yang serupa itu.
Mutu sekolah, selama ini hanya dipahami dari apa yang disebutkan Dinas Pendidikan diatas. Padahal, sebagaimana di Rumah Belajar diatas, mutu pendidikan ini menurut saya tolak ukurnya sangat simpel: Pendidikan yang diperoleh bisa dipraktekkan dalam hidup sehari-hari. Pelajaran yang didapat akan jadi bekal pemahaman dalam hidup bermasyarakat. Pendidikan yang diperoleh bisa mendorong mereka untuk hidup bersama dan bekerja-sama. Pendidikan akan membuat mereka menjadi manusia pembelajar. Mutu itu terletak pada kedekatan siswa dengan lingkungan keseharian sekaligus mewarnai dalam perilaku mereka. Pendidikan melatih anak untuk berani bersikap dan mengajak mereka untuk berpihak kepada kelompok-kelompok yang lemah. Karena dengan sikap berpihak akan terbentuk karakter. Pendidikan harus bisa mengajarkan ‘apa yang kami katakan itulah yang kami lakukan’. Kata dan perbuatan harus sejajar. Itu yang akan mengajari anak untuk tidak bersikap egois dan individualis. Peserta didik perlu belajar bagaimana hidup itu memerlukan kebersamaan dan sikap untuk saling menghormati. Setidak-tidaknya mereka belajar bahwa kebersamaan menuntut untuk menanggalkan sikap mementingkan diri sendiri. Saling membantu akan mengajarkan mereka solidaritas. Karakter ini tidak hanya melalui pendidikan agama dan budi pekerti tetapi bagaimana setiap proses pembelajaran melatih mereka untuk bersama.
Sekolah, terutama pembelajaran dikelas harus berusaha mengembangkan kesadaran dan hak siswa akan pengetahuan. Kesadaran akan membuat siswa mengerti dimana mereka tinggal dan bagaimana mereka harus berbuat. Seorang anak adalah pribadi yang tumbuh dengan kreativitas, iminaginasi dan inisiatif yang kaya. Karena itu seorang anak, adalah subyek yang bebas, mandiri dan bertanggung jawab. Kemiskinan yang umumnya mereka sandang tak membuat mereka kehilangan kepercayaan dan harapan. Menyalakan harapan adalah tugas utama seorang guru dikelas.
Tanpa itu semua, pendidikan dikelas hanyalah sebagaimana yg tergambar dalam puisi Wiji Thukul ini:
Pada masa kanak-kanakku
Setiap jam tujuh pagi
Aku harus seragam
Bawa buku harus mbayar
Ke sekolah
Katanya aku bodoh
Kalau tidak bisa menjawab
Pertanyaan guru
Yang diatur kurikulum
Aku dibentak dinilai buruk
Kalau tidak bisa mengisi dua kali dua
Aku harus menghapal
Mataku mau tak mau harus dijejali huruf-huruf
Aku harus tahu siapa presidenku
Aku harus tahu ibukota negaraku
Tanpa aku tahu
Apa maknanya bagiku
Pada masa kanak-kanakku
Aku jadi seragam
Buku pelajaran sangat kejam
Aku tidak boleh menguap di kelas
Aku harus duduk menghadap papan di depan
Sebelum bel tidak boleh mengantuk
(Kenangan anak-anak Seragam, Wiji Thukul)
Sungguh! suatu keadaan yang tak mampu memberikan kesan apa-apa bagi peserta didik; kecuali kejengkelan sepanjang masa. Kejengkelan karena ia harus rajin berangkat sekolah dan dihukum dengan ketegangan yang diatas namakan kedisiplinan. Kejengkelan karena ia tak pernah dihargai dikelas, malah justru mereka yang harus menghargai mahal terhadap sekolah. Belum lagi seabrek pelajaran yang beratnya melebihi berat badan mereka. Sudah gitu, lulus pun mereka masih harus kebingungan mau ngapain. Untuk itu, ditengah bobroknya model pengajaran didunia pendidikan formal, tampaknya model-model kelas alternatif seperti diatas bisa menjadi angin segar bagi terciptanya generasi masa depan yang mampu mewarnai perubahan di masyarakat.
‘ada yang bisa saya bantu mas?’ pertanyaan yang tampak tulus dan bersahabat.
‘ya, saya pengin tanya-tanya soal sekolah disini’ kata saya agak ragu.
Maklum saya selalu mendatangi sekolah yang padat dengan siswa. Halamanya berjubel pedagang, anak atau orang tua yang sibuk menjemput. Guru-guru yang saya temui-pun tampak bergegas dan sibuk. Baru kali ini saya temukan sekolah yang sunyi dengan lingkungan yang sejuk. Sambutan hangat membuat saya agak sangsi; betulkah saya sedang berada di sebuah sekolah? Tempat yang biasanya identik dengan kegaduhan. Atau jangan-jangan sekolah ini sedang menikmati liburan panjang? Dugaan itu kemudian runtuh setelah perempuan muda ini tahu apa yang saya agak gelisahkan. Ia menceritakan bahwa anak-anak sedang studi ke luar. Mereka sedang belajar tentang pasar dan meneliti lebih jauh apa saja yang ada disana. Mereka sedang mempraktekkan pola pembelajaran yang mendekatkan siswa dengan perubahan dan sistem sosial.
Setelah beberapa saat tertegun, aku mulai menghamburkan rasa penasaranku. ‘mengapa sekolah ini menjalankan kurikulum 'aneh' seperti ini?
Wanita muda itu menerangkan bahwa sistem pembelajaran dikelas yang seperti itu semata-mata dilakukan karena sekolah ini percaya bahwa pendidikan bukan sekedar memberi kepintaran, melainkan juga harus mendorong kematangan anak. Seorang anak dianggap tumbuh dengan bakat serta kemampuan yang berbeda-beda. Adalah tugas sekolah untuk memahami keunikan setiap orang. Sekolah ini juga beranggapan, bahwa pendidikan selayaknya memanggul tiga fungsi dasar, yang disebut sebagai sendi keberanian, yakni: melatih keberanian untuk bersikap, berfikir dan berfihak. Alur pendidikan dikelas didesain sedemikian rupa untuk bisa mencapai target yang dikonsepkan tersebut. Pendidikan dianggap tak ada gunanya jika hanya membuat pintar tapi menghilangkan kata tanggung jawab. Saya jadi teringat Ki hadjar dewantara yang juga pernah menegaskan bahwa pembentukan karakter adalah tugas utama dalam pembelajaran.
Aku seperti tak sedang mendengar ceramah, tapi lebih tepatnya sebuah keyakinan! Kupandang perempuan yang duduk dihadapanku tersebut dengan penuh kekaguman. Ia adalah teman diskusi yang handal. Prinsip yang dikatakanya tadi telah menanamkan akar pemikiran yang telah lama dicabut dari dunia pendidikan yang kini makin terpuruk; kian rapuh dan tidak pernah mendapat perhatian yang serius. Pendidikan semakin lama makin brengsek karena kehilangan cita-cita. Orientasi yang akan membentuk anak rasanya makin kabur. Berbagai kurikulum dibolak-balik dan hanya memboroskan biaya. Karena itulah aku sering bosan mengeluhkan problematika pendidikan ini, karena sebenarnya pendidikan sejak lama berkubang pada soal-soal yang terus saja sama. Kini aku seperti menemukan surga pendidikan yang sebenarnya.
Belum lama ini aku menemui juga sekolah yang dikatakan unggulan. Tempatnya megah dan penuh dengan fasilitas. Di sekolah ada kolam renang, lapangan basket hingga laboratrium komputer yang sempurna. Aku tanya apa keunggulan sekolah yang letaknya jauh dari kepadatan ini. Sebuah jawaban yang menyembur bikin kepalaku pening mendengarnya.
‘kami ingin didik anak pintar dan bertakwa. Sekolah ini tak ingin ada kemalasan, sikap masa bodoh dan tidak peduli. Tiap pagi kami selalu menempatkan seorang penjaga di pintu gerbang, untuk menghukum mereka yang terlambat. Kenalkan anak dengan disiplin maka sampai kapanpun mereka akan mengerti arti kedisiplinan. Buat kami kedisplinan itu lebih penting ketimbang segalanya. Tak ada pembelajaran tanpa disiplin. Bahkan kami selalu memberi buku evaluasi ibadah pada tiap siswa yang pulang sekolah, agar mereka tetap dalam pengawasan kami hingga di rumah. Terbukti sekolah ini selalu meluluskan anak-anak pintar yang berhasil mendapat sekolah favorit. Kami tak main-main dengan guru yang kami gaji berlebih agar mereka dapat memberi pengajaran yang berkualitas. Pengajaran berkualitas itu ditunjukkan melalui hasil yang tinggi, semangat yang gigih dan kemauan yang besar. Maka sekolah ini sengaja sampai sore agar anak tak menyia-nyiakan waktu selama di luar sekolah’
Bayangan ceramah pendek tapi mengerikan itu yang kerapkali aku dapatkan ketika aku bertanya tentang konsep pembelajaran disekolah-sekolah lainnya. Kadang aku tak tahu bagaimana para pengelola sekolah memandang arti sebuah pendidikan. Aku kuatir pendidikan dengan pendisiplinan adalah kata yang sepadan. Sekolah unggulan yang pelataranya dipenuhi oleh mobil seperti yang pernah kudatangi itu sangat mengaggumi prestasi-prestasi besar. Sering kulihat disekolah-sekolah seperti itu, ada foto beberapa anak yang memenangkan olimpiade. Jadwal pelajaranya padat dengan himbauan untuk terus berdisiplin sampai di manapun. Kalau aku bertanya: bagaimana sistem pembelajaran yang diberlakukan dikelas? pasti akan selalu ada jawaban soal disiplin. Kata yang tak dapat ditinggalkan ketika bicara apa saja. Bahkan ada kelas yang isinya semua anak pandai dengan tingkat disiplin yang menakjubkan. Kutengok sekolah itu yang berisi anak-anak yang kehilangan jiwa: sangat serius dan memandang curiga pada setiap orang baru. Aku kuatir sekolah ini tak mencetak siswa unggul tapi sesosok monster. Sosok yang tak pernah percaya pada hakekat kemanusiaan dan selalu ingin unggul diatas siapapun. Mungkin karena itu aku kurang percaya kalau sekolah beginian dinamai dengan pendidikan.
Berbeda dengan sekolah yang ditunggui wanita muda ini. Ia tampak seperti rumah biasa. Tak ada gedung, tak ada alat-alat peraga yang hebat dan mahal, bahkan yang menemuiku juga bukan seorang yang tampak berpenampilan seperti petugas. Kemejanya sederhana dan tak berseragam. Aku sejak dulu memang tak terlalu percaya pada seragam, karena hal itu lebih tampak sebagai pemaksaan ketimbang tampilan kecerdasan. Sesaat saja aku menemukan keteduhan di lingkungan yang sama sekali tak mirip kantor ini.
‘petugas lain kemana saja kok sepi? Begitu tanyaku sekenanya
Aku sangat tercengang ketika mengetahui bahwa di sekolah ini hanya ada guru dan siswa. Petugas kebersihan tidak ada dan petugas keamanan-pun tidak di perlukan. Ibu pemilik rumah sebagai penanggung jawab sekaligus penasehat, yang menemui saya sebagai kepala sekolah, dan adiknya yg masih kelas satu SMA merangkap guru dan petugas administrasi. Selain itu, aktivis-aktivis dari berbagai gerakan mahasiswa juga tampak terdaftar sebagai tenaga pengajar. Menurut perngelola sekolah ini, semua dilakukan oleh siswa sendiri. Membersihkan sekolah, menertibkan kelas dan membagi makanan yang mereka bawa sendiri dari rumah. Organisasi siswa yang punya kegiatan mengelola lingkungan diatur menurut keinginan anak sendiri. Cara seperti itu diharapkan agar membentuk siswa merasa memiliki lingkunganya, dan melatih agar mereka tidak menjadi ‘majikan’ bagi orang lain.
Aku hanya mampu tertegun mendengar keterangan itu. Sebuah sekolah yang merangkap kelas. Kelas merangkap alam dan guru-gurunya juga merangkap berbagai macam tugas-tugas administratif. Memang mungkin sekolah macam ini tak akan bisa diakui secara layak oleh Dinas pendidikan. Aku teringat, waktu aku bersama teman-teman aktivis mahasiswa dan beberapa tokoh LSM mencoba menggagas sekolah semacam ini namun ingin mendapat predikat formal dari Dinas. Ternyata susahnya minta ampun! Ketika kami bertandang ke Dinas, sebuah pertanyaan yang kecut langsung menjadi salam pembuka bagi kedatangan kami. “Kamu punya duit berapa, mau mendirikan sekolah? Sudah punya gedung? Sudah punya infra struktur yang lengkap?” pertanyaan apapun dari kami selalu disambut dengan jawaban yang serupa itu.
Mutu sekolah, selama ini hanya dipahami dari apa yang disebutkan Dinas Pendidikan diatas. Padahal, sebagaimana di Rumah Belajar diatas, mutu pendidikan ini menurut saya tolak ukurnya sangat simpel: Pendidikan yang diperoleh bisa dipraktekkan dalam hidup sehari-hari. Pelajaran yang didapat akan jadi bekal pemahaman dalam hidup bermasyarakat. Pendidikan yang diperoleh bisa mendorong mereka untuk hidup bersama dan bekerja-sama. Pendidikan akan membuat mereka menjadi manusia pembelajar. Mutu itu terletak pada kedekatan siswa dengan lingkungan keseharian sekaligus mewarnai dalam perilaku mereka. Pendidikan melatih anak untuk berani bersikap dan mengajak mereka untuk berpihak kepada kelompok-kelompok yang lemah. Karena dengan sikap berpihak akan terbentuk karakter. Pendidikan harus bisa mengajarkan ‘apa yang kami katakan itulah yang kami lakukan’. Kata dan perbuatan harus sejajar. Itu yang akan mengajari anak untuk tidak bersikap egois dan individualis. Peserta didik perlu belajar bagaimana hidup itu memerlukan kebersamaan dan sikap untuk saling menghormati. Setidak-tidaknya mereka belajar bahwa kebersamaan menuntut untuk menanggalkan sikap mementingkan diri sendiri. Saling membantu akan mengajarkan mereka solidaritas. Karakter ini tidak hanya melalui pendidikan agama dan budi pekerti tetapi bagaimana setiap proses pembelajaran melatih mereka untuk bersama.
Sekolah, terutama pembelajaran dikelas harus berusaha mengembangkan kesadaran dan hak siswa akan pengetahuan. Kesadaran akan membuat siswa mengerti dimana mereka tinggal dan bagaimana mereka harus berbuat. Seorang anak adalah pribadi yang tumbuh dengan kreativitas, iminaginasi dan inisiatif yang kaya. Karena itu seorang anak, adalah subyek yang bebas, mandiri dan bertanggung jawab. Kemiskinan yang umumnya mereka sandang tak membuat mereka kehilangan kepercayaan dan harapan. Menyalakan harapan adalah tugas utama seorang guru dikelas.
Tanpa itu semua, pendidikan dikelas hanyalah sebagaimana yg tergambar dalam puisi Wiji Thukul ini:
Pada masa kanak-kanakku
Setiap jam tujuh pagi
Aku harus seragam
Bawa buku harus mbayar
Ke sekolah
Katanya aku bodoh
Kalau tidak bisa menjawab
Pertanyaan guru
Yang diatur kurikulum
Aku dibentak dinilai buruk
Kalau tidak bisa mengisi dua kali dua
Aku harus menghapal
Mataku mau tak mau harus dijejali huruf-huruf
Aku harus tahu siapa presidenku
Aku harus tahu ibukota negaraku
Tanpa aku tahu
Apa maknanya bagiku
Pada masa kanak-kanakku
Aku jadi seragam
Buku pelajaran sangat kejam
Aku tidak boleh menguap di kelas
Aku harus duduk menghadap papan di depan
Sebelum bel tidak boleh mengantuk
(Kenangan anak-anak Seragam, Wiji Thukul)
Sungguh! suatu keadaan yang tak mampu memberikan kesan apa-apa bagi peserta didik; kecuali kejengkelan sepanjang masa. Kejengkelan karena ia harus rajin berangkat sekolah dan dihukum dengan ketegangan yang diatas namakan kedisiplinan. Kejengkelan karena ia tak pernah dihargai dikelas, malah justru mereka yang harus menghargai mahal terhadap sekolah. Belum lagi seabrek pelajaran yang beratnya melebihi berat badan mereka. Sudah gitu, lulus pun mereka masih harus kebingungan mau ngapain. Untuk itu, ditengah bobroknya model pengajaran didunia pendidikan formal, tampaknya model-model kelas alternatif seperti diatas bisa menjadi angin segar bagi terciptanya generasi masa depan yang mampu mewarnai perubahan di masyarakat.


















