Wednesday, January 23, 2013

NYALAKAN HARAPAN ANAK DARI KELAS ALTERNATIF!

    Suatu ketika, saya diajak teman mendatangi sebuah sekolah yang oleh masyarakat sekitar disebut sebagai Rumah Belajar. Sebagaimana namanya, sekolah itu memang sebuah rumah. Rumah yang dihuni oleh seorang Ibu dan dua orang anak perempuannya. Bagi saya yang lama tinggal dikota, memasuki jalan desa yang dijaga akar-akar kuat pohon jati adalah sebuah perjalanan yang menakjubkan! Begitu saya sampai disana,  pekarangan yang tak begitu lebar segera menyambut. Pepohonan yang rindang tampak berdiri gagah dikanan-kiri. Sebuah lukisan pemandangan yang sudah sukar diperoleh. Dedaunan kering berserak di pinggir halaman. Rumah bercat putih seperti kantor yang sunyi dari kegiatan. Saya mengetok pintu yang terbuka separo. Sosok perempuan muda menyambut dengan raut wajah sumringah.
    ‘ada yang bisa saya bantu mas?’ pertanyaan yang tampak tulus dan bersahabat.
    ‘ya, saya pengin tanya-tanya soal sekolah disini’ kata saya agak ragu.
Maklum saya selalu mendatangi sekolah yang padat dengan siswa. Halamanya berjubel pedagang, anak atau orang tua yang sibuk menjemput. Guru-guru yang saya temui-pun tampak bergegas dan sibuk. Baru kali ini saya temukan sekolah yang sunyi dengan lingkungan yang sejuk. Sambutan hangat membuat saya agak sangsi; betulkah saya sedang berada di sebuah sekolah? Tempat yang biasanya identik dengan kegaduhan. Atau jangan-jangan sekolah ini sedang menikmati liburan panjang? Dugaan itu kemudian runtuh setelah perempuan muda ini tahu apa yang saya agak gelisahkan. Ia menceritakan bahwa anak-anak sedang studi ke luar. Mereka sedang belajar tentang pasar dan meneliti lebih jauh apa saja yang ada disana. Mereka sedang mempraktekkan pola pembelajaran yang mendekatkan siswa dengan perubahan dan sistem sosial.

    Aku tersenyum agak malu. Betul jika teman-temanku bilang ini adalah sekolah alternatif yang berbeda dengan sekolah pada umumnya. Jika sekolah lain pembelajaran dikelasnya hanya berorientasi pada informasi dan hafalan, sekolah ini mengawalinya dengan penghayatan dan pengalaman. Sebuah praktek pembelajaran yang pasti sangat menyenangkan dan menggairahkan siswa! Kulihat di ruangan ada gambar Soewardi Soerjaningrat yang lebih dikenal dengan Ki Hadjar Dewantara. Seorang yang telah berjasa banyak dalam merumuskan identitas pendidikan Indonesia. Seorang yang telah membikin pola pendidikan pribumi berbeda dengan pendidikan kolonial. Namun gambar itu kerlihatan buram; seburam cita-citanya yang kini banyak ditanggalkan.

    Setelah beberapa saat tertegun, aku mulai menghamburkan rasa penasaranku. ‘mengapa sekolah ini menjalankan kurikulum 'aneh' seperti ini?
Wanita muda itu menerangkan bahwa sistem pembelajaran dikelas yang seperti itu semata-mata dilakukan karena sekolah ini percaya bahwa pendidikan bukan sekedar memberi kepintaran, melainkan juga harus mendorong kematangan anak. Seorang anak dianggap tumbuh dengan bakat serta kemampuan yang berbeda-beda. Adalah tugas sekolah untuk memahami keunikan setiap orang. Sekolah ini juga beranggapan, bahwa pendidikan selayaknya memanggul tiga fungsi dasar, yang disebut sebagai sendi keberanian, yakni: melatih keberanian untuk bersikap, berfikir dan berfihak. Alur pendidikan dikelas didesain sedemikian rupa untuk bisa mencapai target yang dikonsepkan tersebut. Pendidikan dianggap tak ada gunanya jika hanya membuat pintar tapi menghilangkan kata tanggung jawab. Saya jadi teringat Ki hadjar dewantara yang juga pernah menegaskan  bahwa pembentukan karakter adalah tugas utama dalam pembelajaran.

    Aku seperti tak sedang mendengar ceramah, tapi lebih tepatnya sebuah keyakinan! Kupandang perempuan yang duduk dihadapanku tersebut dengan penuh kekaguman. Ia adalah teman diskusi yang handal. Prinsip yang dikatakanya tadi telah menanamkan akar pemikiran yang telah lama dicabut dari dunia pendidikan yang kini makin terpuruk; kian rapuh dan tidak pernah mendapat perhatian yang serius. Pendidikan semakin lama makin brengsek karena kehilangan cita-cita. Orientasi yang akan membentuk anak rasanya makin kabur. Berbagai kurikulum dibolak-balik dan hanya memboroskan biaya. Karena itulah aku sering bosan mengeluhkan problematika pendidikan ini, karena sebenarnya pendidikan sejak lama berkubang pada soal-soal yang terus saja sama. Kini aku seperti menemukan surga pendidikan yang sebenarnya.

    Belum lama ini aku menemui juga sekolah yang dikatakan unggulan. Tempatnya megah dan penuh dengan fasilitas. Di sekolah ada kolam renang, lapangan basket hingga laboratrium komputer yang sempurna. Aku tanya apa keunggulan sekolah yang letaknya jauh dari kepadatan ini. Sebuah jawaban yang menyembur bikin kepalaku pening mendengarnya.

    ‘kami ingin didik anak pintar dan bertakwa. Sekolah ini tak ingin ada kemalasan, sikap masa bodoh dan tidak peduli. Tiap pagi kami selalu menempatkan seorang penjaga di pintu gerbang, untuk menghukum mereka yang terlambat. Kenalkan anak dengan disiplin maka sampai kapanpun mereka akan mengerti arti kedisiplinan. Buat kami kedisplinan itu lebih penting ketimbang segalanya. Tak ada pembelajaran tanpa disiplin. Bahkan kami selalu memberi buku evaluasi ibadah pada tiap siswa yang pulang sekolah, agar mereka tetap dalam pengawasan kami hingga di rumah. Terbukti sekolah ini selalu meluluskan anak-anak pintar yang berhasil mendapat sekolah favorit. Kami tak main-main dengan guru yang kami gaji berlebih agar mereka dapat memberi pengajaran yang berkualitas. Pengajaran berkualitas itu ditunjukkan melalui hasil yang tinggi, semangat yang gigih dan kemauan yang besar. Maka sekolah ini sengaja sampai sore agar anak tak menyia-nyiakan waktu selama di luar sekolah’

    Bayangan ceramah pendek tapi mengerikan itu yang kerapkali aku dapatkan ketika aku bertanya tentang konsep pembelajaran disekolah-sekolah lainnya. Kadang aku tak tahu bagaimana para pengelola sekolah memandang arti sebuah pendidikan. Aku kuatir pendidikan dengan pendisiplinan adalah kata yang sepadan. Sekolah unggulan yang pelataranya dipenuhi oleh mobil seperti yang pernah kudatangi itu sangat mengaggumi prestasi-prestasi besar. Sering kulihat disekolah-sekolah seperti itu, ada foto beberapa anak yang memenangkan olimpiade. Jadwal pelajaranya padat dengan himbauan untuk terus berdisiplin sampai di manapun. Kalau aku bertanya: bagaimana sistem pembelajaran yang diberlakukan dikelas? pasti akan selalu ada jawaban soal disiplin. Kata yang tak dapat ditinggalkan ketika bicara apa saja. Bahkan ada kelas yang isinya semua anak pandai dengan tingkat disiplin yang menakjubkan. Kutengok sekolah itu yang berisi anak-anak yang kehilangan jiwa: sangat serius dan memandang curiga pada setiap orang baru. Aku kuatir sekolah ini tak mencetak siswa unggul tapi sesosok monster. Sosok yang tak pernah percaya pada hakekat kemanusiaan dan selalu ingin unggul diatas siapapun. Mungkin karena itu aku kurang percaya kalau sekolah beginian dinamai dengan pendidikan.

    Berbeda dengan sekolah yang ditunggui wanita muda ini. Ia tampak seperti rumah biasa. Tak ada gedung, tak ada alat-alat peraga yang hebat dan mahal, bahkan yang menemuiku juga bukan seorang yang tampak berpenampilan seperti petugas. Kemejanya sederhana dan tak berseragam. Aku sejak dulu memang tak terlalu percaya pada seragam, karena hal itu lebih tampak sebagai pemaksaan ketimbang tampilan kecerdasan. Sesaat saja aku menemukan keteduhan di lingkungan yang  sama sekali tak mirip kantor ini.
‘petugas lain kemana saja kok sepi? Begitu tanyaku sekenanya

    Aku sangat tercengang ketika mengetahui bahwa di sekolah ini hanya ada guru dan siswa. Petugas kebersihan tidak ada dan petugas keamanan-pun tidak di perlukan. Ibu pemilik rumah sebagai penanggung jawab sekaligus penasehat, yang menemui saya sebagai kepala sekolah, dan adiknya yg masih kelas satu SMA merangkap guru dan petugas administrasi. Selain itu,  aktivis-aktivis dari berbagai gerakan mahasiswa juga tampak terdaftar sebagai tenaga pengajar. Menurut perngelola sekolah ini, semua dilakukan oleh siswa sendiri. Membersihkan sekolah, menertibkan kelas dan membagi makanan yang mereka bawa sendiri dari rumah.  Organisasi siswa yang punya kegiatan mengelola lingkungan diatur menurut keinginan anak sendiri. Cara seperti itu diharapkan agar membentuk siswa merasa memiliki lingkunganya, dan melatih agar mereka tidak menjadi ‘majikan’ bagi orang lain.

    Aku hanya mampu tertegun mendengar keterangan itu. Sebuah sekolah yang merangkap kelas. Kelas merangkap alam dan guru-gurunya juga merangkap berbagai macam tugas-tugas administratif.  Memang mungkin sekolah macam ini tak akan bisa diakui secara layak oleh Dinas pendidikan. Aku teringat, waktu aku bersama teman-teman aktivis mahasiswa dan beberapa tokoh LSM mencoba menggagas sekolah semacam ini namun ingin mendapat predikat formal dari Dinas. Ternyata susahnya minta ampun! Ketika kami bertandang ke Dinas, sebuah pertanyaan yang kecut langsung menjadi salam pembuka bagi kedatangan kami. “Kamu punya duit berapa, mau mendirikan sekolah? Sudah punya gedung? Sudah punya infra struktur yang lengkap?” pertanyaan apapun dari kami selalu disambut dengan jawaban yang serupa itu.

    Mutu sekolah, selama ini hanya dipahami dari apa yang disebutkan Dinas Pendidikan diatas. Padahal, sebagaimana di Rumah Belajar diatas, mutu pendidikan ini menurut saya  tolak ukurnya sangat simpel: Pendidikan yang diperoleh bisa dipraktekkan dalam hidup sehari-hari. Pelajaran yang didapat akan jadi bekal pemahaman dalam hidup bermasyarakat. Pendidikan yang diperoleh bisa mendorong mereka untuk hidup bersama dan bekerja-sama. Pendidikan akan membuat mereka menjadi manusia pembelajar. Mutu itu terletak pada kedekatan siswa dengan lingkungan keseharian sekaligus mewarnai dalam perilaku mereka. Pendidikan melatih anak untuk berani bersikap dan mengajak mereka untuk berpihak kepada kelompok-kelompok yang lemah. Karena dengan sikap berpihak akan terbentuk karakter. Pendidikan harus bisa mengajarkan ‘apa yang kami katakan itulah yang kami lakukan’. Kata dan perbuatan harus sejajar. Itu yang akan mengajari anak untuk tidak bersikap egois dan individualis. Peserta didik perlu belajar bagaimana hidup itu memerlukan kebersamaan dan sikap untuk saling menghormati. Setidak-tidaknya mereka belajar bahwa kebersamaan menuntut untuk menanggalkan sikap mementingkan diri sendiri. Saling membantu akan mengajarkan mereka solidaritas. Karakter ini tidak hanya melalui pendidikan agama dan budi pekerti tetapi bagaimana setiap proses pembelajaran melatih mereka untuk bersama.

    Sekolah, terutama pembelajaran dikelas harus berusaha mengembangkan kesadaran dan hak siswa akan pengetahuan. Kesadaran akan membuat siswa mengerti dimana mereka tinggal dan bagaimana mereka harus berbuat. Seorang anak adalah pribadi yang tumbuh dengan kreativitas, iminaginasi dan inisiatif yang kaya. Karena itu seorang anak, adalah subyek yang bebas, mandiri dan bertanggung jawab. Kemiskinan yang umumnya mereka sandang tak membuat mereka kehilangan kepercayaan dan harapan. Menyalakan harapan adalah tugas utama seorang guru dikelas.
Tanpa itu semua, pendidikan dikelas hanyalah sebagaimana yg tergambar dalam puisi Wiji Thukul ini:
Pada masa kanak-kanakku
Setiap jam tujuh pagi
Aku harus seragam
Bawa buku harus mbayar
Ke sekolah

Katanya aku bodoh
Kalau tidak bisa menjawab
Pertanyaan guru
Yang diatur kurikulum

Aku dibentak dinilai buruk
Kalau tidak bisa mengisi dua kali dua
Aku harus menghapal
Mataku mau tak mau harus dijejali huruf-huruf
Aku harus tahu siapa presidenku
Aku harus tahu ibukota negaraku
Tanpa aku tahu
Apa maknanya bagiku

Pada masa kanak-kanakku
Aku jadi seragam
Buku pelajaran sangat kejam
Aku tidak boleh menguap di kelas
Aku harus duduk menghadap papan di depan
Sebelum bel tidak boleh mengantuk

(Kenangan anak-anak Seragam, Wiji Thukul)

    Sungguh! suatu keadaan yang tak mampu memberikan kesan apa-apa bagi peserta didik; kecuali kejengkelan sepanjang masa. Kejengkelan karena ia harus rajin berangkat sekolah dan dihukum dengan ketegangan yang diatas namakan kedisiplinan. Kejengkelan karena ia tak pernah dihargai dikelas, malah justru mereka yang harus menghargai mahal terhadap sekolah. Belum lagi seabrek pelajaran yang beratnya melebihi berat badan mereka. Sudah gitu, lulus pun mereka masih harus kebingungan mau ngapain. Untuk itu, ditengah bobroknya model pengajaran didunia pendidikan formal, tampaknya model-model kelas alternatif seperti diatas bisa menjadi angin segar bagi terciptanya generasi masa depan yang mampu mewarnai perubahan di masyarakat.

MEMBANGUN SEKOLAH RAKYAT

Siang itu seorang anak remaja memutuskan untuk keluar dari sekolah. Keputusan menarik itu diumumkanya di hadapan teman-temanya. Mirip dengan seorang pejabat yang mau menaikkkan harga bensin. Diundang semua kawan-kawanya di kantin untuk mendengarkan peryataanya. Sengaja hari itu ia memakai seragam lengkap dengan topi yang biasa dipakai upacara. Wajahnya berseri mirip seorang pengantin remaja. 

Dalam kata-kata yang kemudian dikutip oleh banyak teman-temanya ia bilang kalau: ”saatnya saya memutuskan untuk keluar dari sekolah ini. Sebab sekolah telah banyak merampas hak bermain dan hak kebebasan saya. Sejak saya sekolah yang ada hanya peraturan, keputusan, ketetapan yang tak pernah melibatkan saya. Mulai dari jam berapa masuk hingga berapa besar uang SPP semuanya yang menentukan sekolah. Saya tak mau hidup saya terbuang untuk kegiatan bodoh ini. Hari ini saya putuskan untuk keluar dari sekolah dan saya umumkan ini dihadapan teman-teman. Karena yang berharga di sekolah ini bukan buku, pelajaran apalagi kepala sekolah. Yang berharga hanyalah pertemanan kita selama ini. Selamat jalan teman-teman dan mari kita jemput masa depan dengan cara kita sendiri-sendiri!”

Spontan tepuk tangan bergemuruh saat pidato itu berakhir. Ia tidak membuka sessi tanya jawab. Ia bilang tak punya waktu lagi untuk mendialogkan keputusan itu. Bulat sudah keinginanya untuk keluar dari sekolah. Tetap sudah keputusan untuk keluar dari sekolah. Sendirian ia keluar dari kantin dengan iring-iringan teman-temannya. Ia mirip pemenang lomba lari karung. Dielu-elukan dan diantar hingga pintu gerbang. Siang itu ia merasa bangga bisa menjadi dirinya sendiri. Yang tidak takut, cemas atau kuatir akan masa depan. Tepat di dekat gerbang ia mengepalkan tangan dan bersorak gembira. Dibuangnya topi kecil yang warnanya lucu ke halaman dan ia berlari meninggalkan pelataran sekolah dengan teriakan yang membahana. “aku bebas..!” kira-kira begitulah suara yang terdengar. Hari itu teman-temanya akan selalu mengenang namanya. Dewantara, yang akrab dipanggil dengan sebutan: Dewa!

Kejadian itu tentu menggemparkan para guru dan terutama kepala sekolah. Sikap Dewa dinilai sebagai penghinaan atas institusi pendidikan. Kepala Sekolah bersikukuh untuk memanggil Polisi dan mau menangkap Dewa. Disebutnya tindakan itu sebagai pencemaran nama baik. Istilah yang selalu dipakai oleh politisi dan para pengacara. Digelar rapat untuk memutuskan sikap apa yang layak diberikan untuk remaja yang betul-betul gila ini. Ini lagi-lagi sebutan kepala sekolah yang selalu mengharuskan agar siswa itu jadi remaja yang pendiam, rapi dan pintar. Buat kepala Sekolah yang bernama Noeh ini semua sekolah itu punya tujuan mulia. Tak boleh ada anak yang menghina sekolah apalagi kepala sekolah. Baginya tindakan Dewa seperti melempari mukanya dengan kotoran. Ia betul-betul merasa terhina dengan cara Dewa memutuskan keluar dari sekolah. Tindakan Dewa seperti menabuh genderang perang pada jabatanya, bahkan pribadinya.
Dalam kata-kata yang penuh emosi sang kepala sekolah mengutuk tindakan Dewa di hadapan guru dan teman-teman Dewa: “saya berulang-ulang mengatakan bahwa sekolah ini menentang semua tindakan pemberontakan apalagi penghinaan. Cara Dewa memutuskan keluar dari sekolah ini benar-benar patut disesalkan. Seolah-olah semua masalah itu tidak bisa didialogkan, didiskusikan dan dimusyawarahkan. Saya prihatin kalau anda-anda sebagai temanya tidak berusaha mengingatkan bahwa tindakan Dewa tidak arif bahkan mengancam masa depanya sendiri. Juga untuk para guru harusnya sejak dini tahu apa kemauan anak itu dan berusaha untuk meredam emosinya. Saya tegaskan sekali lagi bahwa tindakan Dewa ini adalah akibat tidak adanya kedisplinan, akibat kuranya pendidikan tentang etika dan terlalu longgarnya sekolah ini. Saya dengan ini memutuskan untuk tetap meminta pertanggung jawaban Dewa karena tindaknya menganggu stabilitas dan persatuan di sekolah ini”

Begitulah sang kepala sekolah itu bertitah. Semua berkas kesiswaan Dewa dikumpulkan dan dilaporkan ke kepolisian. Dalam laporan yang ditumpuk dalam map yang begitu tebal dinyatakan bahwa Dewa tersangka pencemaran nama baik sekolah. Laporan yang dengan antusias langsung direspon secara cepat oleh Kepolisian. Lembaga penegak hukum yang kini begitu akrab dengan sekolah. Maklum Noeh sang kepala sekolah sering sekali minta bantuan Polisi untuk semua kegiatan. Sewaktu Ujian Nasional Polisi diminta untuk mengawal, mengawasi dan menangkap guru yang mungkin diindikasikan sebagai pembocor soal ujian. Pekerjaan yang berhasil menangkap guru dan juga berhasil menuai kritik. Polisi bahkan juga dimintai untuk membantu mengoreksi soal ujian. Sebuah ide yang membuat pak Noeh begitu gampang untuk mencari SIM dan mendapatkan pinjaman motor. Malahan Noeh pernah melontarkan ide kalau Polisi mungkin juga bisa membantu membuatkan soal ujian. Buat Noeh si kepala sekolah; Polisi adalah aparat yang bisa memenuhi keperluan sekolah dan kebutuhan dirinya sendiri. Hampir mirip dengan penerbit buku pelajaran.

 Dewa ternyata dengan mudah ditangkap oleh satuan kepolisian yang biasa memburu teroris. Penangkapan yang dramatis karena Dewa waktu itu sedang menyewa komik Naruto. Ia penggemar berat komik Manga. Polisi dengan timnya yang bertopeng segera menangkap Dewa dan mengacak-acak tempat persewaan itu. Tangan Dewa diborgol dan diangkut oleh kendaraan lapis baja yang sudah disiapkan. Tempat persewaan komik itu sendiri kelak akan dikenai tuduhan sebagai markas yang memasok semua ide-ide subversif Dewa. Sebuah tuduhan yang menghina kecerdasan dan akal sehat. Komik bukan petunjuk membuat bom tapi juklak untuk menghidupkan ide-ide gila. Semua orang terkejut dan media memberikan porsi berita yang begitu besar atas penangkapan yang dianggap tak senonoh, gila dan tak masuk akal ini. Noeh sang kepala sekolah tampaknya tak menduga keputusanya bisa berakibat pada perlawanan opini publik yang besar-besaran. Ia berusaha berkilah kalau Polisi yang berminat sendiri menangkap Dewa. Polisi sebaliknya dengan kesal mengatakan bahwa tindakanya sesuai permintaan kepala sekolah. Tak ada yang tahu mana yang benar tapi yang jelas publik mulai paham kalau Polisi dan Noeh si kepala sekolah sudah benar-benar gila.

Tapi kontroversi itu tak menghentikan proses hukum untuk tetap mengadili Dewa. Noeh si kepala sekolah dengan keras tetap menuntut hukuman atas Dewa yang disebut-sebut sebagai pembuat onar dari sistem pendidikan yang sudah tersusun rapi. Dalam kesaksianya Noeh menunjukkan bagaimana sikap Dewa selama ini yang selalu mengkritik keras sistem sekolah yang ia kelola: “Bapak hakim yang terhormat. Bagaimanapun kita harus menghukum anak bernama Dewantara ini. Banyak tindakanya yang menghina kewibawaan saya sebagai kepala sekolah. Dibilang soal ujian nasional itu sebagai proyek yang hanya akan menggemukkan pundi-pundi harta saya pribadi. Itu fitnah, tak berdasar dan komentar semaunya sendiri. Juga yang tidak sopanya mengatakan kalau saya bukan pendidik tapi pedagang karena sering meminta siswa untuk membeli buku-buku dari penerbit. Padahal tak ada larangan guru menganjurkan untuk membeli. Itu bukan korupsi dan bukan tindakan subversif. Bahkan pernah Dewantara ini membuat saya marah karena mengajak teman-temanya untuk mogok tak mengikuti bimbingan belajar yang diselenggarakan oleh sekolah dengan lembaga setempat. Saya betul-betul dipermalukan didepan lembaga bimbingan belajar ini. Padahal semua yang saya lakukan ini untuk tujuan kecerdasan dirinya dan teman-temanya. Apa jadinya kalau anak seperti Dewantara ini dibiarkan untuk mempengaruhi teman-temanya yang lain. Saya minta keadilan bapak hakim”

Kening kepala sekolah yang berambut tipis itu berkeringat. Ia menyekanya berulang-ulang. Beberapa staf tampaknya sibuk melayani permintaanya. Ada yang membelikan es teh, ada yang memberinya bundelan hasil rapat dan beberapa diantara yang lain membawa setumpuk amplop. Ia tampak begitu sibuk dikelilingi oleh stafnya yang selalu saja meminta ini-itu. Dari mulai tanda tangan hingga membaca sekeping surat. Maklum selain kepala sekolah ia juga sibuk sebagai tim sukses pemilihan bupati. Jadi urusanya rangkap, panjang dan sibuk sekali. Sebuah bukti bahwa tenaga, karya dan kemampuanya dibutuhkan tak hanya untuk pendidikan. Urusan politik-pun jadi bagian wewenangnya. Konon istrinya menjabat sebagai ketua yayasan sebuah perguruan tinggi. Dua pasangan yang bergerak dibidang pendidikan dengan semangat konservatif yang serupa. Dua pasangan yang membuat pendidikan menjadi ladang penghidupan dan bisnis. Sebuah bisnis yang diam-diam menghasilkan laba besar dan keuntungan yang tak habis-habis untuknya.

Dewa duduk di kursi depan hakim dan kini bersiap untuk meluncurkan pembelaan yang rasa-rasanya sudah lama ia tunggu. Baju yang dikenakanya bertuliskan slogan yang begitu lantang: buat apa sekolah kalau ditindas! Baju kebesaran yang tampaknya menjadi simbol ide besarnya. Ia bawa lembaran makalah sederhana yang diklip dengan rapi. Sederet kertas yang dijepit tali tipis dan dibukanya perlahan-lahan. Ia mulai berusaha untuk menyebut beberapa pertimbangan penting yang mau dikatakan.

Seakan-akan ia hendak menyatakan pikiran yang sudah lama diredamnya: “Bapak hakim yang mulia. Saya Dewantara tanpa Ki Hajar. Tapi saya adalah pengaggum beliau dan selalu membaca karya-karyanya. Disini saya berdiri untuk menyatakan sesuatu yang sudah saya pendam lama. Soal sekolah yang pernah saya huni dan kebetulan kepala sekolahnya adalah bapak Noeh. Telah lama saya cemas dengan perkembangan sekolah saya terutama sejak dipimpin oleh pak Noeh. Pertama-tama kecemasan saya tertuju pada beban pelajaran yang sudah tak masuk diakal. Ada belasan mata pelajaran yang dijejalkan dan puluhan les tambahan yang katanya untuk menunjang kualitas. Itu semua di luar kebutuhan saya pribadi. Saya tidak boleh memilih dan harus mengikuti semua ketentuan ini. Sekolah saya yang pertama-tama adalah melanggar hak saya sebagai manusia yang bebas. Kedua saya tak mau ikut ujian nasional dan malas untuk mengkuti semua kegiatan persiapan itu. Ujian nasional itu menghina dan meragukan kecerdasan kami. Untuk apa sekolah capek-capek kalau ujung-ujungnya hanya beberapa mata pelajaran itu saja yang dites-kan. Lagipula sudah banyak protes mengenai itu dan pak Noeh sebagai kepala sekolah selalu menghardik semua kritik kami. Ia jenis kepala sekolah yang tak mau disanggah dan dipertanyakan keputusanya. Dan terakhir adalah untuk bayaran ini-itu sekolah kami yang tak pernah terbuka. Untuk apa, digunakan apa dan bagaimana pertanggung-jawabanya. Sekolah kami mirip dengan kerajaan. Dan pak Noeh sebagai rajanya. Saya tak mau menjadi bodoh, tolol dan naif dengan sistem yang gila ini. Jadi saya mohon bapak hakim mempertimbangkan pandangan saya ini.”

Kebanggaan nampak membayang di wajah orang tua Dewa. Keduanya tak menyangka akan memiliki anak yang setangguh itu rasa percaya dirinya. Semula mereka terkejut dengan putusan Dewa keluar dari sekolah. Tapi penjelasan Dewa bukan sekedar keluar dari sekolah melainkan juga memutuskan untuk mendirikan sistem pendidikan alternatif. Ia gunakan halaman rumahnya untuk mengumpulkan anak-anak kecil desa sebelah. Mereka diajari bagaimana mencintai buku, menggunakan bahasa yang baik, melantunkan lagu dan puisi serta yang tak kalah pentingnya; belajar berorganisasi! Dewa berulang-ulang menyatakan bahwa pengetahuan tentang kebudayaan itu penting dan menjadi dasar bagi pembentukan sikap dan pencarian pengetahuan. Baginya semangat itu yang membuat pendidikan akan selalu mengajarkan harapan, mendidik akan rasa cinta kemanusiaan dan mengutamakan kebersamaan. Dewa selalu meyakinkan hal itu berulang-ulang pada kedua orang tuanya mengenai etos pendidikan adalah seperti itu.

Dewa mengatakan: “Ibu, Pendidikan hanya dikatakan berhasil kalau itu berarti memuliakan semangat persaudaraan. Untuk apa pendidikan unggul jika hanya melontarkan seorang anak menjadi manusia tercerdas sedang yang lain hanya menjadi barisan massa yang dungu. Pendidikan mustinya mengemban tanggung jawab seperti itu. Dan itu dapat diterapkan jikalau pendidikan melatih rasa cinta akan kemanusiaan, membudayakan organisasi dan mengajarkan anak akar kebudayaan. Ibu, aku ingin mendirikan sekolah yang bisa membawa anak-anak itu dalam kebersamaan yang bersahaja, yang membawa mereka dalam petualangan pengetahuan tanpa rasa takut, kuatir dan selalu cemas. Anak-anak adalah tunas yang berharga untuk dipatahkan hanya oleh nilai, kelulusan dan prestasi. Mereka adalah masa depan yang harusnya disiram tidak dengan kedisplinan tapi tanggung jawab. Yang tidak diajari mematuhi aturan melainkan bagaimana mengemban tanggung jawab kebebasan. Hanya untuk itu saya harus memutuskan untuk keluar dari sekolah. Harus ada martir ibu untuk menjadi petanda bahwa ada yang keliru dari sistem pendidikan yang kita jalani sekarang ini”

Alasan itulah yang kemudian membuat Dewa memutuskan keluar dari sekolah. Waktunya ingin dihabiskan untuk membina sekolah alternatif yang semboyanya 'Belajar bersikap dan berani berpihak pada yang lemah!'. Kata-kata itu bahkan dipasang di spanduk muka rumah. Sekolah itu yang menghabiskan hari-harinya. Beberapa belas anak kemudian terlibat aktif di sekolah itu dengan pengajar sejumlah mahasiswa yang sebagian diantaranya adalah yang tinggal di dekat tempat tinggal Dewa. Walau sekolah itu tidak mendapat ijin dari Depdiknas, tapi pendidikan itu tetap saja berjalan dengan ketentuan yang dibuat bersama-sama siswa. Noeh sang kepala sekolah memang sudah mendengar ide Dewa yang radikal itu tapi ia tetap bertahan bahwa pendidikan haruslah sesuai dengan ketentuan yang digariskan oleh perundang-undangan. Noeh tak mau tahu kalau undang-undang itu disusun oleh beberapa anak yang tak lulus sekolah juga. Ia tak tahu kalau undang-undang hanyalah perpanjangan kepentingan para penguasa, pengusaha pendidikan dan segelintir siswa mapan. Jenis golongan yang selalu merasa pendidikan hanya urusan duit,duit,duit melulu.

Sidang itu berjalan tidak terlampau lama. Hakim seorang yang terkenal akan kewibawaan dan prinsip kejujuranya mulai membacakan putusan dengan berbagai pertimbangan. Sang Hakim yang dikenal kerabat dekat dan konon keturunan Tjipto Mangunkusumo itu mulai memberikan pertimbangan. Ia mengemukakan sebuah penjelasan yang jarang sekali terdengar di persidangan: “Saya tak ingin sebenarnya mengadili kasus yang sudah begitu benderang ini. Saudara Noeh mestinya anda bangga punya siswa yang cerdas seperti Dewa ini. Harusnya anda malu diingatkan tentang tugas pendidikan yang sebenarnya. Jabatan anda sebagai kepala sekolah harusnya menjadi pelindung bagi setiap ide kreatif yang muncul dari anak didiknya. Ide kreatif yang mengalir darinya mengingatkan saya kembali tentang apa sebenarnya arti pendidikan. Kalau saudara Noeh mengartikan pendidikan hanya meneruskan apa bunyi undang-undang dan melakukanya secara kaku tanpa tahu semangat yang mendasarinya maka anda benar-benar bebal. Aku hakim yang tahu bagaimana undang-undang itu diterapkan. Anda itu diberi tanggung jawab sebagai pemangku pendidikan: tahukah anda apa makna pendidikan itu? Pendidikan berbeda dengan sekolah, saudara! Sekolah hanya salah satu alat untuk menghidupkan pendidikan dalam sebuah kenyataan. Kalau sekolah seperti yang saudara pimpin hanya menegakkan kepatuhan, kedispilinan dan tata krama yang feodal itu sama halnya dengan membuat sangkar. Itu hanya untuk burung yang tidak ingin hidup bebas. Bagaimana jiwa-jiwa remaja yang bebas, berani dan memiliki kemauan baja bisa tinggal jika pendidikanya kacau seperti yang anda dirikan ini. Saya malu berdiri disini untuk mengadili orang tua pandir seperti anda. Tapi saya bangga karena kita masih menemukan jiwa pemberontak seperti Dewa. Teruskan nak cita-citamu, kalau aku muda pasti aku akan mengikuti jejakmu dan aku setuju atas pilihanmu meninggalkan sekolah yang dikepalai oleh saudara Noeh ini. Terimakasih!”

Ketukan palu hakim yang bergema keras itu menghantam meja dan diikuti dengan sorak bergembira banyak orang. Diam-diam mereka mendukung ide brillian Dewa. Dewantara telah memenangkan pertarungan yang menyakitkan dengan kepala sekolah. Nampak wajah kepala sekolah yang pucat dan memendam marah. Ia buru-buru keluar persidangan diikuti oleh banyak stafnya. Mungkin ia banding atau bisa jadi ia menyerah pada putusan hakim. Tak tahu apakah perkataan hakim itu mengejeknya, menghinanya atau mempermalukanya. Pak Noeh tampaknya sudah kebal dengan sikap-sikap seperti itu. Ia bukan sekali dua kali mendapat teguran seperti itu. Ia kepala sekolah yang tahan sekaligus tuli terhadap kritikan. Beberapa polisi tampaknya membiarkan tepuk gembira anak-anak remaja. Mereka melompat gembira merayakan menangnya kebebasan melawan kedisplinan yang beku. Mereka begitu antusias merayakan kemenangan keberanian melawan ketakutan akan pembaruan.

Dewantara berdiri diatas tangga peradilan dan menyampaikan sebuah risalah yang menjadi gambaran tentang mimpi pendidikan masa mendatang. “Hari ini terbukti sudah pendidikan yang merayakan akal sehat memenangkan pertarungan. Pendidikan macam inilah yang harusnya hadir di tengah sekolah kita. Aku kini dirikan sebuah sekolah yang ingin mengatakan kepada anak didikku agar mereka berani melakukan tindakan, melahirkan inisiatif dan berani hidup dalam gerakan. Waktunya kita untuk keluar dari sekolah yang hanya mengajarkan pengetahuan palsu dan mengabaikan realitas sebagai sumber pengetahuan. Waktunya juga kita keluar dari lembaga pendidikan yang tak melatih keberpihakan kepada mereka yang lemah. Pendidikan macam itu telah terbukti hanya melahirkan orang pandir tapi memegang kekuasaan. Pendidikan macam itu hanya meluluskan orang pintar yang begitu egois. Malah pendidikan itulah yang membuat negeri ini dipadati oleh para bandit dan kaum koruptor. Pendidikan yang tidak melatih siswanya untuk belajar berorganisasi dan lebih mengajak mereka untuk sekedar menjadi barisan rapi yang pandir dan malas bergerak. Saya sekali lagi tak mau hanya mendirikan sekolah ala kadarnya; yang bisanya hanya meluluskan anak dan memberinya ijazah. Kita harus memperjuangkan pendidikan seperti itu dan membela setiap gagasan yang menuju kesana”

Barisan massa bergerak meninggalkan pengadilan. Ide Dewa menancapkan kembali gagasan tentang sekolah liar. Kata 'liar' istilah yang dulu pernah dipakai oleh orang-orang Belanda ketika memberi cap pada sekolah yang didirikan oleh Soewardi Soerjaningrat. Juga untuk sekolah yang didirikan oleh para nasionalis. Kini sekolah liar itu berdiri di banyak tempat: ada yang berdiri dengan dukungan para petani, ada yang didukung oleh anak-anak jalanan dan ada pula yang muncul karena inisiatif beberapa orang. Kurikulum merekapun bermacam-macam: ada yang lebih banyak memuat pelajaran tari, ada yang menitik-beratkan pada puisi dan ada yang lebih heboh lagi, pelajaran pergerakan. Tak tanggung-tanggung mereka keluar dari orbit kurikulum resmi. Malahan sekolah semacam itu kini menyebar di berbagai pelosok. Ada di Ponorogo, Klaten, Yogyakarta, Wonosobo, Purwokerto, Salatiga, Jakarta, Makasar dan Semarang dll. Jauh lebih menyenangkan berdiri banyak sekolah seperti ini ketimbang partai politik. Sekolah mengantarkan tidak saja kecerdasan kolektif melainkan juga mengusung harapan baru atas masa depan. Partai hanya mengekalkan politisi pandir dan mengantarkan pejabat yang berwatak memalukan. Dewantara kini bukan pribadi yang langka karena banyak orang kini mengambil keputusan seperti dia. Mendirikan sekolah murah, berkualitas dan menyenangkan.

Biarkan saja pemerintah tidak memberi ijin karena memang bukan itu yang dibutuhkan. Yang dipusatkan dalam pendidikan ini adalah anak. Merekalah yang menjadi subyek dan pusat utama pendidikan. Mereka mendapatkan pendidikan yang akan membuat mereka punya 'kenangan dan impian' tentang masa depan yang mereka pilih sendiri. Karena itu pendidikan, sebaiknya, memberi hak pada anak sebesar-besarnya dan memberikan ruang kebebasan sepenuhnya pada mereka. Ringkasnya pendidikan sebaiknya melayani jiwa petualangan dan keingin-tahuan peserta didik. Karena memang begitulah sebenarnya tujuan mulia pendidikan. Kita membutuhkan Dewantara-Dewantara muda yang jauh lebih berani mengambil inisiatif dan punya kegilaan dalam mewujudkanya dalam praktek. Mereka yang mampu mengembalikan pendidikan pada jiwa yang sesungguhnya.

AKU TAK MAU DISURUH-SURUH!

Entah aku agak enggan tiap berangkat ke sekolah. Disana selalu saja sama yang kulihat. Baju seragam merah putih, pelajaran yang harus dihapal dan guru yang suka sekali menyuruh. Persis seperti ibu yang tiap kali aku bangun lebih dari jam enam selalu saja dimarahinnya. Ibu bilang anak rajin harus bangun pagi. Ibu selalu menyuruhku meletakkan baju kotor di keranjang cucian, menyikat gigi sebelum tidur, menonton televisi tidak boleh lama-lama dan kalau makan harus dihabiskan. Menyuruh juga jadi kebiasaan ibu guruku. Aku disuruh mengejarkan tugas yang aku sering tidak suka. Dimintanya aku untuk selalu duduk rapi dan mendengarkan semua yang dikatakan oleh ibu guru. Ibu guru menyebut itu namanya pelajaran. Pelajaran itu banyak sekali dan membingungkan. 
Ibu guru bilang kalau hujan itu terjadi karena uap air yang menggumpal. Padahal aku tahu hujan itu terjadi karena raksasa bersedih kemudian meneteskan air mata untuk memberitahu pada semua orang. Raksasa sedih karena tidak bisa menangkap timun emas. Timun emas kata nenek adalah seorang anak yang lahir dalam buah mentimun pemberian raksasa. Waktu timun emas jadi anak seusiaku, raksasa itu meminta ibunya untuk menyerahkan Timun Mas agar dijadikan santapan makan. Timun emas lari dan raksasa itu tenggelam karena dilempar terasi. Ibu guruku tidak suka dengan cerita raksasa dan kalau kubilang hujan terjadi karena raksasa bersedih, ia memarahiku.

Lalu ibu guru juga bilang kalau bangsa ini dulu pernah dijajah. Aku tidak tahu kenapa dan apa artinya dijajah. Di buku pelajaranku penjajah itu digambarkan orang yang punya cambuk dan topi yang lucu. Topi itu diatasnya datar tapi ujungnya lancip, dengan tubuh yang jangkung. Di gambar lain aku lihat seorang membawa cambuk memukul-mukul seorang yang membawa-bawa karung. Kata ibu guru itulah penjajahan. Aku tidak suka gambar itu makanya aku selalu mencoret-coret gambar itu dengan crayon merah dan coklat. Ibu guru selalu saja marah kalau buku pelajaran itu aku warnai. Buku pelajaran itu untuk dibaca tidak diwarnai, begitu katanya.

Ibu guru sangat suka sekali meminta teman-temanku membaca buku pelajaran. Isinya menjemukan dan menyebalkan. Sampulnya tak ada yang bergambar menarik. Kalau ada gambar kereta selalu dibawahnya rel hitam. Jika ada mobil selalu sama dengan mobil di jalan yang suka memacetkan jalan. Aku padahal ingin kereta itu bisa tenggelam dalam air kemudian bisa terbang tinggi ke atas. Aku sebenarnya mau mobil yang bisa mengecil sehingga tidak bikin jalan jadi macet. Tiap gambar mobil aku beri sayap selalu saja ibu guru memarahiku. Ibu guru bilang sampul buku itu susah bikinya jadi jangan dirusak warnanya. Aku pikir itu tidak merusak tapi membuat gambar itu jadi lebih bagus.

Aku sering bosan membaca kalimat yang ada dalam buku pelajaran. Aku yakin yang menulis pasti mukannya seperti bapak guru matematika yang tidak pernah senyum. Bapak guru itu suka sekali angka dan mengajari kami dengan teriakan yang nyaring. Mereka bilang kalau kami tidak bisa menjawab pertanyaanya itu artinya kami bodoh. Kalau bodoh tidak naik kelas. Kalau bodoh kami harus berdiri di depan kelas lama sekali. Bodoh itu kata yang sering diucapkan kalau kami tidak bisa menjawab perkalian. Bapak guru sering bikin soal yang aku tidak sukai, membeli buah beberapa biji kemudian membayar dan berapa kembaliannya. Berapa kembaliannya itu yang harus kami jawab.

Aneh sekali bapak guru memberi contoh soal. Kami diminta untuk mengurut bilangan, mengkalikan dan membagi. Ia tak pernah beritahu padaku kenapa angka 1 berbeda bentuknya dengan angka dua. Mengapa garis lurus itu suka dibaca satu tapi juga kadang dibaca i. Tiap kali kutanya yang kudapat hanya perkataan ‘sudah kamu kerjakan saja soal yang ada di halaman itu’ Bapak guru tidak seperti nenek yang suka sekali ditanya tentang apa saja. Nenek dapat bercerita tentang raksasa lalu naga yang lidahnya suka mengeluarkan api dan sepatu terbang. Bapak guru tidak senang kalau contohnya aku ganti sendiri dengan sepatu terbang atau pesawat yang berhenti diatas langit. Bapak guru hanya ingin aku menjawab seperti yang diinginkannya.

Yang membosankan tentu pelajaran menggambar. Disuruhnya kami menggambar gunung yang selalu di bawahnya ada jalan berkelok. Di pinggir ada tiang listrik yang kabelnya membujur lurus. Diatas ada langit yang penuh gumpalan awan. Guru menggambarku selalu tidak suka kalau aku membuat gunung itu tidak lancip. Aku suka kalau gunung itu meletus lalu gumpalan awannya ikut meledak dan kemudian jalannya ikut terbang. Guru menggambar itu juga tidak senang jika aku melukis melebihi kertas yang diberikannya. Aku pikir kertas itu terlalu kecil untuk menggambar gunungku yang besar dan luas. Aku selalu bilang sama Bayu kalau menggambar gunung yang kecil nanti akan gampang dikunyah raksasa.

Bayu itu temanku yang tidak suka dengan pelajaran menghapal. Kalau disuruh menyebutkan nama kota ia selalu memberi jawaban berbeda. Jakarta disebutnya kota monster. Kata Bayu disana ada banyak mobil, orang, pesawat yang tidak pernah berhenti. Mereka tidak pernah menyapa bahkan selalu saja bertengkar. Bayu pernah lihat acara televisi tentang orang berantem di sudut kota Jakarta. Bayu lihat juga pamannya yang pekerjaanya hanya ngomong melulu. Pamanya itu tinggal di Jakarta dan sering muncul di televisi untuk sekedar ngomong. Kalau Bayu kutanya apa kerja pamanya, ia selalu bilang kalau pamanya tinggal di kota monster yang penduduknya tidak pernah diam, termasuk pamannya.

Aku suka duduk dengan Bayu karena ia juga tidak senang disuruh. Suatu kali, ibu guru menyuruh Bayu untuk tidak memakai sepatu yang berwarna merah dan itu dijawab oleh Bayu, sepatu merah itu bisa membuatnya terbang. Bayu ingat film Spiderman yang memakai sepatu merah hingga tumit. Bayu suka sekali memanjat dinding sekolah ketimbang berlarian di halaman. Bayu selalu memberitahuku kalau kita bisa panjat tembok nanti kita akan tahu isi langit. Ia selalu bilang padaku kalau sudah besar akan membuat tembok yang tinggi sekali. Tinggi dan bisa dipanjat oleh semua anak yang ingin tahu kenapa langit bisa mendung dan dimana matahari bersembunyi kalau malam hari.

Kalau ditanya ibu guru apa pekerjaan ayahnya, Bayu selalu bilang kalau ayahnya itu seekor kelelawar. Kelelawar yang terbang di malam hari untuk menggigit siapa saja anak yang tidak mau tidur. Bayu sering katakan kalau bulan itu dulunya rumah kelelawar tapi karena kelelawar terus bertambah dan bulan tidak lagi mampu memuat keluarga kelelawar, maka kelelawar mencari tempat yang lebih luas. Malam menjadi rumah buat kelelawar dan itu membuat malam jadi berwarna hitam. Jika ditanya apa pekerjaan ibunya, Bayu hanya diam. Ayahnya selalu bilang kalau ibunya pergi terbang diajak malaikat ke langit diatas sana. Ibu tinggal di surga begitu kata bibinya. Bayu rindu ibunya dan ia ingin sekali membuat tangga yang tinggi agar bisa ketemu ibu di atas langit sana. Kata bapak guru surga itu ada diatas sana.

Aku dan Bayu duduk sebangku. Nomor tiga dari depan. Aku sebenarnya tidak suka dengan bangku yang berjajar lurus ke depan. Yang sehari-hari kulihat hanya punggung Dudung teman yang duduk di depan kami berdua. Dudung kata ibu guru anak baik karena selalu ikut semua perintah. Dudung selalu bersih bukunya dan datang ke sekolah paling dulu. Dudung sisiran rambutnya selalu menyamping dan bau yang keluar dari rambutnya membuat aku dan Bayu bersin-bersin. Kubilang kalau Dudung itu pasti pakai lem yang sering dipakai untuk menambal ban. Lem itu aku yakin kuat sekali rekatannya karena rambut Dudung hitam seperti ban sepeda yang habis dipompa.

Kami tidak suka dengan Dudung yang selalu bilang kalau aku dan Bayu hanya berkhayal. Ia tidak percaya kalau kubilang kelas ini dulunya sangkar ayam raksasa. Bangku-bangku yang berjajar rapi lurus ke depan itu dulu dipakai oleh itik raksasa yang mau belajar melompat. Papan hitam yang sering dipakai oleh ibu guru itu dulu tempat makan anak-anak ayam. Ruangan kelas ini boleh dipakai asalkan bangku dan papan itu tetap berada seperti semula. Kalau diubah pasti ayam raksasa itu akan mengunyah dan menelan kita semua. Pak guru dan ibu guru adalah orang yang dititipi oleh ayam raksasa untuk mengawasi kita semua. Itu yang membikin pak guru dan ibu guru punya kebiasaan menyuruh kami. Mereka menirukan ayam raksasa yang melatih itik-itik berjalan.

Dudung juga selalu mengadukan kami pada ibu guru kalau aku dan Bayu mengunyah permen jika pelajaran dimulai. Aku selalu bilang itu bukan permen tapi obat yang bisa membuat kami tidak bisa diracuni oleh ayam raksasa yang mengintip dari dalam tembok. Aku percaya ayam itu sembunyi di tembok belakang papan. Soalnya kalau kami tidak bisa menjawab soal dari ibu dan bapak guru pasti disuruhnya kami berdiri di depan. Persis berada di depan persembunyian ayam raksasa. Sengaja ibu guru menyuruh berdiri di depan agar ayam raksasa percaya kalau mereka memperlakukan kami persis seperti yang ayam raksasa itu inginkan.

Aku juga bosan di kelas karena lama sekali tinggal di dalamnya. Kalian bisa bayangkan, aku berangkat pagi hari dan pulang sudah menjelang sore. Aku dan Bayu sering mengeluh karena terus-menerus diminta duduk yang rapi. Padahal kami ingin sekali-kali pelajaran dimulai dengan cara kami semua berdiri. Aku dan Bayu pernah sekali berdiri diatas bangku dan bisa melihat papan tulis tidak dengan mendongakkan kepala. Kami berdua seperti raksasa yang bisa melihat semua meja, bangku, lantai, kapur, penghapus seperti melihat kerikil. Aku dan Bayu senang sekali. Tapi ibu guru bilang kami tidak sopan. Anak yang baik seperti Dudung yang duduk seperti semut yang diinjak oleh sepasang sepatu. Diam dan tidak bergerak.

Apalagi kalau hari senen pagi kami harus ikut upacara. Itu betul-betul meyebalkan. Semua orang seperti robot yang bergerak karena aba-aba. Temanku Dudung pernah ditugaskan untuk menaikkan bendera dan ia begitu senang sekali. Kakinya diangkat tinggi-tinggi seperti tentara yang berbaris. Lalu kepala sekolah biasanya ngomong panjang sekali dan semua orang harus diam mendengarkan. Aku sering tidak tahu apa yang dimaksud kepala sekolah dengan kata-kata ‘mencerdaskan’ ‘memantapkan’ ‘mendidik’ dan ia mengulang-ulang kata-kata itu seperti mantra. Dalam kegiatan upacara semua orang yang jumlahnya banyak disuruh oleh satu orang yang teriakaanya kencang sekali. Disuruh berbaris rapi, disuruh istirahat, disuruh balik kanan, disuruh hormat sampai bubar-pun disuruh!

Bukan hanya upacara, pelajaran olah raga juga menyebalkan. Kami selalu disuruh senam mengikuti gerak pak guru. Padahal pak guru itu tinggi badanya jauh lebih tinggi ketimbang teman-temanku. Kami disuruh melompat-lompat yang tinggi seperti pak guru. Lalu disuruh berlari hingga berkeringat. Kenapa sih pelajaran olah raga melulu seperti yang diinginkan oleh pak guru. Aku ingin sekali pak guru bisa mengajari kami bukan berlari tapi memanjat. Aku ingin pak guru jangan hanya mengajari senam tapi juga bersembunyi. Aku dan Bayu percaya jika kami bisa dilatih bersembunyi pasti kelak akan tahu dimana sarang ayam raksasa. Pak guru tak pernah mengajari bagaimana kami bisa melompat tinggi sekali. Aku yakin jika kami bisa melompat tinggi pasti kami bisa mencapai matahari.

Kami selalu saja disuruh. Andai semua pelajaran sekolah itu dikumpulkan dalam satu keranjang, pasti namanya sama: pelajaran diperintah! Kenapa ya? ayah, ibu, bapak guru dan ibu guru suka sekali menyuruh. Tiap ketemu mukaku selalu saja aku dapat perintah. ‘Iman kalau makan harus habis! ‘Iman kalau mandi jangan lama-lama! ‘Iman kamu harus mengerjakan tugas! ‘Iman letakkan sepatu di tempatnya! ‘Iman jangan buang sampah sembarangan! ‘Iman jaga adikmu, ayah dan ibu mau pergi! ‘Iman jangan ganggu temanmu! Aku sampai tidak bisa menghitung berapa kali mereka semua menyuruhku.

Kupikir di jalan raya aku juga sering melihat pengumuman yang menyuruh. Di bawah rambu lalu lintas ada tulisan ‘belok kiri ikuti lampu! Di pasar aku juga melihat kata ‘Dilarang buang sampah sembarangan! Di depan kantor ayah ada kalimat ‘tidak menerima sumbangan dalam bentuk apapun! Di jalan depan rumahku malah ada kalimat serem sekali ‘Ngebut tak pukul! Kalau kutanya pada ayah arti kalimat-kalimat itu, ia hanya tersenyum dan selalu meremehkan jawabanya. ‘Itu karena kita ingin semua berjalan baik dan tertib’ Kalau kemudian kutanya lagi ‘apa sih bersih dan tertib itu? Ayah selalu saja jawab ‘kamu masih kecil, besok kalau naik kelas kamu akan dikasih tahu sendiri oleh ibu gurumu’

Menyiksa sekali dibilang masih kecil. Kalau aku bertanya banyak sering dijawab dengan kata-kata yang ringkas ‘nanti kalau sudah besar, kamu akan tahu sendiri! Aku tidak tahu, kapan aku bisa disebut sudah besar. Jika kutanya ibu, ‘bagaimana aku bisa cepat besar? Ibu selalu bilang ‘makan yang banyak, belajar rajin dan jangan nakal’ Kata-kata itu diulang-ulang hingga aku bosan. Ya aku bosan dengan sekolahku, dengan rumahku dan orang-orang yang tidak pernah meyenangkan jawabannya jika kutanya. Orang-orang yang setiap bertemu denganku selalu saja memberi perintah. Apa anak kecil memang harus terus diperintah?

NANDUR WIJINING PAKERTI

Entah sejak kapan, leluhur kita telah mempunyai konsep bahwa “urip iku ngunduh wohing pakerti”. Didalam hidup kita akan memanen apa yang telah kita semai. Konsep hidup itu tampaknya memang sederhana, tapi sebenarnya mengandung makna yang sangat luas; tergantung siapa dan dalam konteks apa ia ‘diwedarkan’.

Berbicara soal memanen, tak bisa dilepaskan dari konteks sosio-historis masyarakat kita yang menjalani hidup dengan bercocok tanam. Sejak berabad-abad yang lalu leluhur kita telah mengenal tanaman yang disebut padi. Pada masa lalu, tanaman yang punya nama lain: pari atau pantun ini disebut dengan istilah ‘juwawut’’. Dari sinilah istilah ‘Jawa dwipa’ muncul untuk menyebut tempat tumbuhnya padi ini. Bila menilik hal tersebut, agak menggelikan ketika sekarang ini ramai dikampanyekan agar masyarakat beralih dari makanan pokok beras menuju makanan-makanan lokal seperti umbi-umbian. Memang harus diakui bahwa makanan umbi-umbian tersebut adalah harta karun terpendam lainnya yang dimiliki oleh ibu pertiwi kita.

Proses penghilangan pengetahuan kita atas temuan besar leluhur dalam bidang pangan tersebut rupanya hanya bagian kecil dari proses-proses lainnya terhadap penghilangan jati diri kita sebagai sebuah bangsa yang besar. Bukan perlahan lagi, tapi bahkan secara massal generasi kita dibuat tidak percaya diri, tidak yakin dan merasa minder atas jati dirinya sebagai manusia yang berkebudayaan dan berpemikiran nusantara. Keyakinan kita sebagai bangsa yang sangat menghargai makna dan nilai-nilai dijungkirkan agar hanya melihat apa yang nampak dihadapannya saja. Apa yang didendangkan di TV dipandang sebagai sebuah kebenaran. Apa yang didedahkan oleh ilmuwan-ilmuwan barat dipaksakan sebagai sebuah keyakinan. Apa yang didektekan oleh negara-negara kapitalis diyakini sebagai sebuah kemestian tunggal. Anggapan bahwa bangsa kita tidak memiliki kedaulatan  rupanya tak hanya berlaku bagi sektor pemerintahnya saja. Masyarakat umum, terutama generasi muda, digiring secara massal untuk ‘telanjang’ bersama-sama, dan kemudian ramai-ramai bergaya ala korea, berpemikiran ala amerika, berpakaian ala arab, dsb.

Secara serampangan, kita diam-diam dicekoki dua pandangan ideologi yang saling berseberangan. Radikalisme disatu sisi dan liberalisme dikutub lainnya. Masyarakat kita yang telah mulai kehilangan rasa peduli terhadap makna-makna ini kemudian merajutnya menjadi konflik panjang antar sesama anak bangsa. Kita menjadi bingung mana yang agama, mana yang budaya. Mana yang harus dicerdasi dan dikembangkan secara pemikiran, mana yang harus dijadikan tali pegangan. Hilangnya tali pegangan untuk merajut kebersamaan sebagai sebuah bangsa ini kemudian dimanfaatkan untuk mobilisasi kepentingan-kepentingan.
Dalam situasi seperti ini perlu kiranya kita menilik kembali hadis Nabi Saw: “Sekiranya berlaku kiamat sedangkan ditangan salah seorang diantara kamu ada benih tamar dan dia berupaya untuk menanamnnya sebelum kiamat, maka hendaklah ia menanamnya. Dengan itu dia mendapatkan pahala” (HR. Bukhori). ‘Menanam’ yang dimaksud rasulullah itu tentunya juga tak bisa dilepaskan dari konteks dan situasi. Sebagaimana konsepsi tentang ‘ngunduh wohing pakarti’ dalam pandangan leluhur kita diatas juga bisa dimaknai dalam beragam konteks. Kalau dalam situasi kiamat saja kita diminta untuk tetap ‘bekerja’ menanamkan benih, bukannya duduk bersila sambil membaca istigfar sebanyak-banyaknya. Berarti dalam situasi carut marut kondisi bangsa ini mestinya kita juga tak hanya cukup untuk sekedar berdoa, berharap, apalagi malah saling menyalahkan dan mencari kebenaran sendiri-sendiri.  Menggagas, merumuskan dan bekerja secara bersama-sama untuk menyemai benih-benih ‘pakerti’ adalah kebutuhan jaman ini.

Penghilangan jati diri bangsa tak lantas menjadikan sebagian kita yang masih percaya bahwa kita adalah bangsa besar menjadi ikut-ikutan minder dan kecil hati. Justru disaat seperti ini kita perlu sebanyak-banyaknya menebar benih kebaikan; nandur wijining pakerti.’ Wiji’ bisa bermakna sebenarnya. Karena memang sejauh ini dalam masalah pertanian kita juga banyak dibohongi sehingga kita lupa betapa cerdas dan kreatifnya leluhur kita dalam mengolah pangan. Disisi lain, ‘wiji’ juga bisa bermakna konsep berkebangsaan, konsep bermasyarakat, maupun konsep berkeluarga kita yang sejauh ini sudah di rancukan oleh pemahaman-pemahaman asing yang membuat kita saling menyalahkan satu sama lain.

Dengan banyaknya ‘benih’ yang kita tanam, berpedoman pada konsep bahwa ‘urip ngunduh wohing pakerti’ maka entah kapan waktunya kita juga akan memanen. Keluarga kita, masyarakat, dan bangsa kita pasti akan ‘ngunduh’ panen-panen kedaulatan, panen-panen kemakmuran dan panen-panen keadilan.

DIBALIK KABUT MALAM

Kulihat langit masih cerah dengan cahayanya. Bintang-bintang masih setia menebar pesonanya mengelilingi wajah rembulan yang sudah tampak tua itu. Gemerisik angin menari-nari menggoyangkan pohon cemara depan rumah kontrakan. Seolah mereka menyambut kedatangan tamu istimewa. Entah… ratu setan, atau mungkin malaikat. Sentuhan halusnya yang menggerayangi sekujur tubuhku membuat bulu kudukku semakin lama semakin merinding. Sejenak kutengok jarum jam yang berdetak tak kenal lelah sudah menunjukkan pukul 2.00 dini hari. Bergegas aku melangkahkan kaki kedalam rumah. Satu persatu kuperhatikan teman-teman yang tidur tercecer-cecer laksana deretan ikan tongkol yang sedang dijemur. Meskipun terlihat seperti kumpulan proletar yang berserakan dipinggiran kota, aku melihat senyum kebahagiaan menyelimuti raut wajah mereka.
Dari dengkurannya yang berirama, mungkin mereka sedang menikmati mimpi-mimpi indahnya pagi ini. Renungan-renungan sufistik tentang cinta akhir-akhir ini bisa jadi menjelma menjadi bunga-bunga  yang bermekaran ditaman impian mereka. Ah… aku agak geli juga teringat argumentasi Irfan al-din. Luapan asmara pria berkacamata ini pada gadis Gunung Kidul itu sungguh mempengaruhi seluruh aktivitas dan cara berpikirnya akhir-akhir ini. Tiap hari ia hanya merenung, menulis dan entah berapa puluh lagu yang telah ia ciptakan.
 “Biarlah aku menghadirkan sesuatu yang tidak dikenal dengan apa yang sudah dikenal mas Wira..”
Aku hanya tersenyum saja mendengar setiap apa yang dituturkannya. Cinta memang sesuatu yang tak mungkin aku lawan dengan rentetan argumentasi ilmiah. Ia hadir, merasuk kedalam sel-sel darah, kemudian merasuk dalam gelombang otak hingga akhirnya menjalankan system kerja tubuh kita. Mungkin hanya itu yang bisa aku definisikan tentang apa yang dirasakannya. He.he.. kayak kerasukan setan aja..
“yach… aku memang sedang kerasukan! Dan sebagaimana saran mas Wira, aku sedang, dan akan selalu menikmatinya”
Itulah sanggahan ataupun jawaban Irfan ketika sesekali aku mengejek perilakunya itu. Sebenarnya aku tak bermaksud meremehkan apa yang menjadi kegalauannya itu. Aku hanya tak punya jawaban yang pasti. Seringkali memang, teman-teman curhat ke aku tentang berbagai permasalahan kehidupannya. Aku selalu menawarkan solusi-solusi taktis dan deretan argumentasi yang masuk akal. Tapi untuk kasusnya, aku tak bisa berbuat banyak. Pada suatu ketika, akhirnya ia menyadari bahwa sesungguhnya dirinya mencintai salah seorang sekretarisnya di organisasi. Kebetulan Maya, nama si gadis itu dulu adalah  teman sekelompok ku ketika KKN. Menurutku, ia memang baik. Cocoklah untuk berpasangan dengan Irfan. Ia orang lapangan yang cekatan mengerjakan hal-hal taktis, sedangakan Irfan adalah pemikir ulung. Ia ceria dan banyak bicara, sedangkan Irfan seorang pendiam. Sungguh, mungkin mereka bisa mejadi pasangan yang serasi. Tapi seringkali, nasib itu tak bisa se-serasi keinginan seseorang. Sebagaimana cinta, ia tak semudah ide-ideku yang kutuliskan dalam cerita ini. Ia abstrak! Bahkan lebih abstrak daripada gugusan mimpi-mimpi yang mungkin saat ini dibangun Irfan dalam tidurnya. Dan kemudian pecah berantakan sebelum ia membentuk sebuah materi. Seperti embun yang menguap terkena sinar mentari. Begitu pula seperti Irfan, ia harus segera menyadari kenyataan cintanya bersamaan ia menguap besok pagi.
“Dengar-dengar.. Maya sudah punya calon mas..”
“Ohya? Sejak kapan kamu tahu hal ini? Memang beberapa waktu lalu aku juga mendengar gosip ini. Tapi aku nggak enak menanyakannya padamu”
“Sudah lama juga sih sebenarnya, tapi lama-lama aku juga nggak bisa tahan dengan perasaan ku yang semakin menggumpal!”
“Lha trus….”
“Ya sebagaimana sering mas bilang: aku akan menikmatinya. Aku ingin melihat sejauh mana ia akan bertingkah dalam jiwaku. Aku akan meng amat amatinya. He.he.he.”
“Yei… masak Cuma sebatas itu? Jika cinta itu boleh dikatakan teori, kau harus mempraktekkannya dalam realita. Itu baru bisa dikatakan Klop! Itu baru bisa dikatakan bahwa ide dan realita bisa disatukan, selanjutnya… perubahan akan bisa dilakukan. Kalau Cuma seperti yang kamu lakukan: merenung, gelisah…. Kapan aksi bisa digelar?”
“Ah… Mboh lah mas, aku lagi nggak mood diskusi tentang Revolusi! Aku lagi ingin bercengkrama dengan perasaanku. Satu hal yang tak boleh terdengar ditelingaku hari-hari ini adalah: organisasi, aksi dan revolusi. Dari siapapun! Termasuk Mas Wira! Titik..!”
 “Yei… PD..! siapa juga yang ngajak diskusi revolusi! Aku tu sedang ngomongin cintamu itu Lho.. perasaanmu itu yang perlu direvolusi. Cintamu itu harus di praksis-kan. Agar kamu bisa menimati anggur manisnya”
“Bukankah apa yang kulakukan; menulis, menuangkan gagasan-gagasanku serta menulis kumpulan puisi dan bikin lagu ini adalah rangkaian praksis mas? Tidak-kah itu cukup mewakili arti kata praksis itu mas? Bukankah karya-karya manusia itu hakekatnya adalah manifestasi cinta? Bukankah mas sendiri yang bilang, bahwa kata Karl Marx: ‘…apa yang menjadi esensi dari seluruh aktivitas dan pekerjaanku tiada lain semata-mata untuk memenuhi kebutuhanmu, dan sebagai imbalannya, aku akan mendapatkan pikiran dan perasaanmu..’ yang kemudian itu menjadi doktrin dalam sistem sosialisme secara tidak langsung?“
“Hmmm… bukan itu maksudku.. itu beda konteksnya. Maksudku, kalau kamu itu bener-bener mencintai Maya, ya udah: di tembung aja. Kalau nggak mau, kejar terus… masih nggak mau juga, tergantung kamu mau pake cara apa: pake analisis Materialisme-Dialektika-Historis atau pake itu… kamu bisa ambil 2 buku besar warna biru dan hitam itu. Itu kitab saktiku. Disana ada ratusan kumpulan japa mantra, pelet atau santet sekalipun. Komplit pokoknya. Dijamin Tok cer! Sederhana sekali to?”
“He.he. mas..mas… kamu itu nggak konsisten dengan nasehatmu kemarin. Sebagaimana kata Karl Marx tadi itu Lho, cinta itu memberi. Bukan meminta. Termasuk bukan memintanya untuk menjadi kekasihku. Aku sudah cukup bahagia bisa mencintainya. Dan aku akan memproyeksikannya keseluruh penjuru jagad raya ini. Dengan tulisanku, dengan puisiku, maupun dengan lagu-laguku. Ataupun bahkan dengan semangat cinta itu aku akan bisa antusias mengerjakan segala sesuatu. Bukankah konsep cinta yang ‘memancar’ seperti itu yang diajarkan agama? Bukankah ‘Amal’ itu adalah manifestasi cinta pada Tuhan? Suatu tindakan yang lahir karena Khouf dan Roja’ pada Tuhan. Aktivitas yang muncul karena landasan ‘Takut’ dan ‘harap’ atas kasih sayang Tuhan.”
Aku terdiam. Aku termenung sejenak. Diam-diam aku bergumam ‘dahsyat juga pemahaman Irfan ini..’ Aku seperti tersadar bahwa cara berpikirku yang Materialis ini rupanya telah tersesat jauh. aku rupanya telah terperosok dalam pemahaman “materialis’ seperti yang dimaknai banyak orang. Bukan lagi berpikir berdasarkan ‘kenyataan’, tapi sudah menjelma menjadi bagaimana mendapatkan ‘materi’. Berpikir bagaimana mendapatkan sesuatu yang aku inginkan. Apapun caranya! Aku diam-diam telah terjebur dalam ide ‘menghalalkan segala cara’ ─ meskipun aku belum pernah melakukannya. ‘Astagfirulloh…!’. Aku rupanya aku telah mengkhianati seruan-seruanku dalam forum-forum diskusi dengan kawan-kawan organisasi.
“yang harus kalian cam-kan sejak dini adalah bagaimana kalian bisa menghargai, menikmati dan menyetubuhi proses dialektika kalian bergelut dengan realitas. Jangan sekali-kali kalian memburu hasil! Karena itu hanyalah dilakukan oleh seorang pecundang yang naïf! Proses, dengan sendirinya akan menentukan sejauh mana sebuah hasil bisa diraih. Kalau proses kalian berkualitas, kalian pasti akan mendapatkan hasil yang berkualitas pula. Dari situlah kalian akan menemukan jiwa-jiwa yang memancar. Kalian akan menjadi nilai itu sendiri. Kemudian tindakan-tindakan kalian akan memberi manfaat pada orang lain, pada alam dan seluruh umat manusia. Hasil, memang seringkali tidak seperti yang kita inginkan sebelumnya. Karena ia memang bukan buah dari pikiran kita. Ia hadir sebagai Kristal dari materi-materi yang kita negasikan. Dan yang pasti, ia akan memberi manfaat bukan hanya pada dirimu sendiri. Bu kan hanya pada rakusnya kepentinganmu. Ia akan memancar menjadi rangkaian karya.”
Huff… ya Alloh.. aku menekan kepalaku dengan kedua tanganku. Sambil bersandar pada gawang pintu kamar aku berselonjor lunglai. Aku seakan tak mampu menatap sekelilingku. Sampah-sampah makanan dan buku-buku yang berserakan seolah-olah berkumpul membentuk barisan demonstran yang berteriak-teriak mengutukiku. Aku menyadari bahwa semenjak kehidupanku yang kacau akhir-akhir ini, aku telah kehilangan kendali. Aku seringkali berpikir mekanis. Aku sering tergiur keinginan-keinginan sesaat. Bahkan beberapa kali terbersit rencana-rencana culas. Aku tiba-tiba merasa menjadi orang yang sama sekali tak berguna. ‘Sial! Masalah cinta saja aku nggak ngerti..bagaimana akau akan membangun sebuah peradaban?” aku bergumam lirih. Cicak-cicak di dinding yang berkejar-kejaran dengan pasangannya seolah ngece aku. Mereka seolah memamerkan indahnya sebuah kemesraan. Mereka seolah menunjukkan padaku arti berbagi. Mereka seolah membelalakkan mataku bahwa dengan cinta waktu bisa ditundukkan. Siang maupun malam adalah sama. Tak ada saat istirahat untuk melayani ‘sang cinta’. Pergumulan kemesraan untuk selalu melayani seolah membuat hidup selalu bergairah.
Aku berjalan menuju pintu depan. Dengan perlahan, kubuka pintu kontrakan yang sudah agak rapuh itu. Kuambil wadah tembakau dari plastik kresek hitam yang sejak tadi tergeletak mengganjal pintu.  Perlahan rokok Lintingan telah terselip dijemariku. Kepulan asapnya yang kadang kuhembus keras, memecah keheningan dini hari. Seiring anganku yang terus menerawang kegelapan malam. Segelap gambaran hidup dan cita-cintaku dimasa depan.
®®


Saturday, August 28, 2010

Sayang; Presidenku SBY..


Sampai aku menulis ini, berita seputar kecaman terhadap Malaysia masih menyesakkan halaman-halaman Koran. Komentar-komentar di dunia maya pun tak kalah riang memeriahkan. Laksana pawai 17an, demo-demo pun digelar. Bendera Malaysia dibakar dimana-mana. Para pejabat banyak memberi sambutan. Ada walikota yang ikut geram. Ada anggota DPR ─yang entah karena motivasi apa ─ juga ikut mengecam. Yang menarik, ulah aktivis LSM yang melempari kantor kedutaan besar negri jiran tersebut dengan kotoran. Tingkah ini kemudian membuat gerah penguasa negeri tetangga tersebut. Mereka membuat fatwa melarang warganya untuk berkunjung ke Indonesia. Dan dengan ekspresi yang, entah takut atau penuh penghormatan sedalam-dalamnya, presiden kita: yang terhormat, Susilo Bambang Yudoyono hanya mampu mengucapkan “kita akan melakukan tindakan yang bijaksana”.
Sebenarnya, konflik  ─bulan ini─ dengan Malaysia yang diawali kejadian 13 agustus lalu bukanlah barang baru lagi. Bukan hal aneh pula jika kemudian muncul tanggapan yang beraneka ragam dari banyak pihak. Biasanya juga seperti itu. Dan, kita sebagai orang kecil sudah bisa menebak ending nya nanti kayak apa; menguap seperti kentut! Setelah masalah klaim berbagai produk budaya yang menggemparkan beberapa waktu sebelumnya, memang bagiku penangkapan anggota DKP Indonesia oleh polisi Malaysia itu cukup menggelikan. Bayangkan aja; polisi nangkap maling, eh.. polisinya malah ditangkap. Lha ini yang maling yang mana? Lucu memang. Tapi, ya inilah negeri kita ditangan Bapak presiden SBY yang terhormat.
Kembali ke masalah demonstrasi diatas, saya jadi teringat kasus 47 tahun yang lalu. Dimana para mahasiswa Malaysia melakukan demonstrasi Anti-Indonesia dan menyerbu kantor kedubes RI di Kuala Lumpur. Mereka membakar bendera Indonesia, merobek-robek foto presiden Sukarno dan menginjak-injak lambang Negara; garuda pancasila. Jika kita bayangkan, kejadian waktu itu mungkin sama dengan yang sering kita lihat dalam demo-demo masyarakat Indonesia terhadap Malaysia selama ini. Yang berbeda mungkin cuma tanggapan pemerintah kita saja. Atau lebih tepatnya, sikap sang tuan presiden kita. Saya yakin, dari orang-orang tua kita sampai balita di negri ini ─ terutama balita yang tumbuh di masa pemerintahan pak SBY ini, pasti mengenal jargon “Ganyang Malaysia” dan slogan “Go To Hell”. Karena dua kalimat itu selalu menjadi mantra setiap aksi kecaman terhadap Malaysia. Apalagi kalimat yang terakhir: “Go To Hell”, pasti menyertai setiap demonstrasi apapun. Baik kepada Malaysia, Israel bahkan kepada presiden SBY sendiri yang kebijakannya sangat ‘pijaksana-pijaksini’.
Aku tadi agak gemeteran ketika mendapatkan naskah pidato Bung Karno pada 12 april 1963 tersebut. Sekali membaca, daya ‘magisnya’ langsung merasuk kedalam ubun-ubunku. Bulu kudukku tiba-tiba berdiri; merinding. Maklum, selama ini yang aku tahu, pidato presiden itu bikin ngantuk dan menyebalkan; nggak ada chemistry nya sama sekali. Apalagi bagi kaum muda, mendingan nonton sinetron atau ditinggal tidur. Tapi yang ini beda, taste nya terasa banget. Aku yakin, kalian pun tak kan menyangka kalau mantra ‘Ganyang Malaysia’ itu lengkapnya kayak gini:
Kalau kita lapar, itu  biasa
Kalau kita malu, itu juga biasa
Namun, kalau kita lapar atau malu itu karena Malaysia, Kurang ajar!
Kerahkan pasukan ke Kalimantan, hajar cecunguk Malayan itu!
Pukul dan sikat, jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysia keparat itu!
Doakan aku, aku akan berangkat ke medan juang sebagai patriot bangsa, sebagai martir bangsa dan juga sebagai peluru bangsa yang tak mau diinjak-injak harga dirinya.
Serukan, serukan keseluruh pelosok negeri bahwa kita akan bersatu melawan kehinaan ini. kita akan membalas perlakuan ini dan kita tunjukkan bahwa kita masih memiliki gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki martabat!
Yoo.. ayo.. kita… Ganyang..
Ganyang… Malaysia..
Ganyang… Malaysia..
Bulatkan tekad
Semangat kita baja
Peluru kita banyak
Nyawa kita banyak
Bila perlu, satu lawan satu!

Sungguh! Aku yakin tak ada pidato presiden didunia ini ─ setidaknya, selama aku hidup ini ─ yang dahsyatnya seperti itu. Memang, Sukarno ahli pidato. Sukarno adalah orator ulung. Tapi kalau kita perhatikan kalimat-kalimat diatas, itu pasti murni dari pikiran seorang manusia biasa. itu pasti keluar dari mulut seorang anak bangsa. Artinya, sebagai manusia, pasti kita punya perasaan. Sebagai anak bangsa kita pasti memiliki martabat kebangsaan. Karena hal itulah yang membedakan kita dengan binatang ataupun flora dan fauna diberbagai penjuru negeri ini yang sekarang sudah banyak yang punah akibat disikat orang-orang asing. Hanya manusia-lah yang merasa terusik jika harga dirinya diinjak-injak. Hanya anak bangsa-lah yang marah jika kedaulatan bangsanya dilecehkan. Se-pengecut apapun seseorang, kalau ia disakiti pasti akan marah. Apalagi seorang negarawan seperti Sukarno, ia pun pasti akan marah besar jika kedaulatan Negara disikat oleh orang-orang asing. Itulah Sukarno! Sayang, presiden kita sekarang bukan Sukarno. Presiden kita adalah Susilo Bambang Yudoyono. Mungkin ia punya tafsir lain tentang harkat dan martabat kemanusiaan ataupun kedaulatan suatu bangsa. Mungkin ia punya definisi lebih cerdas dari orang awam seperti saya yang mencoba mentafsir-tafsirkan sikap Sukarno diatas.
Tapi apapun tafsir presiden SBY tentang makna ‘Harkat dan Martabat kemanusiaan serta kedaulatan negara’, setidaknya seorang presiden pasti tahu kenapa ia dipilih rakyat. Seorang presiden harusnya tahu kepada siapa ia bekerja. Untuk itu, Soekarno pun mengerti kalau sebuah kekuasaan tak bisa dibangun lewat penindasan. Baik penindasan suatu bangsa terhadap bangsa lain, maupun penindasan penguasa kepada rakyatnya sendiri. Dan ia juga tahu kalau bangsa tak boleh bersimpuh di hadapan kapitalisme. Karena itulah, diberbagai pidatonya ia mengecam keras keberingasan imperialisme dan kapitalisme yang dilakukan oleh Amerika dan Inggris. Alih-alih menolak bantuan dari gerombolan kapitalis tersebut, dengan gagah ia berucap “Go to Hell Amerika dan Inggris..!” sebuah ucapan yang gemanya masih terdengar sampai saat ini. sebuah mantra yang sering kita dengar dari para demonstran. Bahkan sekarang ucapan ‘Go to Hell’ itu ditujukan buat sang penguasa negri ; Buat Bapak presiden Susilo Bambang Yudoyono yang terhormat. ironis!
Bagi Sukarno, ungkapan ‘Go to Hell’ itu bukan sebatas arogansi seorang penguasa negri yang saat itu memang punya pamor kuat dimata dunia. Tapi ucapan itu terlontar karena ia tahu betul bahwa pihak kapitalis hanya pura-pura saja memberikan dana bantuan, dan hakekatnya mereka ingin menggerus kedaulatan negri ini. mereka ingin menancapkan kuku-kuku berdarahnya atas nama modal dan investasi. Maka tak heran, jika ucapan ‘Go to hell’ itu oleh Sukarno juga ditujukan kepada Malaysia yang mendukung kepentingan kapitalis tersebut. Sayang, presidenku bukan sukarno; presidenku SBY. Dan aku mungkin terlalu awam untuk berpikir rumit seperti SBY yang harus memerlukan waktu cukup lama untuk melakukan sesuatu. Tapi setidaknya dengan mudah aku bisa memahami arti kedaulatan bangsa dengan mempelajari sepak terjang Sukarno dan para pejuang semasanya. Ah, mungkin presidenku, bapak SBY  yang terhormat pasti terlalu repot untuk sekedar membaca ulang gagasan-gagasan  bersejarah tersebut. Proyek-proyek terorisme mungkin dianggap lebih menguntungkan daripada perampokan-perampokan korporasi asing atas sumber daya alam negri sekeping syurga ini. Penangkapan Abu Bakar Ba’asyir mungkin merupakan tindakan yang lebih aman daripada ngurusi makar dan gerilya OPM ataupun RMS. Apalagi sekedar pelecehan yang dilakukan oleh Malaysia. Apalagi sekedar klaim tentang Reog yang selama ini memang tidak pernah di support eksistensinya di negri sendiri. Atau juga produksi Batik yang justru dengan sengaja dicarikan pesaing tekstil Cina.
Memang, Sukarno tidak didampingi oleh wakil presiden yang pintar bergaul dengan para pemodal asing. Ia bersama Hatta, yang tidak pernah memimpin Bank Indonesia. Tapi sebagai orang yang mengerti tentang ekonomi, Hatta ternyata juga paham arti sebuah Kedaulatan. Bahkan rumusannya tentang kedaulatan sebuah bangsa ─ saya kira─ tak lekang jika diterapkan zaman sekarang ini. Baginya: “Kedaulatan itu, tak dapat diubah dan dibagi, karena ia adalah persatuan bagi rakyat….karena itu kedaulatan kita harus bersendi pada sifat keumuman yang menjadi tiang persekutuan…sehingga tak ada negeri yang boleh jadi besar dan makmur, kalau rakyatnya tiada mengetahui dirinya sendiri atau tiada merasa kedaulatanya”. Mungkin atas dasar prinsip kedaulatan itulah Hatta kemudian membuat gagasan ekonomi koperasi. Sebuah sistem perekonomian yang mengharamkan penghisapan satu orang atas lainnya. Sayang, konsep koperasi-nya Hatta ini pun juga telah dimakan rayap layaknya buku-buku SD saya dulu yang memuat tentangnya.  Saat ini, koperasi memang banyak menjamur di desa-desa dan pasar-pasar, tapi bukan koperasinya Hatta. Berdasar beberapa keluhan tetangga-tetangga saya “…koperasi itu tak ubahnya bank plecit di pasar-pasar. Bahkan lebih parah lagi”.
Wajar.. nasib Kedaulatan Bangsa yang mereka gagas saja sudah tergadaikan entah kemana, apalagi sistem ekonominya? Pastinya bapak SBY lebih percaya kepada nasehat-nasehat IMF dan Bank Dunia daripada gagasan-gagasan para pendahulu bangsa tersebut. Meskipun semua orang disemua Negara mengecam kebohongan mantra-mantra Globalisasi yang mereka gulirkan, tampaknya presiden kita lebih suka ‘mengambil posisi aman’ dalam mensikapi hal tersebut. Jangankan menolak dan mengkritisi, ibaratnya negri ini diminta aja ia akan memberikannya. Dengan menghela napas panjang sambil menyeka keringat yang bercucuran, mungkin dalam hati ia akan berucap “yowes lah.. sabar..”. Sebagaimana ia begitu ketakutan dan gemeteran ketika George W Bush yang datang ke Indonesia. Presiden amerika yang dinegrinya sendiri aja nggak pernah di hormati itu. Sekali lagi, sayang; Presiden kita SBY...
Kadang, saya memimpikan untuk tinggal di negeri yang punya pemimpin pemberani seperti Iran. Ahmadinejad, seolah ia mengingatkan kembali keberanian Sukarno melawan Amerika. Ia seolah membelalakkan mata dunia bahwa kedaulatan Negara harus dipertahankan dengan nyali. Mungkin postur tubuhnya memang tidak ‘Gantheng Gedhe dhuwur’ seperti presiden SBY. Tapi ia tahu bahwa mengurus negri bukan dari ‘Tinggi-Gedhe’ nya badan, melainkan seberapa besar nyali yang dimiliki. Atau juga di negri yang di pimpin oleh Hugo Chaves maupun Evo Morales itu. Venezuela dan Bolivia seolah-olah mengerti apa yang menjadi ajaran Bung Hatta dulu. Konsep-konsep koperasi yang di negri penggagasnya sudah dicampakkan ke tong sampah, ternyata disana tumbuh subur menyuburkan kesejahteraan rakyat. Memang Chaves dan Morales bukan mantan Gubernur Bank seperti wakil presiden kita yang sopan itu. Tapi ia tahu bahwa mensejahterakan rakyat tidak cukup dengan ‘mesam-mesem’ didepan rakyat dan patuh kepada asing. Tapi hidup sederhana dan bikin kebijakan yang pro-rakyat kecil. Sekali lagi sayang, negeri-negeri itu jauh dari sini. Jangankan untuk cari suaka disana, untuk makan tiap hari aja aku kesulitan, karena yang bisa dilakukan oleh presidenku hanyalah menaikkan harga apapun; kecuali harga diri dan kedaulatan bangsa.
Sering aku tu bertanya-tanya, sebenarnya mikir nggak sih Presiden kita itu? nasib rakyat seolah dicincang-cincang begini... Hidup didalam negri tiada arti. Kerja mati-matian nggak bisa mencukupi anak istri, lari menjadi TKI diluar negri pun banyak yang tidak digaji, bahkan tak jarang yang mati. sialnya lagi, pemerintah seolah tidak pernah mau mengerti. Aku membayangkan, sebenarnya, jika  presiden kita itu mau berbuat sesuatu yang agak berarti, ia memiliki segalanya: bayangkan aja, kita tentu masih ingat betapa dukungan rakyat tertumpah ruah kepadanya saat ia terpilih kedua kalinya pada pemilu yang lalu, dukungan birokrasinya kuat; partai-partai yang ada selalu merapat padanya, senjata militer semakin canggih; detasemen yang cukup terlatih, belum lagi militer sipil yang ia bentuk dimana-mana. Aku yakin bin percaya, jika ia menggelontorkan suatu kebijakan, orang-orang di sekelilingnya pasti mengiyakan apapun yang ia putuskan. Aku pernah lihat di TV, bagaimana juru bicaranya membelanya mati-matian ketika banyak kritik datang menyerbunya; mirip sekali dengan nabi yang membela Tuhannya. Ia memberikan data, memberitahu tentang kemajuan nasib rakyatnya dan seolah-olah yang dilakukan tuan presiden telah mencukupi, dan kita patut berterima kasih kepadanya. Nggak salah sih, cuma keterlaluan aja!
Aku memang nggak ngerti tentang bagaimana mengurus negeri. Aku bukan ilmuwan atau politisi. Aku hanya seorang anak negeri. Jika kau Tanya solusi, jelas hal ini bukan bidangku. Tapi setidaknya, dari bekal baca buku, nonton TV ataupun dengar-dengar cerita teman-teman yang anak kuliahan, dari tokoh-tokoh diatas bisa disimpulkan bahwa menegakkan kedaulatan sebuah negri hanya membutuhkan ‘Nyali dan konsekuensi’. Sebagaimana kata Tan Malaka “Senjata yang paling utama yang dimiliki para pejuang adalah keyakinan dan konsekuensi!”.  Tapi sayang, presiden kita bukan tan Malaka, presiden kita bukan pejuang; presiden kita adalah SBY!

Monday, September 7, 2009

Kepada Rakyat Hindia Belanda Yang Terindas (Surat dari Kaum Revolusioner)


Dua hal untuk membuat revolusi; massa yang tidak puas
dan suatu elit yang berkepala batu
(Chalmers Johnson)
            Aku tak percaya kalian bisa meruntuhkan kekuasaan yang busuk. Bahkan aku tidak yakin kalian punya nyali untuk membangkang terhadap setiap kebijakan yang menindas. Hampir semua modal kalian habis direbus oleh rasa takut dan cemas. Takut akan kelaparan membuat kalian jadi manusia yang menumpuk-numpuk laba. Tanah rakyat mana lagi yang akan mereka  sita untuk membangun pusat perbelanjaan, hotel, lapangan golf, perumahan mewah atau tempat hiburan. Apa yang sudah kamu lakukan terhadap penggusuran yang tiada henti, kecuali hanya melakukan demonstrasi! Cemas akan kemiskinan membuat kalian begitu pongah untuk menaikkan harga apapun dan menjual semurah-murahnya kekayaan alam yang kalian miliki. Tunjuk kepada kami mana kekayaan alam yang masih dimiliki oleh rakyat: hutan, batu bara, minyak, gas alam hingga udara sekalipun mereka juali. Menjijikkan melihat mereka bisa berjabat tangan dan sempat-sempatnya untuk tersenyum ketika meminta tambahan hutang luar negeri. Apa yang bisa kalian lakukan, wahai saudaraku yang mengaku aktivis dan rakyat merdeka?
            Aku hampir tak percaya ketika kalian hanya diam menyaksikan para anggota parlemen yang dengan pongahnya menaikkan gaji. Aku hampir sulit menerka dibuat dari ‘bahan’ apa perasaan dan jiwa kalian: ketika ada antri BBM mereka hanya bilang, beli karcis bioskop aja antri apalagi BBM; ketika ada kenaikan gas elpiji cukup katakan, kalau ndak kuat beli ya ndak usah beli. Apa yang kalian lakukan mendengar pembicaraan yang ‘kotor dan dusta’ ini? Seorang anak muda dari partai yang mengaku kumpulan orang-orang bersih, ketika BBM diubah harganya dan partainya setuju, anak muda ini dengan gampang berkomentar: ini politik bung! Hebat sekali anak muda ini mendefinisikan politik! Politik baginya: mana keputusan penguasa yang menguntungkan partai kita dukung walau itu merugikan rakyat. Anak muda yang tampaknya tak pernah baca sekalipun risalah politik yang ditulis oleh Imam Khomeini hingga Nicollo Machiavelli. Saya duga ia pun tidak kenal dengan dua nama itu. Saya yakin ia susah membedakan mana rakyat dan mana konstituen partai. Mengapa kebodohan dan sikap naif begitu cepat menyebar di pundak para politisi muda yang lebih suka memakai dasi itu? Dan anak muda itu begitu cepat menjadi tua dan bodoh dalam memahami realitas politik. Apa yang bisa kalian lakukan melihat politisi tolol semacam ini?
            Makanya aku tak percaya anak-anak muda disini bisa melawan. Otot-otot kekar itu hanya bisa digunakan untuk menjadi tenaga keamanan. Mengamankan perusahaan atau mengamankan yang membayar. Kalian bisa sadis memukuli sesama teman yang dituduh komunis atau menjadi pengikut aliran sesat. Mulut kalian begitu gampang mencaci tiap orang yang tidak tertib atau menganggu keindahan. Mulut yang mahir berdebat itu hanya bisa digunakan untuk kampanye dan berbohong. Otak kalian yang berisi banyak teori itu kemampuanya sekedar meng- analisis dan menebar angket. Orang miskin dan rakyat kecil kalian jumlahkan, lalu dibuat grafik kemudian jadilah kesimpulan. Ketampanan dan kecantikan yang kalian miliki hanya berharga ketika meng-iklankan produk sabun, sikat gigi, shampo, odol, minuman penyegar, obat sakit perut dan pengharum bau badan. Jiwa-jiwa muda yang harusnya berani, kreatif dan berpihak telah layu menjadi makhluk yang gampang di-apakan apa saja: asalkan dibayar! Pesan apalagi yang bisa kami teriakkan pada kalian, kaum muda yang telah patah nyalinya dan bebal empatinya. Wasiat apalagi yang bisa dituliskan pada anak-anak muda yang bisanya hanya berpikir: ada-tidakkah ketombe di rambutku?
            Jika kau tanya apa revolusi bisa ditegakkan dengan teori? Maka jawabku teori-pun kamu tidak miliki. Ilmuwan yang sibuk seminar dan pangkatnya sebagai staf ahli hanya bisa menjadi budak penguasa. Alibi mereka macam-macam: saatnya masuk ke gelanggang, waktunya kebijakan kita yang pegang, ini sekedar taktik untuk memenangkan kepentingan kita. Itu hanya dalih saudaraku! Pada dasarnya kebutuhan mereka hanya satu: mendapat jabatan, uang dan kekayaan. Sisa yang lain kemudian hanya mempraktekkan demokrasi dalam pentas: pelatihan, worskhop, training atau proyek pengorganisiran. Coba bayangkan: jutaan penduduk negeri ini yang bisa mengenyam pendidikan tinggi tapi tak satupun karya intelektual besar lahir dari sana. Bayangkan, berapa banyak LSM yang dialiri dana hingga milliaran rupiah tapi tak satupun yang bisa membawa perubahan besar. Kutanya kalian orang yang mengaku sebagai kaum cendekiawan: teori perubahan sosial apa yang kalian bisa tawarkan kepada jutaan rakyat yang kini jatuh miskin. Kutanya kalian aktivis LSM: berapa banyak uang yang sudah kamu dapatkan dan apa yang mampu kamu bisa ubah dari realitas sosial yang kian membusuk ini? Hanya dengan bilang bahwa demokrasi perlu ditegakkan itu sama halnya dengan memberi khutbah buat orang yang lapar. Hanya dengan bilang pendidikan itu harus diubah methodologi sama halnya dengan menggarami air laut. Masalahnya ada di dalam diri kalian, yang malas dan begitu memuja kekayaan, kelompok dan popularitas. Masalahnya ada dalam organisasi kalian yang selalu bergerak kalau ada aliran uang. Masalahnya ada dalam proses kaderisasi yang tidak disiplin dan saling mencaci. Masalahnya ada dalam struktur gerakan kalian yang gemuk dan tanpa imajinasi! Masalahnya mungkin, kalian terlalu lama bersekolah dan lupa bahwa tugas pendidikan itu membebaskan rakyat, bukan membebaskan diri kalian sendiri!
            Kau bilang kita punya sistem yang demokratis saat ini dan itu merupakan modal besar untuk perubahan. Saudaraku jangan sesekali kalian dikelabui oleh slogan dan kata-kata bijak. Ingatlah saudaraku antara khutbah dan tipuan kini batasnya tipis sekali! Kemaren kalian ramai-ramai ikut Pemilu dan foto para penguasa itu kalian puja-puja. Kini orang yang fotonya kalian usung itu telah memberikan apa untuk kehidupan sehari-hari? Orang yang kalian dulu bela habis-habisan dan kaos yang bergambar dirinya kalian pakai itu telah menyumbangkan apa bagi pendidikan anak-anak kalian? Memang Demokrasi tidak bisa memuaskan semua orang, tapi tak bisakah demokrasi melepaskan kalian dari belenggu derita yang sudah melekat puluhan tahun? Tak mampukah demokrasi itu memberikan lapangan pekerjaan, pendidikan dan kesehatan yang berkualitas untuk kalian. Hidup memang butuh kesabaran, tapi jangan sampai kalian tidak bisa membedakan, antara sabar dan rasa takut! Kemenangan-kemenangan kecil kebebasan memang patut disyukuri tapi jangan sampai kalian melupakan pertanyaan-pertanyaan dasar yang menyangkut hidup kalian saat ini. Bagaimana pendidikan anak-anakku di masa depan? Pekerjaan apa yang layak untuk mereka di masa mendatang? Kalau anak istriku sakit bagaimana aku yakin dapat perawatan tanpa terkena beban biaya yang mahal?
            Saudaraku jangan mudah terpesona oleh gemerlap kata-kata yang menyuruhmu bersabar. Kini ada banyak orang yang tidak sekedar menjual barang tapi juga memperdagangkan firman-firman Tuhan. Mereka pintar sekali menggunakan ayat-ayat Tuhan untuk menentramkan hati panas kalian. Cerdik sekali mereka pilah-pilah firman Tuhan: mana ayat yang tepat untuk mengutuk para pemberontak dan mana firman yang memuja kebijakan yang culas. Revolusi sesungguhnya bisa meletup kalau rohaniawanya mempunyai nyali. Berbuat baik saja tidak cukup tapi harus dilandasi oleh keberanian. Agama tegak bukan hanya oleh kata-kata dan isak tangis, melainkan juga pengorbanan dan kerelaan untuk melawan. Tidak ada utusan Tuhan yang tidak berkeringat darah. Sejak Ibrahim hingga Muhammad agama itu besar karena para pengikutnya tidak hanya mempraktekkan kesederhanaan hidup tapi juga berani memberontak melawan kezaliman. Partai yang mengaku isinya orang baik di tengah sistem politik yang cacat sama halnya dengan partai yang berisi komplotan bandit. Jangan lupa, korupsi haji membuat kita kemudian disadarkan dengan kesimpulan dasar: bahwa orang baik di tengah timbunan uang yang tanpa kontrol bisa terjerembab jadi orang jahat yang penuh alibi!
            Saudaraku yang kini sedang susah. Tempaan kenyatan apalagi yang bisa kamu terima dengan tabah: setelah harga bensin melonjak naik, setelah harga makanan ikut terangkat, setelah kekayaan alam dikuras habis, setelah gaji para penguasa naik berlipat-lipat. Sedang kalian melihat betapa koruptor yang disidang di pengadilan itu duduk tanpa malu, bahkan ada pula yang membelanya dengan antusias; melihat di televisi acara dipenuhi oleh ajakan untuk terus tertawa terbahak-bahak; melihat media menyiarkan tulisan para ilmuwan yang begitu dingin dan tidak berpihak. Dan betapa memalukannya kalian: berdesak-desakan untuk mendapat uang Rp 300 ribu, membunuh dan memukuli sesamanya yang hanya mencuri ayam, berduyun-duyun menjadi kumpulan massa yang berteriak setuju dan bertepuk tangan. Kalian seperti kumpulan makhluk yang sudah hilang harga dan kehormatanya.  Saudaraku! Itu bukan rakyat yang dulu hendak dimerdekakan oleh Soekarno, oleh Hatta, oleh Haji Agus Salim, oleh Tan Malaka atau oleh Sjahrir.
            Tidak bacakah kalian sejarah yang berkisah tentang para pejuang itu? Lupakah kalian bahwa mereka dulu menentang kolonialisme, bukan saja karena kolonialisme itu membawa perbudakan melainkan kolonialisme itu meng-abadikan diskriminasi. Hanya yang punya uang dan jabatan dihargai oleh kolonialisme. Hanya yang punya kedekatan dengan para penguasa kolonial yang mendapat hak-hak istimewa. Soekarno menentang itu dengan meluapkan banyak pidato pembebasan. Hatta menolak itu dengan mengajari rakyat melalui tulisan-tulisan pembebasan. Haji Agus Salim memutuskan untuk menggerakkan organisasi Sarekat Islam. Sedang Tan Malaka mendirikan pendidikan untuk rakyat. Sjahrir berperan dalam menghidupkan pandangan tentang kemanusiaan. Pesanku sederhana: Warisilah keberanian mereka untuk merintis perubahan dan meledakkan revolusi. Warisilah prinsip-prinsip dasar yang akan menuntun kalian untuk menjadi bangsa yang bermartabat. Itu kalau kalian masih percaya bahwa diri kalian rakyat merdeka bukan budak!! Ingat-ingatlah kata seorang pejuang kemerdekaan kita yang masih belia, Mas Marco Kartodikromo: Sungguh mati, selama kamu, rakyat Hindia, tidak punya keberanian, kamu pasti akan selalu diinjak dan disebut sebagai seperempat manusia! Saudaraku:  Revolusi bermula dari nyali! Perubahan berangkat dari keberanian!
Salam