Wednesday, January 23, 2013

AKU TAK MAU DISURUH-SURUH!

Entah aku agak enggan tiap berangkat ke sekolah. Disana selalu saja sama yang kulihat. Baju seragam merah putih, pelajaran yang harus dihapal dan guru yang suka sekali menyuruh. Persis seperti ibu yang tiap kali aku bangun lebih dari jam enam selalu saja dimarahinnya. Ibu bilang anak rajin harus bangun pagi. Ibu selalu menyuruhku meletakkan baju kotor di keranjang cucian, menyikat gigi sebelum tidur, menonton televisi tidak boleh lama-lama dan kalau makan harus dihabiskan. Menyuruh juga jadi kebiasaan ibu guruku. Aku disuruh mengejarkan tugas yang aku sering tidak suka. Dimintanya aku untuk selalu duduk rapi dan mendengarkan semua yang dikatakan oleh ibu guru. Ibu guru menyebut itu namanya pelajaran. Pelajaran itu banyak sekali dan membingungkan. 
Ibu guru bilang kalau hujan itu terjadi karena uap air yang menggumpal. Padahal aku tahu hujan itu terjadi karena raksasa bersedih kemudian meneteskan air mata untuk memberitahu pada semua orang. Raksasa sedih karena tidak bisa menangkap timun emas. Timun emas kata nenek adalah seorang anak yang lahir dalam buah mentimun pemberian raksasa. Waktu timun emas jadi anak seusiaku, raksasa itu meminta ibunya untuk menyerahkan Timun Mas agar dijadikan santapan makan. Timun emas lari dan raksasa itu tenggelam karena dilempar terasi. Ibu guruku tidak suka dengan cerita raksasa dan kalau kubilang hujan terjadi karena raksasa bersedih, ia memarahiku.

Lalu ibu guru juga bilang kalau bangsa ini dulu pernah dijajah. Aku tidak tahu kenapa dan apa artinya dijajah. Di buku pelajaranku penjajah itu digambarkan orang yang punya cambuk dan topi yang lucu. Topi itu diatasnya datar tapi ujungnya lancip, dengan tubuh yang jangkung. Di gambar lain aku lihat seorang membawa cambuk memukul-mukul seorang yang membawa-bawa karung. Kata ibu guru itulah penjajahan. Aku tidak suka gambar itu makanya aku selalu mencoret-coret gambar itu dengan crayon merah dan coklat. Ibu guru selalu saja marah kalau buku pelajaran itu aku warnai. Buku pelajaran itu untuk dibaca tidak diwarnai, begitu katanya.

Ibu guru sangat suka sekali meminta teman-temanku membaca buku pelajaran. Isinya menjemukan dan menyebalkan. Sampulnya tak ada yang bergambar menarik. Kalau ada gambar kereta selalu dibawahnya rel hitam. Jika ada mobil selalu sama dengan mobil di jalan yang suka memacetkan jalan. Aku padahal ingin kereta itu bisa tenggelam dalam air kemudian bisa terbang tinggi ke atas. Aku sebenarnya mau mobil yang bisa mengecil sehingga tidak bikin jalan jadi macet. Tiap gambar mobil aku beri sayap selalu saja ibu guru memarahiku. Ibu guru bilang sampul buku itu susah bikinya jadi jangan dirusak warnanya. Aku pikir itu tidak merusak tapi membuat gambar itu jadi lebih bagus.

Aku sering bosan membaca kalimat yang ada dalam buku pelajaran. Aku yakin yang menulis pasti mukannya seperti bapak guru matematika yang tidak pernah senyum. Bapak guru itu suka sekali angka dan mengajari kami dengan teriakan yang nyaring. Mereka bilang kalau kami tidak bisa menjawab pertanyaanya itu artinya kami bodoh. Kalau bodoh tidak naik kelas. Kalau bodoh kami harus berdiri di depan kelas lama sekali. Bodoh itu kata yang sering diucapkan kalau kami tidak bisa menjawab perkalian. Bapak guru sering bikin soal yang aku tidak sukai, membeli buah beberapa biji kemudian membayar dan berapa kembaliannya. Berapa kembaliannya itu yang harus kami jawab.

Aneh sekali bapak guru memberi contoh soal. Kami diminta untuk mengurut bilangan, mengkalikan dan membagi. Ia tak pernah beritahu padaku kenapa angka 1 berbeda bentuknya dengan angka dua. Mengapa garis lurus itu suka dibaca satu tapi juga kadang dibaca i. Tiap kali kutanya yang kudapat hanya perkataan ‘sudah kamu kerjakan saja soal yang ada di halaman itu’ Bapak guru tidak seperti nenek yang suka sekali ditanya tentang apa saja. Nenek dapat bercerita tentang raksasa lalu naga yang lidahnya suka mengeluarkan api dan sepatu terbang. Bapak guru tidak senang kalau contohnya aku ganti sendiri dengan sepatu terbang atau pesawat yang berhenti diatas langit. Bapak guru hanya ingin aku menjawab seperti yang diinginkannya.

Yang membosankan tentu pelajaran menggambar. Disuruhnya kami menggambar gunung yang selalu di bawahnya ada jalan berkelok. Di pinggir ada tiang listrik yang kabelnya membujur lurus. Diatas ada langit yang penuh gumpalan awan. Guru menggambarku selalu tidak suka kalau aku membuat gunung itu tidak lancip. Aku suka kalau gunung itu meletus lalu gumpalan awannya ikut meledak dan kemudian jalannya ikut terbang. Guru menggambar itu juga tidak senang jika aku melukis melebihi kertas yang diberikannya. Aku pikir kertas itu terlalu kecil untuk menggambar gunungku yang besar dan luas. Aku selalu bilang sama Bayu kalau menggambar gunung yang kecil nanti akan gampang dikunyah raksasa.

Bayu itu temanku yang tidak suka dengan pelajaran menghapal. Kalau disuruh menyebutkan nama kota ia selalu memberi jawaban berbeda. Jakarta disebutnya kota monster. Kata Bayu disana ada banyak mobil, orang, pesawat yang tidak pernah berhenti. Mereka tidak pernah menyapa bahkan selalu saja bertengkar. Bayu pernah lihat acara televisi tentang orang berantem di sudut kota Jakarta. Bayu lihat juga pamannya yang pekerjaanya hanya ngomong melulu. Pamanya itu tinggal di Jakarta dan sering muncul di televisi untuk sekedar ngomong. Kalau Bayu kutanya apa kerja pamanya, ia selalu bilang kalau pamanya tinggal di kota monster yang penduduknya tidak pernah diam, termasuk pamannya.

Aku suka duduk dengan Bayu karena ia juga tidak senang disuruh. Suatu kali, ibu guru menyuruh Bayu untuk tidak memakai sepatu yang berwarna merah dan itu dijawab oleh Bayu, sepatu merah itu bisa membuatnya terbang. Bayu ingat film Spiderman yang memakai sepatu merah hingga tumit. Bayu suka sekali memanjat dinding sekolah ketimbang berlarian di halaman. Bayu selalu memberitahuku kalau kita bisa panjat tembok nanti kita akan tahu isi langit. Ia selalu bilang padaku kalau sudah besar akan membuat tembok yang tinggi sekali. Tinggi dan bisa dipanjat oleh semua anak yang ingin tahu kenapa langit bisa mendung dan dimana matahari bersembunyi kalau malam hari.

Kalau ditanya ibu guru apa pekerjaan ayahnya, Bayu selalu bilang kalau ayahnya itu seekor kelelawar. Kelelawar yang terbang di malam hari untuk menggigit siapa saja anak yang tidak mau tidur. Bayu sering katakan kalau bulan itu dulunya rumah kelelawar tapi karena kelelawar terus bertambah dan bulan tidak lagi mampu memuat keluarga kelelawar, maka kelelawar mencari tempat yang lebih luas. Malam menjadi rumah buat kelelawar dan itu membuat malam jadi berwarna hitam. Jika ditanya apa pekerjaan ibunya, Bayu hanya diam. Ayahnya selalu bilang kalau ibunya pergi terbang diajak malaikat ke langit diatas sana. Ibu tinggal di surga begitu kata bibinya. Bayu rindu ibunya dan ia ingin sekali membuat tangga yang tinggi agar bisa ketemu ibu di atas langit sana. Kata bapak guru surga itu ada diatas sana.

Aku dan Bayu duduk sebangku. Nomor tiga dari depan. Aku sebenarnya tidak suka dengan bangku yang berjajar lurus ke depan. Yang sehari-hari kulihat hanya punggung Dudung teman yang duduk di depan kami berdua. Dudung kata ibu guru anak baik karena selalu ikut semua perintah. Dudung selalu bersih bukunya dan datang ke sekolah paling dulu. Dudung sisiran rambutnya selalu menyamping dan bau yang keluar dari rambutnya membuat aku dan Bayu bersin-bersin. Kubilang kalau Dudung itu pasti pakai lem yang sering dipakai untuk menambal ban. Lem itu aku yakin kuat sekali rekatannya karena rambut Dudung hitam seperti ban sepeda yang habis dipompa.

Kami tidak suka dengan Dudung yang selalu bilang kalau aku dan Bayu hanya berkhayal. Ia tidak percaya kalau kubilang kelas ini dulunya sangkar ayam raksasa. Bangku-bangku yang berjajar rapi lurus ke depan itu dulu dipakai oleh itik raksasa yang mau belajar melompat. Papan hitam yang sering dipakai oleh ibu guru itu dulu tempat makan anak-anak ayam. Ruangan kelas ini boleh dipakai asalkan bangku dan papan itu tetap berada seperti semula. Kalau diubah pasti ayam raksasa itu akan mengunyah dan menelan kita semua. Pak guru dan ibu guru adalah orang yang dititipi oleh ayam raksasa untuk mengawasi kita semua. Itu yang membikin pak guru dan ibu guru punya kebiasaan menyuruh kami. Mereka menirukan ayam raksasa yang melatih itik-itik berjalan.

Dudung juga selalu mengadukan kami pada ibu guru kalau aku dan Bayu mengunyah permen jika pelajaran dimulai. Aku selalu bilang itu bukan permen tapi obat yang bisa membuat kami tidak bisa diracuni oleh ayam raksasa yang mengintip dari dalam tembok. Aku percaya ayam itu sembunyi di tembok belakang papan. Soalnya kalau kami tidak bisa menjawab soal dari ibu dan bapak guru pasti disuruhnya kami berdiri di depan. Persis berada di depan persembunyian ayam raksasa. Sengaja ibu guru menyuruh berdiri di depan agar ayam raksasa percaya kalau mereka memperlakukan kami persis seperti yang ayam raksasa itu inginkan.

Aku juga bosan di kelas karena lama sekali tinggal di dalamnya. Kalian bisa bayangkan, aku berangkat pagi hari dan pulang sudah menjelang sore. Aku dan Bayu sering mengeluh karena terus-menerus diminta duduk yang rapi. Padahal kami ingin sekali-kali pelajaran dimulai dengan cara kami semua berdiri. Aku dan Bayu pernah sekali berdiri diatas bangku dan bisa melihat papan tulis tidak dengan mendongakkan kepala. Kami berdua seperti raksasa yang bisa melihat semua meja, bangku, lantai, kapur, penghapus seperti melihat kerikil. Aku dan Bayu senang sekali. Tapi ibu guru bilang kami tidak sopan. Anak yang baik seperti Dudung yang duduk seperti semut yang diinjak oleh sepasang sepatu. Diam dan tidak bergerak.

Apalagi kalau hari senen pagi kami harus ikut upacara. Itu betul-betul meyebalkan. Semua orang seperti robot yang bergerak karena aba-aba. Temanku Dudung pernah ditugaskan untuk menaikkan bendera dan ia begitu senang sekali. Kakinya diangkat tinggi-tinggi seperti tentara yang berbaris. Lalu kepala sekolah biasanya ngomong panjang sekali dan semua orang harus diam mendengarkan. Aku sering tidak tahu apa yang dimaksud kepala sekolah dengan kata-kata ‘mencerdaskan’ ‘memantapkan’ ‘mendidik’ dan ia mengulang-ulang kata-kata itu seperti mantra. Dalam kegiatan upacara semua orang yang jumlahnya banyak disuruh oleh satu orang yang teriakaanya kencang sekali. Disuruh berbaris rapi, disuruh istirahat, disuruh balik kanan, disuruh hormat sampai bubar-pun disuruh!

Bukan hanya upacara, pelajaran olah raga juga menyebalkan. Kami selalu disuruh senam mengikuti gerak pak guru. Padahal pak guru itu tinggi badanya jauh lebih tinggi ketimbang teman-temanku. Kami disuruh melompat-lompat yang tinggi seperti pak guru. Lalu disuruh berlari hingga berkeringat. Kenapa sih pelajaran olah raga melulu seperti yang diinginkan oleh pak guru. Aku ingin sekali pak guru bisa mengajari kami bukan berlari tapi memanjat. Aku ingin pak guru jangan hanya mengajari senam tapi juga bersembunyi. Aku dan Bayu percaya jika kami bisa dilatih bersembunyi pasti kelak akan tahu dimana sarang ayam raksasa. Pak guru tak pernah mengajari bagaimana kami bisa melompat tinggi sekali. Aku yakin jika kami bisa melompat tinggi pasti kami bisa mencapai matahari.

Kami selalu saja disuruh. Andai semua pelajaran sekolah itu dikumpulkan dalam satu keranjang, pasti namanya sama: pelajaran diperintah! Kenapa ya? ayah, ibu, bapak guru dan ibu guru suka sekali menyuruh. Tiap ketemu mukaku selalu saja aku dapat perintah. ‘Iman kalau makan harus habis! ‘Iman kalau mandi jangan lama-lama! ‘Iman kamu harus mengerjakan tugas! ‘Iman letakkan sepatu di tempatnya! ‘Iman jangan buang sampah sembarangan! ‘Iman jaga adikmu, ayah dan ibu mau pergi! ‘Iman jangan ganggu temanmu! Aku sampai tidak bisa menghitung berapa kali mereka semua menyuruhku.

Kupikir di jalan raya aku juga sering melihat pengumuman yang menyuruh. Di bawah rambu lalu lintas ada tulisan ‘belok kiri ikuti lampu! Di pasar aku juga melihat kata ‘Dilarang buang sampah sembarangan! Di depan kantor ayah ada kalimat ‘tidak menerima sumbangan dalam bentuk apapun! Di jalan depan rumahku malah ada kalimat serem sekali ‘Ngebut tak pukul! Kalau kutanya pada ayah arti kalimat-kalimat itu, ia hanya tersenyum dan selalu meremehkan jawabanya. ‘Itu karena kita ingin semua berjalan baik dan tertib’ Kalau kemudian kutanya lagi ‘apa sih bersih dan tertib itu? Ayah selalu saja jawab ‘kamu masih kecil, besok kalau naik kelas kamu akan dikasih tahu sendiri oleh ibu gurumu’

Menyiksa sekali dibilang masih kecil. Kalau aku bertanya banyak sering dijawab dengan kata-kata yang ringkas ‘nanti kalau sudah besar, kamu akan tahu sendiri! Aku tidak tahu, kapan aku bisa disebut sudah besar. Jika kutanya ibu, ‘bagaimana aku bisa cepat besar? Ibu selalu bilang ‘makan yang banyak, belajar rajin dan jangan nakal’ Kata-kata itu diulang-ulang hingga aku bosan. Ya aku bosan dengan sekolahku, dengan rumahku dan orang-orang yang tidak pernah meyenangkan jawabannya jika kutanya. Orang-orang yang setiap bertemu denganku selalu saja memberi perintah. Apa anak kecil memang harus terus diperintah?

1 comment:

Unknown said...

bagus sekali..iya,semakin maju jaman aturan juga begitu ya?